SIMPANG KUPU-KUPU

BUKU 1: FASE TELUR

Ketika Hidup Masih Rapuh


Prolog

Simpang Empat, Tanjungpandan ketika angin berbisik, dan waktu terus bergulir


I.

Angin dari timur membawa bau kaolin dan lumpur basah. Bau yang sudah menjadi bagian dari Tanjungpandan sejak setengah abad lalu sejak tambang pertama membuka tanah, sejak sungai-sungai mulai berubah warna, sejak orang-orang mulai datang dan pergi meninggalkan cerita yang tak pernah selesai.

Dari ujung gang, di balik deretan rumah toko yang catnya mengelupas seperti kulit tersengat matahari, terdengar suara kapal tongkang berpapasan di cakrawala. Gemuruh mesin yang berat, lambat, seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti. Seperti napas orang yang sekarat, tapi tidak mau mati.

Di sekeliling, ladang ilalang terhampar luas sampai ke kaki langit. Bukan ilalang sembarangan. Ini ilalang yang tumbuh di atas bekas-bekas yang sengaja dilupakan bekas lubang tambang yang ditutup tanah, bekas rumah yang diratakan, bekas kehidupan yang dianggap tidak pernah ada. Musim kemarau seperti ini, ilalang menguning, berdesah ditiup angin. Suara yang mirip bisikan. Seperti ada yang bicara. Tapi entah bicara apa. Mungkin mereka sedang bercerita tentang dulu, ketika tempat ini masih ramai, ketika lampu-lampu masih menyala sampai subuh, ketika perempuan-perempuan masih duduk di beranda menunggu senja. Mungkin mereka hanya bergoyang. Tidak lebih.

Di sela-sela ilalang, pohon keremunting tumbuh liar. Buahnya kecil, ungu kemerahan, manis kalau dimakan. Dulu, anak-anak kampung suka memetiknya. Sekarang? Tidak ada anak-anak. Yang ada hanya ilalang, keremunting, dan bekas-bekas yang mau dilupakan. Juga buah nasi-nasi. Orang sini menyebutnya begitu. Mungkin karena bijinya kecil-kecil seperti nasi, atau mungkin karena buah ini tidak pernah cukup untuk mengenyangkan, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa perut masih lapar. Tumbuh di sembarang tempat, di tanah-tanah yang tak terurus, di sisa-sisa yang tak diinginkan siapa pun. Buah itu tak pernah dimakan orang. Hanya jadi pakan burung. Tapi ia tetap tumbuh, tetap ada. Seperti mereka yang dulu hidup di sini. Seperti cerita yang tak mau mati.


II.

Di depannya, sebuah bangunan tua berdiri.

Bukan gudang kumuh seperti yang orang bayangkan kalau mendengar kata "lokalisasi". Dulu, tempat ini terawat. Dinding papan dicat putih, setiap tahun diulaskan tangan-tangan sabar yang ingin rumahnya terlihat layak. Jendela-jendela dengan tirai renda, yang setiap pagi dibuka lebar membiarkan cahaya masuk, yang setiap sore ditutup rapat ketika lampu-lampu mulai dinyalakan. Halaman yang selalu disapu bersih setiap pagi, tidak setangkai daun pun berani mengotori tanahnya.

Di teras, kursi-kursi kayu diletakkan menghadap ke ladang ilalang tempat mereka duduk di sore hari, menikmati senja yang perlahan berubah warna, sesekali tertawa bersama, sesekali diam menikmati angin yang membawa bau garam dari pantai yang jauh. Di halaman, pot-pot bunga pernah diletakkan di sudut-sudut, dirawat dengan sabar, disiram setiap pagi sebelum matahari terlalu terik.

Itu dulu.

Sekarang, cat putih itu mengelupas di mana-mana. Menggulung seperti kulit yang terbakar, memperlihatkan kayu di bawahnya yang kehitaman karena usia dan hujan dan lembab yang tak pernah benar-benar kering. Jendela-jendela yang dulu membiarkan cahaya masuk, yang dulu menjadi tempat mereka melihat dunia lewat sekarang banyak yang kacanya pecah. Dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang mengganti. Tidak ada yang peduli.

Tirai renda yang dulu putih bersih, yang dulu dicuci setiap minggu dengan sabun harum, kini abu-abu kusam, robek di beberapa tempat, bergoyang pelan diterpa angin yang masuk lewat celah-celah dinding. Seperti kain kafan yang terlalu cepat tua. Di ambang pintu, laba-laba telah membangun sarangnya. Tidak terganggu. Tidak tahu bahwa besok pagi semua akan rata dengan tanah. Atau mungkin mereka tahu. Mungkin mereka juga merasakan bahwa tempat ini tidak akan bertahan lama.

Di belakang bangunan, ladang ilalang terus membentang. Datar. Luas. Sunyi.


III.

Simpang Kupu-Kupu.

Itu namanya dulu. Bukan nama resmi. Tak ada papan nama, tak ada alamat di peta. Hanya sebutan yang mengalir dari mulut ke mulut, dari pelanggan ke pelanggan, dari tahun ke tahun. Sebutan yang lahir bukan dari papan atau plakat, tapi dari pengakuan diam-diam bahwa tempat ini berbeda. Sebutan untuk tempat sunyi itu. Tempat di mana kupu-kupu malam berkumpul hinggap sebentar, lalu terbang lagi. Atau memilih untuk tinggal, membangun kehidupan, membalut luka, dan suatu hari pergi dengan kepala tegak, dengan uang di saku, dengan cerita yang tidak akan pernah mereka ceritakan pada siapa pun.

Di suatu tempat, di antara tumpukan kenangan yang tersimpan rapi, empat lembar foto usang masih ada. Pinggirannya bergerigi seperti daun yang dimakan usia. Warnanya pudar. Tapi masih jelas siapa mereka. Mungkin sudah hampir tiga puluh tahun sejak foto ini diambil. Wajah-wajah itu masih muda. Masih penuh sesuatu yang sulit disebut. Bukan harap karena harapan adalah sesuatu yang kelak akan mereka miliki, setelah melalui banyak hal. Bukan putus asa karena mereka tidak pernah putus asa, meskipun banyak alasan untuk putus asa. Mungkin hanya keberadaan. Mereka ada di sana, di depan kamera, dan itu saja.


IV.

Di foto pertama, seorang gadis berdiri di dermaga kayu. Rambutnya diikat ke belakang, beberapa helai terlepas di pelipis, diterbangkan angin laut. Matanya matanya memandang ke suatu tempat di kejauhan, ke arah laut yang tidak kelihatan karena lensa kamera menangkap hanya dirinya. Tapi di balik punggungnya, laut Badau sedang sekarat. Ditambang. Dikeruk. Ditinggalkan. Seperti ayahnya yang tak pernah pulang. Tapi ia tidak menoleh. Ia tetap berdiri di sana, di ujung dermaga, menghadap ke depan. Seperti ia sudah memutuskan untuk tidak melihat ke belakang. Seperti ia sudah tahu bahwa yang ditinggalkan tidak akan pernah kembali, dan yang di depan sana tidak kalah menakutkan.

Di foto kedua, seorang gadis dengan mata tajam. Terlalu tajam untuk anak seusianya. Mata yang sudah terlalu cepat belajar bahwa dunia tidak sebaik yang dikatakan orang. Ia tersenyum, tapi matanya tidak. Senyum yang dipelajari bukan yang lahir dari kebahagiaan, tapi yang dipakai seperti topeng, karena topeng lebih aman daripada wajah asli. Di tangannya ada buku catatan kecil. Selalu begitu. Ia mencatat segala sesuatu: nama, tanggal, angka, kata-kata yang diucapkan orang dalam kelemahan mereka. Seolah tahu bahwa suatu hari catatan itu akan berarti. Entah untuk apa. Di belakangnya, ilalang menjulur masuk ke bingkai foto, seolah ingin ikut tercatat. Seolah ingin menjadi saksi bahwa ia pernah ada.

Di foto ketiga, seorang gadis paling pendiam. Ia tak menatap kamera. Matanya ke bawah, ke tanah, ke suatu tempat yang tidak terlihat dalam foto mungkin ke luka di pergelangan tangan yang sengaja tidak difoto, mungkin ke kenangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di belakang foto itu, seseorang menulis dengan pulpen yang sudah pudar tintanya: "Untuk Supri, dari kakak." Tak ada yang tahu Supri siapa. Tapi tanah di bawah matanya adalah tanah yang sama dengan yang diinjak sekarang. Tanah yang menyerap air mata dan darah dan keringat, tanpa pernah bertanya. Tanah yang diam-diam menyimpan cerita, menunggu seseorang yang mau membacanya. Tanah yang tidak pernah mengkhianati, meskipun yang di atasnya sering kali saling mengkhianati.

Di foto keempat, seorang gadis berdiri di depan pohon keremunting. Bukan pohon biasa, tapi pohon yang hanya ia kenal namanya. Dari hutan Membalong, ia membawa cerita tentang babi, tentang ladang yang hancur dalam semalam, tentang tanah yang hilang karena tambang, tentang dua keponakan yang menangis kelaparan sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di tangannya, setangkai buah nasi-nasi. Mungkin iseng. Mungkin sengaja. Mungkin ia ingin mengingat bahwa meskipun buah itu tidak bisa dimakan, ia tetap tumbuh. Di tanah yang tidak diinginkan siapa pun, ia tetap tumbuh. Bahwa dari yang tidak berguna, sesuatu bisa lahir.


V.

Empat gadis. Empat takdir. Satu simpang.

Mereka dulu hidup di sini. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai apa pun yang perlu diberi label. Hanya sebagai manusia yang melakukan apa yang harus dilakukan agar bisa terus hidup agar adik-adiknya bisa sekolah, agar ibunya bisa berobat, agar keponakannya tidak mati kelaparan, agar dirinya sendiri tidak mati sebelum sempat melihat matahari terbit sekali lagi. Dan di sekeliling mereka, keremunting berbuah, nasi-nasi berserakan, ilalang terus tumbuh. Tak peduli. Tak menilai. Tak pernah bertanya. Seperti alam yang tidak pernah repot dengan moral manusia.

Mereka tidak saling kenal ketika pertama kali datang ke simpang ini. Mereka datang dari arah berbeda dari Badau, dari Parit, dari Membalong. Dengan cara berbeda dengan bus, dengan vespa, dengan mobil angkutan, dengan ojek. Dengan luka berbeda ayah hilang di laut, adik sekarat, suami pemukul, ladang hancur. Tapi di simpang ini, di tempat yang tidak pernah mereka pilih, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka cari. Mereka menemukan satu sama lain.

Ada yang pernah menulis pesan di belakang foto, dengan pulpen biru, huruf-huruf rapi, tidak terburu-buru:

"Tulis kami. Bukan karena kami hebat. Tapi karena kami pernah ada. Nadira, Suharni, Sunarti, Siti."

Pesan itu tiba tepat waktu. Tepat sehari sebelum gudang ini rata. Tepat saat ilalang mulai menguning, saat buah keremunting mulai masak dan siap dipetik, saat buah nasi-nasi jatuh ke tanah dan membusuk tanpa ada yang memakannya. Seperti mereka yang dulu hidup di sini. Datang, bertahan, meninggalkan jejak, lalu pergi dan jejak itu masih ada. Masih di sini. Masih menunggu untuk diceritakan.


VI.

Malam turun perlahan. Lampu-lampu Tanjungpandan mulai menyala satu per satu kuning, putih, kadang merah dari baliho yang sudah usang. Pasar masih ramai, suara tawar-menawar masih terdengar dari kejauhan, bau ikan asin dan minyak tanah masih menyeruak di antara celah-celah gang. Pelabuhan masih sibuk, kapal-kapal tambang masih bergemuruh di cakrawala, lampu-lampunya berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke laut dan tidak pernah kembali. Seperti tiga puluh tahun lalu. Seperti tak pernah berubah.

Yang berubah hanya mereka. Yang berubah hanya cerita yang akan terus bergulir.

Di warung Cik Min, lampu minyak mulai menyala. Cik Min duduk di kursi kayu, mengelap gelas. Tangannya gemetar, tapi matanya masih tajam. Masih bisa melihat. Masih bisa mengenali. Masih bisa mengingat.

Ia memandang ke arah gudang yang kini gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk lewat atap yang sudah bolong. Ia memandang ke arah ladang ilalang yang bergoyang pelan, seperti lautan yang tidak pernah tenang. Ia memandang ke arah langit yang mulai gelap yang dulu dipenuhi bintang, sekarang hanya menyisakan beberapa titik cahaya yang masih berani bersinar di tengah polusi.

Lalu ia berkata, suaranya pelan tapi jelas, seperti orang yang sudah tidak punya waktu untuk basa-basi:

"Tulis yang bener. Jangan tambah-tambah. Jangan kurang. Yang bener. Biar yang baca tahu, mereka bukan korban. Mereka pemenang. Mereka yang memilih. Mereka yang bertahan. Di tempat yang tidak memberi pilihan, mereka memilih untuk bertahan. Itu kemenangan."


VII.

Di halaman tengah, di bawah pohon simpor, bangku-bangku kayu diletakkan melingkar. Kayu jati, sudah tua, warnanya kecoklatan karena usia dan hujan dan panas yang bergantian datang silih berganti. Di beberapa tempat, kayu mulai retak. Di beberapa tempat, cat mulai mengelupas. Tapi bangku-bangku itu masih kokoh. Masih bisa diduduki. Masih menjadi tempat mereka yang butuh duduk bersama, butuh diam bersama, butuh mengingat bahwa mereka tidak sendirian.

Di bawah salah satu bangku itu, tanpa ada yang menyadari, seekor kupu-kupu mati tergeletak. Sayapnya masih utuh coraknya indah, oranye dan hitam, seperti api yang membeku. Mungkin kemarin ia masih terbang di atas ilalang, masih hinggap di bunga keremunting, masih melakukan apa yang harus dilakukan seekor kupu-kupu: terbang, hinggap, mencari nektar, lalu mati. Sekarang ia diam. Kecil. Mudah terinjak. Mudah dilupakan. Tapi ia pernah terbang. Ia pernah menjadi sesuatu yang indah di tengah ladang yang tidak indah. Ia pernah meninggalkan jejak pada bunga-bunga yang ia singgahi jejak yang mungkin hanya terlihat oleh mereka yang tahu apa yang harus dicari.

Di kejauhan, ladang ilalang terus bergoyang. Diam-diam, buah nasi-nasi jatuh satu per satu. Tak ada yang memungut. Tapi mereka akan tumbuh lagi. Mereka akan terus tumbuh. Di tanah yang tidak diinginkan siapa pun, mereka akan terus tumbuh. Seperti cerita ini. Seperti mereka yang pernah hidup di sini.


VIII.

Angin berembus. Daun-daun simpor bergoyang. Ilalang berdesah. Seperti mereka sedang bicara. Seperti mereka sedang bercerita tentang perempuan-perempuan yang duduk di bawah pohon ini, tentang malam-malam yang mereka lalui, tentang pagi-pagi yang mereka pilih untuk bangun.

Tentang mereka yang tidak pernah meminta dikasihani. Tentang mereka yang memilih untuk berjuang. Tentang mereka yang berdiri tegak meskipun hidup tidak pernah berpihak. Tentang mereka yang, di tempat yang tidak memberi pilihan, memilih untuk bertahan. Dan itu kemenangan.

Besok, buldoser akan datang. Besok, tempat ini akan rata dengan tanah. Dinding-dinding yang dulu menjadi saksi bisu akan runtuh. Jendela-jendela yang dulu membiarkan cahaya masuk akan pecah. Halaman yang dulu disapu bersih setiap pagi akan ditimbun tanah. Tidak ada yang tersisa. Atau setidaknya, itulah yang mereka pikir.

Tapi cerita tidak bisa digusur. Cerita tidak bisa rata dengan tanah. Cerita tidak bisa ditimbun seperti lubang tambang yang ditutup agar orang lupa bahwa di dalamnya pernah ada sesuatu yang diambil. Cerita akan tetap ada, selama ada yang mau mengingat. Selama ada yang mau mendengar. Selama ada yang mau duduk di warung kopi seperti Cik Min, yang matanya masih tajam meskipun tangannya sudah gemetar, yang masih ingat semua nama meskipun usianya sudah melewati batas yang wajar untuk mengingat.

Dan cerita ini akan terus bergulir. Seperti angin yang tak pernah berhenti. Seperti ilalang yang terus tumbuh. Seperti waktu yang tak pernah kembali, tapi selalu meninggalkan jejak.


Bersambung ke Bab 1: Garis Pantai yang Putus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

SINOPSIS