Sekapur Sirih
Kata Pengantar
Di pulau yang pernah orang sebut sebagai surga, kami menulis dari guratan memori. Dari debur ombak, dari desir angin, dari nama - nama yang kini samar terbawa angin.
Untuk Sri Nadira, Sunarti, Suharni, Siti, Kurniati, Sun Loi, Palel, Kadir, dan semua sahabat masa kecil, yang sekarang entah berada dimana, di balik pulau atau digilas waktu, yang tak lagi bersua, kisah ini lahir dari kalian. Dari tawa canda dan tangis, yang dulu kita jalani, tanpa tahu akan menjadi cerita.
Ini sebuah novel fiksi. Namun tiap lembarnya berdenyut dari ruas-ruas kenyataan. Tercipta dalam kolaborasi: kisah nyata menjadi suluh, pena penulis menuliskan naskah, dan cahaya AI menyulamnya menjadi cerita yang kini engkau baca.
Sebelum sampai ke tanganmu, kisah ini pernah kami kirim ke beberapa penerbit. Lama kami menunggu, sekadar sapaan. Tiada khabar. Maka daripada ia terkubur dalam laci dan waktu, daripada hilang terbuang, kami memilih menghadirkannya untukmu, para pembaca yang sudi menyimak.
Di balik keindahan pulau yang memesona, kami berjuang. Untuk martabat kehidupan. Untuk anak-anak. Untuk rasa lapar yang kerap menjerit. Sementara tambang multi-dolar merayap di bawah kaki kami, para penambang rakyat dirazia, hasilnya lenyap entah ke mana.
Kami menulis bukan untuk mengiba. Melainkan untuk bercerita. Untuk bersuara. Untuk menyalakan bara di dada para pembaca, barangkali agar ia tak padam sebelum keadilan datang.
Mungkin masih ada bagian cerita yang perlu kami revisi. Cara memanggil, cara berkisah, yang belum sepenuhnya berbahasa Belitung. Untuk itu, mohon maaf. Akan kami perbaiki di jalan cerita selanjutnya.
Akhir kata: selamat membaca.
Selamat merasakan.
Satu lagi kisah dari Pulau Belitung, kisah Simpang Kupu Kupu, setelah mega novel Laskar Pelangi.
Penulis
Komentar
Posting Komentar