Bab 4: Ladang Harapan yang Musnah
Latar: Membalong, Belitung, 1997
I. Kelekak Hutan yang Menjadi Lumbung Kehidupan
Membalong bukan pesisir. Membalong adalah pedalaman tempat hutan masih lebat, ladang masih luas, dan babi hutan masih sering keluar dari semak-semak saat senja. Rumah-rumah di sini bukan rumah panggung di tepi pantai, tapi gubuk-gubuk kayu di tengah ladang, berjarak satu sama lain, dikelilingi pepohonan dan semak belukar. Jalan setapak menghubungkan satu rumah ke rumah lain kadang hilang ditelan ilalang, kadang muncul kembali setelah hujan.
Dulu, sebelum tambang datang, sebelum hutan mulai ditebang, sebelum sungai-sungai berubah warna, orang-orang Membalong hidup dari kelekak hutan adat yang menjadi lumbung kehidupan. Kelekak bukan sekadar hutan. Ia adalah supermarket alam tempat segala kebutuhan tersedia. Tidak perlu uang. Tidak perlu berdagang. Cukup mengambil apa yang diperlukan, secukupnya, tidak berlebihan.
Di kelekak, ada ubi liar dan kembili umbi-umbian yang tumbuh di bawah tanah, tidak perlu ditanam, tidak perlu dirawat, hanya perlu dicari. Ketika perut keroncongan dan tidak ada beras, orang masuk ke hutan, menggali tanah, menemukan umbi-umbian itu, membakarnya di atas bara, lalu makan. Rasanya tidak seenak nasi, tapi cukup untuk mengganjal perut, cukup untuk bertahan satu hari lagi.
Di kelekak, ada obat-obatan herbal. Daun-daunan yang direbus untuk menurunkan demam. Akar-akaran yang ditumbuk untuk mengobati luka. Getah pohon yang dioleskan untuk mengusir nyamuk. Orang-orang tua di Membalong tidak perlu pergi ke puskesmas untuk sakit ringan. Mereka cukup masuk ke hutan, memetik beberapa helai daun, merebusnya dengan air, meminumnya, dan sembuh.
Di kelekak, ada buah-buahan segar rambai, cermai, kemunting, jambu air liar, durian hutan yang baunya menyengat tapi dagingnya manis. Buah-buahan itu tumbuh tanpa pupuk, tanpa pestisida, tanpa perawatan. Mereka tumbuh begitu saja, seperti alam sedang memberi hadiah pada manusia yang mau menjaga.
Di kelekak, ada kayu untuk membangun rumah. Kayu besi yang keras dan tahan rayap. Kayu meranti yang ringan dan mudah dibentuk. Kayu-kayu itu ditebang dengan kapak, dipikul ke kampung, dibangun menjadi rumah panggung yang kokoh. Tidak perlu beli. Tidak perlu bayar. Cukup minta izin pada alam, ambil secukupnya, tanam kembali sebagai ganti.
Di kelekak, ada yang bisa dipanen setiap hari sayur-sayuran liar, buah-buahan musiman, umbi-umbian yang siap digali. Ada yang bisa dipanen setiap bulan rotan untuk membuat anyaman, damar untuk menerangi malam, madu hutan yang manis dan kental. Ada yang bisa dipanen setiap tahun kayu untuk membangun rumah, bambu untuk membuat peralatan, getah untuk obat.
Kelekak adalah sistem kehidupan yang sempurna. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak perlu mengeksploitasi alam untuk bertahan. Cukup menjaga, cukup merawat, cukup mengambil secukupnya. Alam akan membalas dengan memberi terus-menerus, tanpa henti, selama manusia tidak serakah.
Tapi zaman berubah.
Rumah Siti tidak besar. Hanya gubuk kayu dengan atap rumbia, berdiri di tengah ladang yang ia buka sendiri. Dindingnya dari bambu yang dianyam rapat, lantainya dari tanah yang dipadatkan, atapnya dari daun rumbia yang kering. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan. Sebuah dipan bambu untuk tidur. Sebuah tungku batu untuk memasak. Sebuah tempayan untuk menyimpan air. Sebuah rak kayu untuk menyimpan piring dan gelas hanya beberapa, itupun ada yang retak.
Di dalam gubuk itu tinggal tiga orang: Siti, Rina, dan Roni.
Rina dan Roni bukan anak Siti. Mereka adalah keponakannya, anak dari kakak Siti satu-satunya kakak perempuan yang ia miliki. Kakaknya bernama Salmah. Suaminya bernaman Umar. Dulu, sebelum semuanya berubah, mereka tinggal di kampung sebelah, tidak jauh dari sini. Mereka juga bertani. Mereka juga hidup dari hutan. Mereka juga punya ladang yang mereka rawat dengan sabar.
Tapi ketika tambang datang dan kehidupan semakin sulit ketika hutan mulai gundul, ketika sungai mulai keruh, ketika ladang-ladang tidak lagi produktif mereka memutuskan merantau ke Jakarta. Seperti banyak orang lain di kampung. Seperti orang-orang yang berharap kota besar bisa memberi mereka kehidupan yang lebih baik.
"Kami cari kerja dulu, Nding. Nanti kalau sudah punya uang, kami jemput Rina dan Roni."
Itu kata terakhir kakak Siti sebelum naik bus meninggalkan Membalong. Siti tidak bisa melarang. Ia tahu kakaknya tidak punya pilihan. Lahan mereka sudah tidak produktif. Sungai di kampung mereka juga sudah keruh. Hutan di sekitar mereka juga sudah gundul. Tidak ada yang tersisa untuk dimakan.
Siti berjanji akan menjaga Rina dan Roni. "Pulanglah, Kak. Aku tunggu."
Kakaknya tersenyum. Senyum yang terlihat lega, tapi matanya sayu. Senyum orang yang tidak tahu apakah ia akan kembali.
Tiga bulan. Enam bulan. Setahun. Dua tahun.
Tidak ada kabar. Tidak ada surat. Tidak ada uang. Tidak ada kepulangan.
Entah mereka masih hidup di Jakarta. Entah mereka sudah mati di tempat asing, tanpa ada yang menguburkan. Entah mereka sudah melupakan Rina dan Roni. Entah mereka sengaja tidak kembali karena malu karena tidak berhasil. Entah mereka terjebak dalam kemiskinan yang lebih parah di kota, tidak pun ongkos untuk pulang.
Siti tidak tahu. Yang ia tahu, ia tidak bisa menunggu lagi. Rina dan Roni lapar. Rina dan Roni kurus. Rina dan Roni sakit-sakitan. Rina dan Roni akan mati jika ia tidak melakukan sesuatu.
Sejak itu, Siti menjadi ibu bagi mereka. Mencuci baju mereka dengan sabun colek. Memasak air untuk mereka setiap pagi. Menjaga mereka ketika demam di malam hari, menempelkan kain basah di dahi yang panas, berdoa dalam diam agar mereka tidak menyusul orang tuanya ke tempat yang tidak diketahui. Menyanyikan lagu tidur untuk mereka ketika malam terlalu gelap dan angin terlalu kencang, ketika suara babi terdengar dari kejauhan dan Rina bertanya dengan suara berbisik, "Makcik, babi itu jahat?"
Siti menjawab, "Babi itu tidak jahat, Nak. Mereka hanya lapar."
Ia bukan ibu mereka. Tapi ia satu-satunya yang mereka punya. Dan ia tidak akan membiarkan mereka mati.
II. Ketika Manusia Lupa pada Alam
Siti masih ingat bagaimana ayahnya dulu berbicara tentang kelekak. Suaranya penuh hormat, seperti sedang berbicara tentang sesuatu yang suci. Matanya berbinar ketika menceritakan tentang hutan yang dulu lebat, tentang sungai yang dulu jernih, tentang babi-babi yang dulu tidak perlu keluar dari hutan karena makanan tersedia cukup.
"Ayah dulu ngajarin, Nding. Setiap tanaman punya tempatnya. Jagung di atas, singkong di lereng, ubi dekat sungai. Tanah kalo dirawat, dia bakal ngasih."
Itu dulu, ketika manusia masih mengerti bahwa mereka bagian dari alam, bukan penguasa alam. Itu dulu, ketika manusia masih tahu bahwa mengambil lebih dari yang dibutuhkan berarti merampok masa depan anak cucu. Itu dulu, sebelum tambang datang.
Tambang datang dengan janji: pekerjaan, uang, kehidupan yang lebih baik. Orang-orang berbondong-bondong meninggalkan ladang, meninggalkan kelekak, meninggalkan hutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Mereka menggali timah dari perut bumi. Mereka menebang pohon untuk membuka lahan tambang. Mereka mengeruk sungai untuk mencari bijih timah.
Mereka tidak peduli bahwa hutan sedang sekarat. Mereka tidak peduli bahwa sungai-sungai berubah warna menjadi keruh kecoklatan. Mereka tidak peduli bahwa ikan-ikan mati dan tidak akan pernah kembali. Mereka hanya peduli pada uang yang bisa mereka dapat hari ini.
Alam tidak membalas kejahatan manusia. Alam tidak marah. Alam tidak menghukum. Alam hanya mati perlahan-lahan. Sungai-sungai yang dulu jernih menjadi keruh, dipenuhi lumpur dan limbah tambang. Hutan-hutan yang dulu lebat menjadi gundul, tanahnya berlubang-lubang bekas galian. Udara yang dulu segar menjadi panas, berdebu, bau besi dan tanah liat.
Dan ketika alam mati, makhluk-makhluk di dalamnya harus mencari cara untuk bertahan hidup. Mereka tidak mengerti moral manusia. Mereka tidak mengerti bahwa manusia mengklaim tanah sebagai milik pribadi. Mereka hanya tahu bahwa hutan yang dulu menjadi rumah mereka sekarang tidak bisa lagi memberi makan.
Mereka keluar. Mencari tempat baru. Mencari sumber makanan baru. Mencari cara termudah untuk bertahan hidup.
Seperti babi-babi yang mulai sering keluar dari hutan saat senja.
III. Babi Bukan Perusak, Tapi Pencari Nafkah
Siti tidak pernah takut pada babi hutan.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat mereka keluar dari hutan saat senja, mencari makan. Kadang hanya satu atau dua, kadang sekeluarga induk dengan tiga empat anak yang berlari-lari kecil di belakangnya. Mereka tidak pernah mengganggu selama tidak diganggu. Babi tidak jahat. Mereka hanya lapar. Sama seperti manusia.
Ayahnya dulu mengajari: babi datang karena makanan di hutan semakin berkurang. Karena pohon-pohon ditebang, karena semak-semak dibakar, karena sungai-sungai dikeruk untuk mencari timah. Babi tidak punya pilihan. Mereka harus keluar dari hutan, mencari makan di ladang manusia. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka juga harus bertahan hidup.
Siti mengerti. Ia tidak marah pada babi. Yang ia marahi adalah manusia yang merusak hutan. Yang ia marahi adalah perusahaan tambang yang datang dan mengambil segalanya tanpa memberi apa pun. Yang ia marahi adalah sistem yang membiarkan alam dihancurkan untuk keuntungan segelintir orang.
Tapi babi-babi itu tidak tahu itu. Mereka hanya tahu bahwa perut mereka keroncongan. Mereka hanya tahu bahwa anak-anak mereka menangis kelaparan. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus mencari makan, di mana pun itu.
Dulu, para petani di Membalong punya cara menghadapi babi. Mereka bergiliran berjaga di malam hari. Membuat pagar dari kayu dan duri. Membakar api di ujung-ubur ladang karena babi takut pada api. Mereka bekerja sama. Karena mereka tahu, tidak ada yang bisa menghadapi babi sendirian.
Tapi itu dulu.
Sekarang, banyak petani yang sudah pindah. Ada yang pergi ke kota. Ada yang kehilangan tanah karena tambang. Ada yang lebih memilih bekerja di tambang daripada bercocok tanam. Ladang-ladang dibiarkan kosong, ditumbuhi ilalang dan semak belukar. Pagar-pagar kayu roboh, tidak diperbaiki. Api-api di ujung ladang tidak pernah lagi menyala di malam hari.
Babi-babi itu tidak bodoh. Mereka belajar. Mereka belajar bahwa manusia di sini tidak lagi bekerja sama. Mereka belajar bahwa tidak ada lagi yang menjaga. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengambil apa pun yang mereka mau, dan tidak ada yang akan menghentikan mereka.
Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka juga harus bertahan. Karena mereka juga punya anak-anak yang harus diberi makan.
IV. Malam Ketika Segalanya Hancur
Malam itu, babi-babi datang dalam jumlah yang belum pernah ia lihat.
Puluhan. Mungkin ratusan.
Siti mendengar mereka dari dalam gubuk. Suara dengusan berat ngik-ngik-ngik yang mengerikan, seperti suara setan yang sedang marah. Suara tanah digali dengan moncong bruk-bruk-bruk seperti orang menggali kuburan. Suara jagung yang diremas dan dilumat krek-krek-krek seperti tulang yang patah. Suara itu seperti petir yang menggeledek di ladang terus-menerus, tak berhenti, tak memberi ampun.
Ia tahu suara itu. Ia sudah mendengarnya sejak kecil. Tapi tidak pernah sebanyak ini. Tidak pernah seganas ini.
Rina terbangun. Matanya yang masih mengantuk tiba-tiba terbuka lebar. Ia memeluk Siti erat-erat, tubuhnya gemetar. "Makcik, babi... babi datang..."
Siti memeluknya. "Diam, Nak. Jangan bersuara. Nanti mereka pergi."
Tapi mereka tidak pergi. Mereka terus merusak. Terus menggali. Terus memakan.
Roni juga terbangun. Ia tidak menangis. Ia hanya diam. Matanya yang besar menatap ke arah pintu gubuk, ke arah suara-suara mengerikan itu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi ia takut. Siti bisa merasakan ketakutan itu dari cara ia menggenggam ujung baju Siti erat-erat, seperti anak yang takut kehilangan, seperti anak yang tahu bahwa satu-satunya yang ia miliki adalah Makciknya.
Siti tidak bisa tinggal diam. Ia harus melakukan sesuatu. Apa pun.
Ia melepaskan pelukannya dari Rina. "Kalian di sini. Jangan keluar. Makcik pergi sebentar."
Ia keluar dengan obor dari kayu kering. Api merambat pelan, membuat bayang-bayang menari di sekelilingnya. Obor itu ia buat sendiri dari dahan kayu dan kain bekas yang dicelup minyak tanah. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah tidak punya waktu untuk gemetar.
Di depan matanya, ladang yang ia tanami selama tiga bulan hancur dalam hitungan menit.
Batang-batang jagung tumbang bergelimpangan, patah seperti tulang-tulang kecil. Ada yang patah di tengah, ada yang tercabut sampai akar-akarnya. Daun-daun hijau yang kemarin masih segar dan berembun, kini tercabik-cabik, berserakan di tanah, seperti kain yang disobek.
Umbi-umbi singkong teronggok di permukaan tanah, digigit lalu ditinggal tidak dimakan habis. Seperti babi-babi itu hanya ingin merusak, bukan makan. Seperti mereka datang bukan karena lapar, tapi karena marah. Atau mungkin karena sudah tidak ada lagi makanan di hutan. Mungkin mereka juga putus asa. Mungkin mereka juga melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup.
Siti berteriak. Melempari mereka dengan batu. Batu-batu itu melayang di udara, jatuh di antara kerumunan babi, beberapa mengenai punggung, beberapa mengenai kepala. Tapi batu-batu itu hanya membuat mereka menggeram sebentar, melengos, lalu kembali lagi.
Seperti mereka tahu bahwa satu perempuan kecil dengan obor dan batu tidak berdaya. Seperti mereka sudah tidak takut pada manusia lagi. Seperti mereka sudah belajar bahwa manusia di sini hanya bisa berteriak, tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia terus berteriak sampai suaranya parau. Sampai obor di tangannya habis. Sampai tangannya lecet karena melempar batu. Sampai ia jatuh ke tanah karena kakinya lemas.
Babi-babi itu tidak pergi. Mereka terus merusak sampai tidak ada yang tersisa. Baru setelah ladang itu benar-benar rata, mereka pergi satu per satu masuk kembali ke hutan, meninggalkan Siti berdiri di tengah ladang yang hancur.
Mereka pergi dengan dengusan puas. Seperti pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya. Meninggalkan Siti tanpa obor, tanpa suara, tanpa apa-apa.
Ia berdiri di sana. Tidak menangis. Hanya memandangi ladang yang dulu hijau, sekarang coklat kehitaman. Tidak ada yang tersisa.
Ia tidak marah pada babi. Ia marah pada manusia yang merusak hutan. Pada tambang yang mengambil segalanya. Pada sistem yang membiarkan alam dihancurkan.
Tapi kemarahan tidak mengembalikan ladangnya.
V. Pagi yang Sunyi Antara Pasrah dan Berjuang
Pagi harinya, ladang itu seperti habis dibom perang.
Batang jagung yang kemarin masih tegak setinggi dada, kini roboh semua, tergeletak di tanah seperti mayat-mayat kecil. Daun-daun hijau yang kemarin masih segar dan berembun, kini tercabik-cabik, berserakan di tanah, berwarna coklat kering. Tanah yang kemarin masih rapi dengan barisan-barisan tanaman, kini berlubang-lubang, bekas moncong babi yang menggali umbi, seperti bekas bom yang meledak di sana-sini.
Bau tanah basah dan getah jagung memenuhi udara, bercampur dengan bau keringat Siti yang masih melekat di tubuhnya. Bau yang tajam. Bau yang mengingatkan pada sesuatu yang hilang. Bau yang tidak akan kembali.
Rina dan Roni keluar dari gubuk. Rina memegang tangan Roni. Roni masih menghisap jempol. Mereka berdiri di depan pintu, memandangi ladang yang hancur. Rina tidak menangis. Ia hanya diam. Roni juga diam. Mereka sudah terlalu sering melihat kehancuran. Mereka sudah terlalu sering lapar. Mereka sudah terlalu sering kehilangan.
Siti duduk di atas tunggul kayu. Tunggul sisa pohon yang dulu ia tebang sendiri untuk membuka ladang. Kayunya sudah kering, retak-retak karena panas matahari. Ia duduk di sana sejak subuh, ketika langit masih ungu dan burung-burung belum mulai berkicau. Ia duduk sampai matahari naik dan mulai menyengat kulitnya. Ia duduk sampai keringatnya bercampur dengan air mata yang tidak pernah jatuh.
Ia tidak menangis. Ia tidak mengeluh. Ia hanya duduk. Memandangi ladang yang hancur. Memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Ia memikirkan ayahnya. Ayah yang dulu mengajarinya bahwa alam memberi jika dijaga. Alam akan mengambil jika dirusak. Dan sekarang, alam sedang mengambil. Bukan karena marah. Bukan karena dendam. Tapi karena ia juga harus bertahan. Karena ia sudah terlalu lama dieksploitasi. Karena ia sudah tidak bisa lagi memberi.
Ia memikirkan hutan. Hutan yang dulu lebat, yang dulu menjadi lumbung kehidupan, yang dulu menyediakan segalanya tanpa perlu diminta. Sekarang, hutan itu gundul. Pohon-pohon besar tumbang, akar-akarnya teronggok ke atas, seperti mayat-mayat raksasa yang mati dengan tangan terentang. Bekas-bekas tebangan dan kebakaran ada di mana-mana. Lahan-lahan kosong yang dulu hijau, sekarang coklat, retak-retak, seperti kulit yang terbakar.
Ia memikirkan sungai. Sungai yang dulu jernih, yang dulu menjadi tempat mandi dan mencuci, yang dulu menjadi sumber air untuk minum dan memasak. Sekarang, sungai itu keruh, bercampur lumpur tambang, berwarna kecoklatan, berbau besi dan tanah liat. Ikan-ikannya mati. Airnya tidak bisa diminum. Tidak bisa digunakan untuk apa pun.
Ia memikirkan kakaknya. Kakak yang pergi ke Jakarta dan tidak pernah kembali. Kakak yang meninggalkan Rina dan Roni padanya. Kakak yang mungkin sudah mati di perantauan. Kakak yang mungkin sengaja tidak kembali karena malu karena tidak berhasil. Kakak yang mungkin sudah melupakan anak-anaknya sendiri.
Siti tidak bisa berharap pada orang yang tidak pasti. Ia harus berjuang sendiri. Untuk Rina. Untuk Roni. Untuk kakaknya yang mungkin tidak pernah kembali.
Ia memikirkan babi-babi itu. Babi yang keluar dari hutan karena tidak ada lagi makanan di dalam. Babi yang mencari makan di ladang manusia karena terpaksa. Babi yang bukan perusak, tapi pencari nafkah untuk diri dan anak-anaknya. Sama seperti dirinya. Sama seperti semua makhluk hidup yang hanya ingin bertahan.
Ia tidak bisa marah pada babi. Yang bisa ia lakukan hanyalah memahami.
Dan memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
VI. Rina dan Roni Alasan untuk Terus Berdiri
Rina, lima tahun, duduk di sampingnya. Mata anak itu masih sembab, merah karena menangis semalaman menangis bukan karena ladang hancur, ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kehancuran itu, tapi menangis karena perutnya lapar, karena ia mendengar Roni menangis, karena ia melihat Makciknya duduk termenung sejak subuh tanpa bicara.
Bajunya kumal, kotor oleh tanah dan air mata. Rambutnya kusut tidak disisir, menempel di dahi karena keringat. Ia memegang tangan Siti dengan jari-jari kecilnya yang kurus jari-jari yang dulu gemulai, sekarang kering dan pecah-pecah karena kekurangan gizi, seperti tanah di musim kemarau, seperti kulit kayu yang tua.
"Makcik," bisiknya. Suara kecil, seperti anak burung jatuh dari sarang, seperti sesuatu yang hampir padam tapi masih berusaha menyala. "Kita makan apa?"
Siti memandang Rina. Wajah anak itu mirip dengan kakaknya. Dulu, sebelum kakaknya pergi ke Jakarta dan tidak pernah kembali. Dulu, sebelum ia ditinggal sendirian dengan dua anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Bentuk matanya sama. Cara ia tersenyum meskipun sekarang ia tidak tersenyum sama. Bahkan cara ia menggigit bibir bawah ketika sedang bingung, sama persis.
Kakaknya tidak pernah memberi kabar. Tidak pernah mengirim surat. Tidak pernah mengirim uang. Tidak pernah kembali. Mungkin ia sudah mati di perantauan, jatuh sakit di tempat yang tidak dikenal, tidak ada yang merawat, tidak ada yang menguburkan. Mungkin ia sengaja tidak kembali karena malu karena tidak berhasil, karena tidak punya uang, karena tidak tega melihat anak-anaknya masih kurus dan lapar. Mungkin ia sudah melupakan Rina dan Roni, sibuk dengan kehidupan barunya di kota, menikah lagi, punya anak lagi, dan menganggap bahwa masa lalu adalah masa lalu.
Siti tidak tahu. Yang ia tahu, ia tidak bisa berharap pada orang yang tidak pasti. Ia harus berjuang sendiri. Untuk Rina. Untuk Roni. Untuk kakaknya yang mungkin tidak pernah kembali.
Siti menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan. Tidak boleh menakutkan. Tidak boleh menyedihkan. Harus memberi harapan, meskipun harapan itu tipis, sekecil ujung jarum, setipis daun yang bergoyang ditiup angin.
"Nanti Makcik cari ubi di hutan. Atau cari gawe di pasar. Nanti kita makan."
Rina mengangguk. Matanya masih sembab, tapi ia tersenyum. Senyum yang membuat Siti ingin menangis. Senyum yang mengingatkan pada kakaknya. Senyum yang sama persis. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak punya waktu untuk menangis. Ia harus berpikir. Ia harus bergerak. Ia harus mencari jalan.
Di balik gubuk, Roni mulai menangis. Anak tiga tahun itu belum mengerti apa-apa. Ia hanya tahu perutnya kosong, dan itu sakit. Tangisnya parau, seperti orang yang sudah menangis terlalu lama, seperti suara yang keluar dari tenggorokan yang kering dan tidak ada air liur yang membasahi. Mungkin ia sudah menangis sejak semalam. Mungkin ia tidak berhenti menangis sejak babi-babi datang. Mungkin ia sudah tidak tahu lagi mengapa ia menangis ia hanya menangis karena itu satu-satunya yang bisa ia lakukan.
Siti bangun. Tanah di bawahnya terasa hampa, seperti bumi ini tidak lagi bisa menopangnya. Ia masuk ke gubuk, mengambil karung kosong yang sudah usang karung bekas beras, sudah robek di beberapa tempat, masih berbau beras meskipun sudah lama kosong. Karung yang dulu digunakan untuk membawa umbi dari hutan, untuk membawa jagung dari ladang. Sekarang, hanya berisi angin dan harapan.
Ia keluar lagi. Karung itu ia letakkan di pundak. Karung yang sama yang dulu ia bawa ketika masih punya ladang. Karung yang sama yang akan ia bawa ke mana pun ia pergi.
"Rina, jaga Roni. Makcik cari ubi di hutan."
Rina mengangguk. Wajahnya polos, terlalu polos untuk mengerti bahwa ubi di hutan sudah mulai langka. Bahwa hutan tidak lagi seperti dulu. Bahwa tidak ada yang tersisa untuk dicari.
Siti berjalan ke hutan. Kakinya melangkah cepat, matanya memindai tanah, mencari tanda-tanda umbi yang masih tersisa. Ia tahu tempat-tempat yang dulu ia kenal tempat di mana ayahnya dulu sering mencari ubi, tempat di mana ia dan ibunya pernah menemukan kembili sebesar kepalan tangan. Tapi sekarang semuanya berbeda.
Bekas ladang ayahnya, sekarang jadi semak belukar. Rumput-rumput liar tumbuh tinggi, menutupi bekas-bekas tanaman yang dulu ditanam. Semak belukar itu lebat, penuh duri, tidak bisa dimasuki. Seperti hutan yang marah, seperti hutan yang menutup diri dari manusia.
Sungai kecil tempat dulu ia mandi airnya keruh bercampur lumpur tambang. Bau besi dan tanah liat menggantikan bau air yang dulu segar. Tidak ada lagi ikan. Tidak ada lagi kepiting. Tidak ada lagi kehidupan. Yang tersisa hanya air keruh yang mengalir pelan, seperti sungai yang sedang sekarat.
Umbi sudah jarang. Siti menggali di beberapa tempat, tapi hanya menemukan akar-akar kering yang tidak bisa dimakan. Jamur hanya sedikit, dan yang ada pun jenis yang tidak bisa dimakan. Beracun. Siti tahu, karena dulu ayahnya mengajari mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak ciri-cirinya, warnanya, baunya. Tapi sekarang, bahkan yang tidak beracun pun tidak ada.
Ia pulang dengan karung kosong.
Di depan gubuk, Rina dan Roni duduk di tanah. Roni masih menangis, suaranya sudah serak, hanya suara napas yang tersengal-sengal ngik-ngik-ngik , seperti suara babi yang merusak ladangnya, ironi yang tidak bisa ia hindari. Rina mencoba menggendongnya, meski ia sendiri hampir tidak kuat. Tubuh mereka kecil, kurus, seperti dua ranting kering yang tertiup angin, seperti dua telur yang rapuh menunggu untuk menetas atau dimakan lebih dulu.
"Makcik, Roni lapar."
Siti meletakkan karung kosong. Karung itu jatuh ke tanah dengan bunyi yang terlalu keras untuk benda kosong bruk, seperti suara babi yang menggali tanah, seperti suara sesuatu yang jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Ia berlutut di depan mereka. Memandang mereka. Dua anak kecil yang hanya punya dirinya. Dua anak kecil yang tidak mengerti mengapa perut mereka kosong, mengapa tidak ada makanan, mengapa dunia tidak baik-baik saja.
"Rina, jaga Roni. Makcik cari duit dulu. Nanti Makcik balik."
Rina memandangnya dengan mata yang mulai mengerti. Mata yang terlalu cepat dewasa. Mata yang sudah melihat terlalu banyak kesedihan untuk anak seusianya. Mata yang bertanya tanpa suara: uang dari mana, Makcik?
"Uang dari mana, Makcik?"
Siti tidak menjawab. Ia berdiri. Merapikan karung kosong yang tidak berguna. Di kepalanya, ia sudah menghitung. Besok, ia akan ke Tanjungpandan. Mencari Mbok Darmi. Mencari informasi. Di kampung, ia sudah mendengar cerita tentang tempat itu.
Simpang. Tempat di pinggiran kota, di simpang empat yang sunyi, dikelilingi ladang ilalang dan bekas lubang tambang. Tempat di mana perempuan-perempuan muda bisa dapat uang banyak. Uang untuk beras. Uang untuk susu. Uang untuk Rina dan Roni.
Ia tidak takut. Ia sudah pernah berhadapan dengan babi hutan sendirian. Ia bisa berhadapan dengan apa pun. Karena tidak ada yang lebih menakutkan dari melihat Rina dan Roni kelaparan. Tidak ada.
VII. Pelajaran dari Ladang yang Hancur
Malam itu, Siti tidak tidur.
Ia duduk di depan gubuk, memandangi langit yang penuh bintang. Jutaan bintang, seperti butiran pasir di pantai, seperti harapan-harapan kecil yang tidak mungkin digapai. Di dalam, Rina dan Roni tidur gelisah. Kadang Rina memanggil-manggil dalam mimpi: "Makcik... Makcik..." Suaranya kecil, seperti anak burung yang mencari induknya. Siti mendengar, tapi tidak menjawab. Takut jika menjawab, ia akan menangis. Dan jika menangis, ia tidak akan bisa pergi.
Ia memikirkan apa yang telah terjadi. Ladang yang hancur. Babi yang datang. Dirinya yang sendirian. Ia menyadari sesuatu: ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa bertani sendirian. Ia tidak bisa menghadapi babi sendirian. Ia tidak bisa membangun kembali ladang sendirian.
Ia membayangkan suatu hari, ketika ia kembali, ia akan mencari petani-petani yang masih tersisa. Ia akan mengajak mereka bekerja sama. Bergiliran berjaga di malam hari. Membuat pagar dari kayu dan duri. Menyalakan api di ujung-ubur ladang. Berbagi pengetahuan tentang hama, tentang musim tanam, tentang bibit yang tahan kekeringan.
Ia membayangkan ada yang menjaga kebunnya ketika ia pergi. Ia membayangkan ada yang membantunya ketika babi datang. Ia membayangkan tidak lagi sendirian di ladang yang luas dan sunyi. Karena hanya dengan bekerja sama mereka bisa bertahan. Hanya dengan berkelompok mereka bisa menjadi kuat.
Ia juga menyadari: kerusakan lingkungan adalah akar dari semua ini. Hutan ditebang. Sungai dikeruk. Tambang mengambil segalanya. Babi kehilangan tempat tinggal. Babi kehilangan makanan. Babi keluar dari hutan, mencari makan di ladang manusia. Dan manusia, yang juga kehilangan segalanya, tidak bisa berbuat apa-apa.
Ayahnya dulu pernah bilang: alam memberi jika dijaga. Alam akan mengambil jika dirusak. Dan sekarang, alam sedang mengambil. Bukan karena marah. Bukan karena dendam. Tapi karena ia juga harus bertahan. Karena ia sudah terlalu lama dieksploitasi. Karena ia sudah tidak bisa lagi memberi.
Siti memejamkan mata. Ia akan pergi. Ia akan cari uang. Ia akan belajar. Ia akan menabung. Ia akan kembali. Dan ketika ia kembali, ia tidak akan bertani sendirian. Ia akan mencari petani lain. Ia akan membentuk kelompok. Ia akan berbagi pengetahuan. Ia akan belajar tentang cara menghadapi babi. Ia akan belajar tentang cara menjaga lingkungan, agar hutan tetap utuh, agar sungai tetap jernih, agar babi tidak perlu keluar mencari makan.
Itu yang membuat ia tetap bisa berdiri. Itu yang membuat ia tidak menyerah. Bukan hanya untuk Rina dan Roni. Tapi untuk ladang yang suatu hari akan ia tanam kembali. Untuk tanah yang suatu hari akan ia jaga. Untuk lingkungan yang suatu hari akan ia selamatkan.
VIII. Jalan ke Tanjungpandan Meninggalkan Hutan, Mencari Daratan Baru
Matahari baru saja terbit ketika Siti berjalan ke jalan raya. Di pundaknya, karung kosong. Karung bekas beras yang sudah robek di beberapa tempat, yang masih berbau beras meskipun sudah lama kosong bau yang mengingatkan pada masa ketika beras masih ada, ketika perut masih bisa kenyang, ketika kehidupan masih terasa mungkin.
Tidak ada bekal. Tidak ada uang. Hanya karung kosong. Hanya tubuh yang akan ia jual. Hanya harapan yang tidak tahu akan sampai atau tidak.
Ia tidak menoleh ke belakang. Takut jika melihat, ia tidak jadi pergi. Dan jika tidak jadi pergi, Rina dan Roni akan mati. Dan Siti tidak bisa membiarkan mereka mati.
Di pinggir jalan, ia melihat kupu-kupu beterbangan di antara ilalang. Kuning, putih, hitam. Mereka hinggap di bunga-bunga liar, lalu terbang lagi. Seperti tidak punya beban. Seperti tidak tahu bahwa di ladang yang hancur itu, ada dua anak kecil yang kelaparan. Seperti tidak tahu bahwa perempuan yang berjalan di pinggir jalan ini sedang meninggalkan segalanya.
Siti berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Ia tidak berlari. Tidak perlu. Ia sudah tidak takut. Yang ia takutkan bukan apa yang akan ia hadapi. Tapi apa yang akan terjadi jika ia tidak pergi. Jika ia tidak pergi, Rina dan Roni akan mati. Dan Siti tidak bisa membiarkan mereka mati.
Ia membayangkan suatu hari, ketika ia kembali. Ia akan membawa uang yang cukup. Ia akan membeli tanah. Ia akan membangun rumah. Ia akan menanam ladang baru. Tapi kali ini, ia tidak akan bertani sendirian. Ia akan mencari petani lain. Ia akan membentuk kelompok. Ia akan berbagi pengetahuan. Ia akan belajar tentang cara menjaga lingkungan.
Ia akan mengajarkan pada Rina dan Roni: bertani tidak bisa sendirian. Kita perlu teman. Kita perlu kelompok. Kita perlu bekerja sama. Karena hanya dengan bekerja sama kita bisa bertahan. Hanya dengan berkelompok kita bisa menghadapi apa pun.
Ia akan mengajarkan pada mereka: alam memberi jika dijaga. Alam akan mengambil jika dirusak. Kita harus menjaga hutan, menjaga sungai, menjaga tanah. Karena jika tidak, kita akan kehilangan segalanya. Seperti yang terjadi pada ladang ini.
Ia akan mengajarkan pada mereka tentang kakaknya ibu mereka yang pergi dan tidak pernah kembali. Bahwa kadang orang tua tidak bisa menjaga anak-anaknya. Bahwa kadang anak-anak harus dijaga oleh orang lain. Bahwa kadang keluarga bukan hanya yang punya darah yang sama, tapi yang mau berbagi nasi ketika lapar, yang mau berjaga ketika sakit, yang mau bertahan bersama ketika dunia tidak berpihak.
Tapi untuk sekarang, yang bisa ia lakukan adalah berjalan. Menuju Tanjungpandan. Menuju Simpang. Menuju tempat yang tidak ia kenal. Dengan karung kosong di pundak. Dengan Rina dan Roni di hati. Dengan harapan yang tidak tahu akan sampai atau tidak.
Di pinggir ladang, di bawah cahaya matahari pagi yang mulai meninggi, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.
Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.
Seperti Siti. Suatu hari.
Bersambung ke Bab 5: Menjelang Keberangkatan
Komentar
Posting Komentar