Postingan

Bab 7: Di Ambang Simpang Latar: Simpang Empat, Tanjungpandan, Belitung, 1997 I. Siti Yang Pertama Tiba Siti tiba pertama. Ia turun dari ojek di pinggir jalan, membayar dengan uang pas-pasan yang ia pinjam dari Mbok Darmi uang terakhir, uang yang tidak akan cukup untuk kembali, uang yang ia genggam erat sampai telapak tangannya basah oleh keringat. Ojek itu pergi, mesinnya meraung sebentar, lalu menjauh, meninggalkannya sendirian di simpang empat yang sunyi. Debu beterbangan di belakang ojek, mengepul seperti asap, lalu perlahan-lahan turun kembali ke tanah, menutupi jejak ban yang baru saja lewat. Siti berdiri di pinggir jalan, karung kosong di pundak. Ia memandangi sekeliling. Ladang ilalang terbentang luas sampai ke kaki langit. Di musim kemarau seperti ini, ilalang menguning, batang-batangnya kering, berdesah setiap kali angin bertiup. Suara yang mirip tangis, tapi entah tangis apa. Tangis y...
Bab 6: Jalan Panjang ke Simpang Latar: Badau, Parit, Tanjungpandan, Membalong, 1997 I. Nadira Bus yang Membawa Harapan Bus dari Manggar menuju Tanjungpandan lewat Badau sekitar jam enam pagi. Tapi hari itu, bus datang jam setengah delapan. Mogok di perjalanan, kata sopir. Ban bocor. Harus ganti di bengkel pinggir jalan. Nadira sudah menunggu sejak langit masih ungu, sejak ayam belum berkokok, sejak embun masih menggantung di ujung daun kelapa. Ia berdiri di pinggir jalan, tas kecil di tangan, sesekali melirik ke arah kampung yang mulai terlihat dari balik pohon kelapa. Rumahnya tidak terlihat dari sini. Hanya atap-atap seng yang mengilap terkena sinar matahari pagi. Tapi ia tahu, di rumah itu, ibu mungkin sudah bangun. Mungkin sudah menemukan surat di bawah bantal. Mungkin sudah berdiri di pintu, memandang ke arah jalan raya, menunggu anaknya kembali. Ia menggenggam foto ayah di saku. Jari-jarinya menyentu...
Bab 5: Menjelang Keberangkatan Latar: Badau, Parit, Tanjungpandan, Membalong, 1997 I. Nadira Antara Harapan dan Kekhawatiran Malam terakhir di Badau. Nadira tidak bisa tidur. Bukan karena gelisah gelisah sudah lama menjadi teman akrab, sejak ayah pergi, sejak laut mati, sejak perut mulai keroncongan setiap malam. Bukan karena takut takut sudah ia kelola dengan baik, ia simpan di tempat yang tidak akan mengganggu keputusannya. Tapi karena ia ingin menghabiskan malam ini dengan mata terbuka. Ingin mengingat setiap sudut rumah, setiap goresan di dinding, setiap bunyi papan yang berderit, setiap bau yang selama ini ia hirup tanpa sadar. Karena besok, semua itu akan menjadi kenangan. Dan kenangan, ia tahu, adalah sesuatu yang mudah pudar. Seperti foto ayah yang semakin lusuh setiap kali ia pegang. Seperti suara ayah yang semakin lama semakin kabur di kepalanya, meskipun baru empat puluh hari. Ia duduk d...
Bab 4: Ladang Harapan yang Musnah Latar: Membalong, Belitung, 1997 I. Kelekak Hutan yang Menjadi Lumbung Kehidupan Membalong bukan pesisir. Membalong adalah pedalaman tempat hutan masih lebat, ladang masih luas, dan babi hutan masih sering keluar dari semak-semak saat senja. Rumah-rumah di sini bukan rumah panggung di tepi pantai, tapi gubuk-gubuk kayu di tengah ladang, berjarak satu sama lain, dikelilingi pepohonan dan semak belukar. Jalan setapak menghubungkan satu rumah ke rumah lain kadang hilang ditelan ilalang, kadang muncul kembali setelah hujan. Dulu, sebelum tambang datang, sebelum hutan mulai ditebang, sebelum sungai-sungai berubah warna, orang-orang Membalong hidup dari kelekak hutan adat yang menjadi lumbung kehidupan. Kelekak bukan sekadar hutan. Ia adalah supermarket alam tempat segala kebutuhan tersedia. Tidak perlu uang. Tidak perlu berdagang. Cukup mengambil apa yang diperlukan, secukupn...