Bab 5: Menjelang Keberangkatan

Latar: Badau, Parit, Tanjungpandan, Membalong, 1997


I. Nadira Antara Harapan dan Kekhawatiran

Malam terakhir di Badau.

Nadira tidak bisa tidur. Bukan karena gelisah gelisah sudah lama menjadi teman akrab, sejak ayah pergi, sejak laut mati, sejak perut mulai keroncongan setiap malam. Bukan karena takut takut sudah ia kelola dengan baik, ia simpan di tempat yang tidak akan mengganggu keputusannya. Tapi karena ia ingin menghabiskan malam ini dengan mata terbuka. Ingin mengingat setiap sudut rumah, setiap goresan di dinding, setiap bunyi papan yang berderit, setiap bau yang selama ini ia hirup tanpa sadar. Karena besok, semua itu akan menjadi kenangan. Dan kenangan, ia tahu, adalah sesuatu yang mudah pudar. Seperti foto ayah yang semakin lusuh setiap kali ia pegang. Seperti suara ayah yang semakin lama semakin kabur di kepalanya, meskipun baru empat puluh hari.

Ia duduk di dipan bambu. Bambu-bambu tua itu berderit setiap kali ia bergerak bunyi yang sudah ia kenal sejak lahir, yang menjadi pengantar tidurnya setiap malam, yang sekarang terasa seperti sesuatu yang ingin ia rekam di kepalanya, simpan di tempat yang tidak akan pernah bisa diambil siapa pun. Di sampingnya, Wati dan Joko terlelap. Wati tidur miring ke kanan, tubuhnya meringkuk seperti kucing yang kedinginan. Jari-jari kecilnya menggenggam ujung baju Nadira erat-erat refleks, kebiasaan yang sudah terbentuk sejak ia masih bayi, sejak Nadira menjadi satu-satunya yang selalu ada di sampingnya.

Joko tidur di sisi lain, tubuhnya yang terlalu kurus untuk anak laki-laki seusianya terbaring telentang, jempol kanan di mulut, tangan kiri tergeletak di perut yang masih sesekali berbunyi kelaparan. Wajahnya tenang. Tidak seperti Wati yang kadang mengigau memanggil ayah, memanggil kak , Joko tenang seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa besok, kakaknya akan pergi. Tidak tahu bahwa ia tidak akan melihat kakaknya lagi untuk waktu yang lama. Tidak tahu bahwa kakaknya akan melakukan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan, bahkan ketika ia sudah besar nanti.

Nadira menghela napas. Udara malam dingin, menusuk kulit, menembus dinding papan yang sudah lapuk. Di celah-celah papan, angin masuk membawa bau laut atau dulu bau laut, sekarang lebih banyak bau timah dan lumpur dan sesuatu yang mati di dasar laut.

Ia memandangi sekeliling. Rumah ini tidak pernah mewah. Dinding papan yang catnya sudah mengelupas di mana-mana, memperlihatkan kayu di bawahnya yang sudah kehitaman karena usia dan kelembaban. Lantai papan yang beberapa tempat sudah mulai lapuk, yang kalau diinjak terlalu keras akan terasa melentur seperti akan jebol. Atap seng yang kalau hujan bunyinya seperti orang menabuh gendang, keras dan riuh, membuat tidak ada yang bisa tidur. Ember bekas cat berkarat di sudut selalu diletakkan di tempat yang sama setiap musim hujan, di bawah bocoran yang tidak pernah diperbaiki. Foto ayah di dinding dalam bingkai murahan bingkai plastik yang sudah retak di sudut kanan bawah, yang membuat foto itu sedikit miring meskipun sudah dipaku di tempat yang sama sejak tiga tahun lalu.

Tapi ini rumahnya. Satu-satunya rumah yang ia punya. Satu-satunya tempat di dunia ini di mana ia pernah merasa aman, meskipun hanya sebentar. Dan besok, ia akan meninggalkannya.

Pikirannya berputar. Seperti ombak yang datang dan pergi. Seperti angin yang tidak pernah berhenti. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban.

Apakah ini keputusan yang benar? Apakah ada jalan lain? Apakah ia akan selamat? Apakah ia akan berhasil? Apakah ia akan pernah kembali?

Ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa apa yang ia lakukan besok akan membawanya ke tempat yang lebih baik. Bisa jadi ia akan jatuh lebih dalam. Bisa jadi ia akan kehilangan segalanya bukan hanya rumah, tapi juga harga diri, juga mimpi, juga sisa-sisa harapan yang masih tersisa. Bisa jadi ia akan menyesal. Bisa jadi ia akan pulang dengan tangan hampa, lebih miskin dari sebelumnya, lebih hancur dari sebelumnya.

Tapi satu hal yang ia tahu: jika ia tidak pergi, ia pasti akan mati. Bukan mati secara fisik meskipun itu juga bisa terjadi, karena kelaparan tidak mengenal belas kasihan. Tapi mati dalam harapan. Mati dalam mimpi. Mati sebagai seorang anak perempuan yang tidak punya pilihan, yang hanya bisa pasrah menunggu kebinasaan, yang hanya bisa duduk di dermaga dan menatap laut yang mati tanpa bisa berbuat apa-apa.

Ia tidak bisa memilih untuk tidak memilih. Karena tidak memilih juga adalah pilihan pilihan untuk membiarkan semuanya hancur. Pilihan untuk menyerah. Pilihan untuk mengatakan bahwa ia tidak berharga, bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahwa ia hanya bisa menunggu mati.

Ia tidak akan memilih itu.

Ia memilih untuk pergi. Bukan karena ia yakin akan berhasil. Bukan karena ia tidak takut. Tapi karena ia harus mencoba. Karena mencoba adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Karena jika ia tidak mencoba, ia tidak akan pernah tahu.

Ia memilih untuk hijrah meninggalkan apa yang telah dikenal, menuju apa yang belum tentu lebih baik, tapi setidaknya berbeda. Setidaknya memberi ruang untuk harapan. Setidaknya memberi kesempatan untuk berjuang.

Ia mengambil selembar kertas dari balok kayu di atas jendela. Kertas bekas bungkus gula. Masih ada butiran-butiran putih di lipatannya, yang kalau ia tempelkan ke lidah, masih terasa manis samar. Manis yang mengingatkan pada masa ketika gula masih bisa dibeli, ketika hidup masih terasa manis, ketika ia masih kecil dan tidak tahu bahwa dunia bisa sekejam ini.

Ia pinjam pulpen tetangga tadi sore. Katanya mau nulis surat. Tetangga itu Mak Som, janda yang tinggal sendiri di rumah panggung sebelah, yang suka memanggilnya Nduk dan memberi ikan asin kalau kebetulan punya lebih tidak bertanya untuk siapa, tidak bertanya mengapa. Mungkin sudah tahu. Mungkin semua orang sudah tahu. Di kampung sebesar Badau, tidak ada yang bisa disembunyikan. Setiap langkah, setiap desahan, setiap air mata, semua orang tahu. Atau setidaknya, semua orang mengira mereka tahu.

Tangannya tidak gemetar. Ia tidak menangis. Ia sudah melewati fase itu. Sekarang yang ia butuhkan bukan air mata. Tapi kata-kata. Kata-kata yang cukup untuk menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Kata-kata yang cukup untuk menenangkan ibu yang akan membaca surat ini besok pagi. Kata-kata yang cukup untuk membuat ibu tidak terlalu khawatir meskipun ia tahu, ibu akan tetap khawatir. Ibu adalah ibu.

Ia menulis. Huruf-huruf itu keluar goyah, tidak rapi, kadang terbalik. B seperti D, *u* seperti *n*, *a* dan *d* dan *r* bercampur aduk seperti kerikil yang jatuh dari kantong bocor. Tapi ia terus menulis. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat.

Bu,

Nadira cari uang. Nanti pulang. Jaga Wati sama Joko.

Ia membaca ulang. Pendek. Tidak jelas. Tidak menjelaskan ke mana. Tidak menjelaskan apa yang akan ia lakukan. Tidak menjelaskan kapan ia akan pulang. Tidak menjelaskan bahwa ia akan menjual satu-satunya yang ia miliki, satu-satunya yang masih utuh, satu-satunya yang belum diambil oleh laut mati dan tambang dan kemiskinan.

Tapi itu yang bisa ia tulis. Itu yang tidak akan membuat ibu menangis terlalu lama. Atau setidaknya, itu yang ia harapkan.

Ia melipat kertas itu kecil-kecil. Seperti orang menyembunyikan rahasia. Seperti orang mengubur sesuatu yang tidak ingin ditemukan. Lalu ia berjalan ke kamar ibu.

Pintu kamar tidak tertutup rapat. Daun pintu kayu yang sudah melengkung karena usia tidak bisa menutup sempurna, meninggalkan celah selebar dua jari. Dari celah itu, cahaya lampu minyak masuk, redup, membuat bayangan-bayangan di dinding lorong. Nadira bisa melihat ibu terbaring di dipan bambu. Selimut tipis hanya selembar kain sarung tua yang sudah banyak bolong menutupi tubuh yang semakin kurus. Tulang-tulang di bahu terlihat menonjol dari balik kain, seperti batu-batu di dasar sungai yang muncul saat musim kemarau.

Ibu tidak tidur.

Nadira tahu. Dari cara tubuhnya terbaring terlalu kaku untuk orang yang tidur. Dari napasnya terlalu teratur, terlalu disengaja. Dari matanya yang terbuka, memandangi langit-langit yang terbuat dari papan-papan tua dengan retak-retak yang sudah ia hafal sejak kecil.

Ibu tidak bergerak. Mungkin ia sudah tahu. Mungkin ia sudah mendengar langkah kaki Nadira sejak tadi, sejak ia bangun dari dipan, sejak ia menulis surat dengan tangan yang tidak gemetar. Mungkin ia sudah menunggu, sejak sore, sejak Nadira pulang dari pasar dengan wajah yang berbeda, sejak ia tidak membawa ikan atau sayur atau apa pun selain dirinya sendiri.

Tapi ibu tidak berani bicara.

Karena jika ia bicara, ia akan menangis. Dan jika ia menangis, Nadira tidak akan jadi pergi. Dan jika Nadira tidak jadi pergi, mereka semua akan mati.

Nadira meletakkan surat di bawah bantal. Bantal dari kapuk yang sudah kempes, yang setiap kali dipakai terasa seperti batu, tapi satu-satunya yang ibu punya. Tangannya tidak gemetar saat menyelipkan kertas kecil itu di antara bantal dan anyaman bambu tempat tidur.

Ia ingin memeluk ibu. Ingin mencium keningnya yang sudah mulai keriput meskipun usianya belum empat puluh. Ingin mengatakan sesuatu, apa pun, yang bisa membuat ibu tidak terlalu sedih. Ingin berjanji bahwa ia akan kembali, bahwa ia akan berhasil, bahwa ia akan membawa uang dan kebahagiaan dan masa depan.

Tapi tidak ada kata-kata yang cukup. Tidak ada janji yang bisa ia tepati. Karena ia tidak tahu apakah ia akan kembali. Tidak tahu apakah ia akan berhasil. Tidak tahu apakah ia akan selamat.

Yang bisa ia lakukan hanyalah pergi. Dan berharap. Dan berdoa kepada Tuhan yang mungkin mendengar, mungkin tidak.

Ia berbalik. Berjalan keluar. Tidak menoleh.


II. Nadira Fajar di Ujung Jalan

Di timur, langit mulai berubah warna. Dari hitam pekat menjadi biru tua yang dalam, lalu ungu, lalu jingga di ujung cakrawala. Ayam belum berkokok. Rumah-rumah panggung di sepanjang pantai masih gelap, hanya sesekali lampu minyak menyala dari rumah yang penghuninya bangun lebih pagi.

Nadira berdiri di halaman depan untuk terakhir kali. Angin laut berembus, membawa bau garam dan ikan asin dan sesuatu yang mati di dasar laut. Bau yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir. Bau yang mungkin akan ia rindukan, meskipun ia tidak tahu apakah ia akan kembali.

Ia memandang ke arah dermaga. Laut masih gelap, hanya sesekali lampu kapal tambang yang berkelap-kelip di kejauhan, seperti bintang yang jatuh ke laut dan tidak pernah kembali. Laut yang dulu menjadi tumpuan hidup mereka. Laut yang dulu memberi. Laut yang dulu biru. Sekarang, laut itu sedang sekarat. Dan ia, seperti banyak anak muda di kampung ini, harus pergi meninggalkan laut yang mati, mencari kehidupan di tempat yang tidak ia kenal.

Ia berjalan ke jalan raya. Tas kecil di tangan hanya sebesar dua telapak tangan, dari kain perca yang dijahit ibu dulu untuk tempat beras, sekarang berisi baju ganti dua potong dan foto ayah yang selalu ia bawa. Tidak ada yang lain. Tidak ada bekal. Tidak ada uang. Hanya diri sendiri. Hanya tekad yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan, hangat di dadanya, seperti api kecil yang tidak akan padam.

Ia berdiri di pinggir jalan, menunggu bus. Bus dari Manggar menuju Tanjungpandan lewat sini sekitar jam enam. Kalau tidak mogok. Kalau tidak kehabisan bensin. Kalau sopirnya tidak sedang mabuk.

Ia menunggu. Sendiri. Angin laut terus berembus. Rambutnya berkibar, kadang masuk ke mulut, tapi ia tidak peduli. Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia melihat wajah ayah. Senyum ompong. Tangan yang kasar. Gendongan yang hangat.

Ayah, bisiknya. Doakan aku.

Ia tidak tahu apakah ayah mendengar. Tapi ia ingin percaya bahwa di suatu tempat, ayah melihatnya. Bahwa ayah bangga padanya. Bahwa ayah tidak marah karena ia pergi. Bahwa ayah mengerti ini bukan karena ia tidak sayang pada kampung, pada laut, pada rumah yang ditinggalkan. Tapi karena ia sayang pada adik-adiknya, pada ibu, pada mereka yang masih hidup dan harus terus hidup.

Bus belum datang. Ia membuka mata. Memandang ke arah kampung untuk terakhir kali. Rumahnya tidak terlihat dari sini. Hanya atap-atap seng yang mengilap terkena sinar matahari pagi yang mulai muncul di ufuk timur. Pohon-pohon kelapa yang bergoyang, batangnya tinggi kurus, daunnya bergerak-gerak seperti tangan yang melambai. Mungkin mereka melambai padanya. Mungkin mereka mengucapkan selamat tinggal. Mungkin mereka hanya bergoyang karena angin.

Dan di kejauhan, laut yang hijau pekat, seperti air kolam yang lama tidak diganti, seperti mata yang sudah kehilangan cahaya.

Ia tidak menangis. Ia sudah memutuskan. Tidak ada gunanya menangis.


III. Suharni Pertimbangan Akal Sehat dan Perasaan

Di warung kopi pinggir pasar, Suharni duduk sendirian setelah Pak Mul pergi. Kopinya sudah dingin sejak lama, tidak pernah ia minum. Uang lima ratus ribu masih ia genggam di tangan uang yang akan membeli nyawa Sukirman, uang yang akan membeli tubuhnya.

Ia memandangi uang itu lama. Kertas biru dengan gambar orang dan rumah dan sesuatu yang tidak pernah ia lihat karena ia tidak pernah memegang uang sebanyak ini. Uang yang seharusnya membuatnya lega. Tapi yang ia rasakan bukan lega. Bukan takut. Bukan sedih. Tapi sesuatu yang campur aduk, seperti air sungai yang keruh, tidak bisa dipisahkan mana yang mana.

Pikirannya berputar. Akal sehatnya berkata: Ini satu-satunya jalan. Tidak ada pekerjaan lain. Tidak ada yang mau menerima anak perempuan seusiamu. Tidak ada yang mau membayar upah yang cukup untuk opname Sukirman, untuk utang, untuk beras, untuk hidup. Ini pilihan rasional.

Tapi perasaannya berkata: Apakah ini yang kau inginkan? Apakah ini yang ibu ajarkan? Bahwa perempuan harus mandiri, harus kuat, harus tidak bergantung pada siapa pun. Apakah menjual diri adalah bentuk kemandirian?

Ia tidak tahu. Ia tidak bisa memisahkan mana yang suara akal sehat, mana yang suara perasaan. Keduanya bercampur menjadi satu, seperti air sungai yang keruh, seperti hidupnya yang tidak pernah jernih.

Ia memikirkan ibunya. Ibu yang tidak pernah sekolah. Ibu yang tidak punya pilihan. Ibu yang hanya bisa mencuci baju. Ibu yang tangannya pecah-pecah karena kerja keras yang tidak pernah dihargai. Apakah ibu akan marah jika tahu dari mana uang ini berasal? Apakah ibu akan kecewa? Apakah ibu akan menangis?

Atau apakah ibu akan mengerti? Karena ibu juga pernah muda. Ibu juga pernah tidak punya pilihan. Ibu juga pernah melakukan apa pun untuk memberi makan anak-anaknya. Mungkin ibu tidak akan marah. Mungkin ibu hanya akan diam, seperti ia selalu diam, karena diam adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan.

Ia memikirkan Sukirman. Adiknya yang masih terbaring di rumah sakit, dengan infus di tangan, dengan napas yang sesekali berat, dengan tubuh yang masih panas. Sukirman tidak tahu apa-apa. Sukirman hanya tahu bahwa kakaknya pergi, bahwa kakaknya akan kembali, bahwa kakaknya akan membawa uang dan obat dan kehidupan.

Sukirman tidak perlu tahu dari mana uang itu berasal. Cukup ia tahu bahwa ia sembuh. Cukup ia tahu bahwa ia bisa sekolah. Cukup ia tahu bahwa ia bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah kakaknya miliki.

Ia memikirkan dirinya sendiri. Dirinya yang dulu, ketika masih kecil, ketika tangan ibu masih lembut, ketika ayah masih ada, ketika rumah masih terasa hangat. Dirinya yang bermimpi menjadi guru, menjadi dokter, menjadi sesuatu yang bisa membanggakan orang tua. Dirinya yang tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan duduk di warung kopi pinggir pasar, memegang uang hasil menjual diri, dan berpikir bahwa ini adalah keputusan paling rasional yang bisa ia buat.

Tapi itulah kenyataan. Itulah hidup. Tidak ada yang menjamin bahwa mimpi akan tercapai. Tidak ada yang menjamin bahwa usaha akan berhasil. Tidak ada yang menjamin bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.

Yang ada hanya pilihan. Pilihan antara buruk dan lebih buruk. Antara mati dan bertahan. Antara pasrah menunggu kebinasaan dan berjuang dengan cara apa pun.

Suharni memilih untuk berjuang. Bukan karena ia yakin akan menang. Bukan karena ia tidak takut. Tapi karena ia tidak bisa memilih untuk mati. Karena Sukirman masih hidup. Karena ibu masih membutuhkannya. Karena ia masih punya mimpi mimpi tentang toko buku dan alat tulis, tentang rak-rak kayu dicat putih, tentang tangannya yang digunakan untuk menulis, bukan untuk mencuci, bukan untuk melayani.

Ia memasukkan uang itu ke dalam saku. Merasakan kertasnya yang tipis, yang rapuh, yang bisa robek jika tidak hati-hati. Seperti dirinya. Seperti harapannya. Seperti masa depannya.

Ia berdiri. Meninggalkan warung kopi. Tidak menoleh ke belakang.


IV. Suharni Malam di Rumah Sakit, Menjelang Kepergian

Malam itu, Suharni duduk di ruang tunggu rumah sakit. Jam dinding di depannya berdetak pelan, mengukur waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Ia memandangi jarum jam yang bergerak, memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam. Tubuhnya kaku. Bukan karena takut. Tapi karena ia sudah memutuskan. Dan keputusan itu tidak memberi ruang untuk takut.

Ia memikirkan proses yang telah ia lalui hari ini. Mulai dari subuh, ketika ia bangun dan melihat ibu sudah tidak di rumah pergi ke sungai seperti biasa, mencuci baju orang, menggosok dengan sikat kawat, membilas dengan air keruh, memeras dengan tangan yang pecah-pecah. Ia tidak pamit. Tidak bisa. Tidak tahu harus bicara apa.

Ia memikirkan perjalanannya ke pasar, bertemu Mak Lijah, mendengar bisik-bisik tentang Simpang. Ia memikirkan pertemuannya dengan Pak Mul, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, uang yang diberikan, senyum yang tidak sampai ke mata. Ia memikirkan keputusannya untuk menerima uang itu, untuk mengatakan "tidak" ketika ditanya apakah ia takut, untuk berpura-pura bahwa ia kuat padahal hatinya hancur berkeping-keping.

Ia memikirkan Sukirman. Adiknya yang sekarang terbaring di ruang rawat inap, mungkin sedang tidur, mungkin sedang bermimpi tentang sesuatu yang tidak akan pernah ia mengerti. Sukirman tidak tahu bahwa kakaknya akan pergi. Tidak tahu bahwa kakaknya akan melakukan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan. Tidak tahu bahwa kakaknya mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini.

Ia memikirkan ibu. Ibu yang masih duduk di samping tempat tidur Sukirman, membungkuk, seperti patung. Ibu yang tidak bertanya dari mana uang itu berasal. Ibu yang mungkin sudah tahu, tapi memilih diam. Ibu yang mungkin menangis dalam diam, seperti yang selalu ia lakukan.

Jam delapan malam. Vespa berhenti di depan rumah sakit. Pak Mul memakai baju biasa, jaket kulit lusuh. Asap rokok mengepul di samping vespa, naik ke langit malam yang gelap.

"Naik."

Suharni berdiri. Ia berjalan ke ruang rawat inap untuk terakhir kali untuk sementara, ia berjanji pada diri sendiri. Ia mencium kening Sukirman yang masih panas, yang masih demam, yang masih berjuang. Sukirman menggumam, matanya tidak terbuka, tapi tangannya meraih meraih kakaknya, meraih satu-satunya yang selalu ada.

"Kirman," bisiknya. "Kakak pergi sebentar. Nanti pulang."

Ia melepaskan genggaman adiknya perlahan. Sukirman meraih ke udara, lalu tangannya jatuh ke tempat tidur. Suharni menahan napas. Tidak ingin menangis. Tidak ingin menunjukkan kelemahan.

Ia berjalan ke ibu. Ibu masih duduk di kursi plastik, masih membungkuk, masih seperti patung. Suharni berlutut di sampingnya. Memegang tangan ibu tangan yang pecah-pecah, yang kasar, yang hangat.

"Bu, saya pergi sebentar. Jaga Kirman."

Ibu mengangguk. Tidak bisa bicara. Tangannya yang pecah-pecah menggenggam erat tangan Suharni, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin dilepaskan. Lalu perlahan, jari-jari itu melepaskan. Satu per satu. Seperti mengucapkan selamat tinggal tanpa kata-kata.

Suharni berdiri. Berjalan ke pintu. Tidak menoleh.


V. Sunarti Antara Dua Dunia

Sunarti duduk di depan Mamik. Perempuan paruh baya itu memandanginya dengan mata yang sudah melihat banyak hal mata yang tidak lagi bisa dikejutkan, mata yang sudah tahu cerita apa pun tanpa perlu diceritakan.

"Kau tahu kerja apa?" tanya Mamik.

Sunarti mengangguk. Ia tahu. Ia sudah tahu sejak lama. Sejak Karyono, sejak malam pertama di kontrakan sempit itu, sejak sembilan puluh goresan di dinding yang ia hitung setiap hari, ia tahu bahwa satu-satunya yang ia miliki hanyalah tubuh. Dan tubuh adalah sesuatu yang bisa dijual. Sesuatu yang bisa dipinjam. Sesuatu yang bisa dipakai, dipukul, ditinggalkan.

"Kau tidak takut?"

Sunarti mengangkat muka. Matanya yang kosong menatap Mamik. Tidak berkedip. Tidak bergetar. "Tidak ada yang lebih menakutkan dari yang sudah kualami."

Mamik diam sebentar. Matanya berubah. Bukan iba. Bukan kasihan. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip pengakuan. Pengakuan bahwa perempuan kecil di depannya ini sudah melewati batas di mana rasa takut masih berarti.

Lalu ia tertawa. Tidak keras. Tidak panjang. Hanya sebentar. Tawa orang yang sudah terlalu lama melihat penderitaan.

"Kau kuat. Aku suka."

Sunarti tidak merasa kuat. Ia merasa hampa. Hampa seperti sumur kering. Hampa seperti rumah yang ditinggalkan. Hampa seperti dirinya sebelum memutuskan untuk lari.

Tapi ia tidak punya pilihan. Ia sudah mencoba bertahan di rumah Karyono. Ia sudah mencoba menjadi istri yang baik. Ia sudah mencoba menelan rasa sakit, menahan amarah, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi Karyono tidak pernah puas. Karyono selalu mau lebih. Karyono tidak pernah peduli apakah ia lelah, apakah ia sakit, apakah ia tidak mau.

Dan ketika ia mengatakan "tidak", Karyono memukulnya.

Ia tidak bisa kembali ke sana. Ia tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya mereka telah menjualnya, mereka tidak akan menerimanya kembali. Ia tidak bisa pergi ke tempat lain tidak punya uang, tidak punya keterampilan, tidak punya siapa pun.

Hanya Mamik. Hanya Simpang. Hanya jalan ini.

Ia memikirkan Supri. Adiknya yang masih kecil, yang masih tidur di kamar belakang rumah orang tua, yang tidak tahu apa-apa, yang mungkin besok pagi akan bangun dan mencari kakaknya, yang mungkin akan menangis ketika tahu kakaknya pergi, yang mungkin akan tumbuh dengan bertanya-tanya mengapa kakaknya tidak pernah kembali.

Ia akan mengirim uang. Ia akan belajar. Ia akan mandiri. Dan suatu hari, ia akan menjemput Supri. Supri tidak akan pernah mengalami apa yang ia alami. Supri akan sekolah. Supri akan punya pilihan.

Itu yang membuat ia tetap bisa berdiri. Itu yang membuat ia tidak menyerah.


VI. Sunarti Meninggalkan Kontrakan, Meninggalkan Luka

Di kontrakan Karyono, Sunarti tidak punya apa-apa untuk ditinggalkan.

Bukan hanya karena tidak ada yang bisa dibawa. Tapi karena tidak ada yang pantas dibawa. Tidak ada yang layak diingat. Tidak ada yang pantas disimpan sebagai kenangan. Kenangan adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah bahagia. Dan Sunarti tidak pernah bahagia. Tidak di sini. Tidak di mana pun.

Ia memandangi sekeliling untuk terakhir kali. Kontrakan kecil dengan dinding triplek yang tipis. Dipan tipis dengan kasur busa kempes. Lemari plastik dua pintu, satu pintu tidak bisa ditutup. Kompor minyak tanah di sudut, tanpa tabung gas, hanya panci tua yang sudah hitam karena jelaga. Tidak ada foto. Tidak ada kenangan. Tidak ada yang menunjukkan bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini.

Ia mengambil sehelai kain dari tumpukan di sudut. Kain batik murahan, warna merah dan hitam dengan motif yang tidak jelas, sudah lusuh, warnanya pudar, di beberapa tempat benangnya lepas. Tapi masih utuh. Masih bisa dipakai. Masih bisa dipegang. Masih bisa dikenali.

Kain itu dulu untuk Supri. Sebelum ia dijual. Sebelum ayah menerima uang dua juta. Sebelum Karyono datang dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

Ia melipat kain itu rapi. Lipatan demi lipatan, meratakan setiap kerutan, menyelaraskan setiap sisi. Seperti orang melipat kenangan yang tidak ingin dilupakan. Seperti orang yang akan pergi jauh dan hanya bisa membawa satu benda.

Ia meletakkan kain itu di atas dipan. Di tempat yang paling mudah terlihat. Di tempat yang mungkin akan ditemukan jika suatu hari ada yang datang.

Supri akan datang suatu hari. Atau tidak. Mungkin ia tidak akan pernah tahu di mana kakaknya. Mungkin ia akan tumbuh besar dengan hanya ingat bahwa dulu ada kakak, tapi entah ke mana perginya. Mungkin ia akan berpikir bahwa kakaknya mati. Atau mungkin ia akan lupa.

Tapi setidaknya ada yang ditinggalkan. Setidaknya ada yang mengingatkan bahwa Sunarti pernah ada.

Ia berbisik, seperti Supri bisa mendengar dari jauh. Seperti kata-kata bisa menembus dinding triplek, menembus malam yang gelap, menembus jarak yang memisahkan mereka.

Ri, kakak pergi. Kakak cari uang. Kakak akan pulang. Suatu hari.

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jangkrik dari luar. Hanya gemuruh kapal tambang di kejauhan. Hanya jantungnya sendiri yang berdebar terlalu keras, seperti ingin keluar dari dada, seperti ingin berhenti, seperti ingin tidak perlu lagi mendengar apa pun.

Ia berjalan ke pintu. Membuka. Langit masih gelap. Di timur, belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Masih terlalu dini. Atau mungkin terlalu larut.

Ia berjalan kaki. Tidak tahu arah. Tidak tahu ke mana. Hanya tahu: ia harus pergi. Jauh. Sejauh mungkin. Tidak akan kembali. Tidak akan pernah kembali.


VII. Siti Keputusan di Ujung Keputusasaan

Siti berdiri di depan gubuknya untuk terakhir kali. Matahari baru saja terbit. Cahaya keemasan menyapu ladang ilalang di kejauhan, membuat batang-batang kering itu berkilau sekejap sebelum angin pagi melenturkannya. Di belakangnya, Rina dan Roni masih tidur. Rina memeluk boneka kain buatan Siti dari sisa karung beras. Roni menghisap jempol, tubuhnya meringkuk seperti bayi.

Ia tidak membangunkan mereka. Tidak tega. Lebih baik mereka tidur, bermimpi tentang sesuatu yang indah, tentang ayah dan ibu yang mungkin tidak akan pernah kembali, tentang masa depan yang mungkin tidak akan pernah mereka miliki.

Ia memikirkan perjalanannya hari ini. Dari subuh, ketika ia bangun dan melihat ladang yang hancur, ketika ia duduk di atas tunggul kayu dan memandangi bekas-bekas tanaman yang dulu hijau, sekarang coklat kering, mati, tidak bisa kembali. Ia memikirkan keputusannya untuk pergi ke pasar, mencari Mbok Darmi, mencari informasi tentang Simpang.

Ia memikirkan keraguannya. Keraguan yang muncul bukan karena ia takut pada apa yang akan ia hadapi ia sudah tidak punya apa-apa untuk ditakuti. Tapi keraguan yang muncul karena ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Apakah ada jalan lain? Apakah ia sudah cukup berusaha? Apakah ia sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan sebelum memutuskan untuk mengambil jalan ini?

Ia tidak tahu. Tapi ia tidak punya waktu untuk terus bertanya-tanya. Rina dan Roni lapar. Rina dan Roni kurus. Rina dan Roni akan mati jika ia tidak segera melakukan sesuatu.

Ia memikirkan kakaknya. Kakak yang pergi ke Jakarta dan tidak pernah kembali. Kakak yang meninggalkan Rina dan Roni padanya. Kakak yang mungkin sudah mati di perantauan, atau mungkin sengaja tidak kembali karena malu, karena tidak berhasil, karena tidak punya uang untuk ongkos pulang.

Siti tidak bisa seperti kakaknya. Ia tidak bisa pergi dan tidak pernah kembali. Ia harus kembali. Ia harus membawa uang. Ia harus menyelamatkan Rina dan Roni. Itu janjinya. Itu yang membuat ia tetap bisa berdiri, tetap bisa berjalan, tetap bisa berjuang.

Ia mengambil karung kosong dari pojok gubuk. Karung bekas beras yang sudah robek di beberapa tempat, yang masih berbau beras meskipun sudah lama kosong. Karung yang akan ia bawa ke mana pun ia pergi. Karung yang menjadi satu-satunya barang yang ia miliki selain baju yang melekat di tubuhnya.

Ia berjalan ke pintu. Berhenti. Menoleh sekali.

Rina bergerak dalam tidur. Bibirnya bergumam, seperti sedang bicara dengan seseorang dalam mimpi. Mungkin ayah. Mungkin ibu. Mungkin Siti. Siti tidak tahu. Ia hanya berbisik, pelan, seperti doa yang tidak berani didengar Tuhan.

Makcik cari uang. Nanti pulang.

Tidak ada yang menjawab. Hanya dengkur kecil Roni, yang naik turun seperti ombak kecil di pantai yang sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar. Hanya angin yang berdesir di antara pepohonan.

Ia berjalan ke jalan raya. Langit masih gelap di barat, tapi di timur, langit mulai berubah warna dari hitam ke biru tua, ke ungu, ke jingga di ujung cakrawala. Warna-warna yang selalu ia lihat setiap pagi, ketika ia bangun untuk pergi ke ladang, ketika ia masih punya ladang, ketika jagung masih tumbuh tinggi, ketika singkong masih menjalar di tanah.

Warna-warna yang sama. Tapi semuanya berbeda.

Ia tidak menoleh ke belakang. Takut jika melihat, ia tidak jadi pergi. Dan jika tidak jadi pergi, Rina dan Roni akan mati. Dan Siti tidak bisa membiarkan mereka mati.


VIII. Siti Membawa Harapan dalam Karung Kosong

Matahari naik. Cahaya keemasan menyapu jalan raya, membuat debu-debu beterbangan di udara, berkilau seperti emas yang tidak bisa ia petik. Siti berjalan di pinggir jalan, karung kosong di pundak. Tidak ada bekal. Tidak ada uang. Hanya karung kosong. Hanya tubuh yang akan ia jual. Hanya harapan yang tidak tahu akan sampai atau tidak.

Ia memikirkan tentang hijrah. Tentang meninggalkan apa yang telah dikenal menuju apa yang belum tentu lebih baik. Tentang memulai perjuangan baru di tempat yang tidak ia kenal. Tentang keberanian untuk mengambil risiko, meskipun risikonya besar, meskipun ia bisa jatuh, meskipun ia bisa gagal.

Ia tidak punya pilihan. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Tapi sebenarnya, ia punya pilihan. Ia bisa memilih untuk tinggal. Bisa memilih untuk pasrah. Bisa memilih untuk menunggu mati bersama Rina dan Roni. Itu juga pilihan. Pilihan yang lebih mudah. Pilihan yang tidak memerlukan keberanian. Pilihan yang hanya memerlukan kepasrahan.

Tapi ia tidak memilih itu. Ia memilih untuk pergi. Bukan karena ia yakin akan berhasil. Bukan karena ia tidak takut. Tapi karena ia tidak bisa memilih untuk mati. Karena Rina dan Roni masih hidup. Karena mereka masih punya mimpi, meskipun mimpi itu hanya sebatas bisa makan hari ini.

Ia memilih untuk hijrah. Untuk berjuang. Untuk mencoba. Meskipun tidak ada yang menjamin bahwa perjuangannya akan membuahkan hasil. Meskipun tidak ada yang menjamin bahwa ia akan selamat. Meskipun tidak ada yang menjamin bahwa ia akan kembali.

Di pinggir jalan, ia melihat kupu-kupu beterbangan di antara ilalang. Kuning, putih, hitam. Mereka hinggap di bunga-bunga liar, lalu terbang lagi. Seperti tidak punya beban. Seperti tidak tahu bahwa di ladang yang hancur itu, ada dua anak kecil yang kelaparan.

Siti berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Ia tidak berlari. Tidak perlu. Ia sudah tidak takut. Yang ia takutkan bukan apa yang akan ia hadapi. Tapi apa yang akan terjadi jika ia tidak pergi.

Ia membayangkan suatu hari, ketika ia kembali. Ia akan membawa uang yang cukup. Ia akan membeli tanah. Ia akan membangun rumah. Ia akan menanam ladang baru. Ia akan mengajarkan pada Rina dan Roni bahwa bertani tidak bisa sendirian, bahwa mereka perlu teman, perlu kelompok, perlu bekerja sama. Ia akan mengajarkan pada mereka bahwa alam memberi jika dijaga, bahwa mereka harus menjaga hutan, menjaga sungai, menjaga tanah.

Tapi untuk sekarang, yang bisa ia lakukan adalah berjalan. Menuju Tanjungpandan. Menuju Simpang. Menuju tempat yang tidak ia kenal. Dengan karung kosong di pundak. Dengan Rina dan Roni di hati. Dengan harapan yang tidak tahu akan sampai atau tidak.


IX. Mereka Empat Perempuan di Persimpangan Sejarah

Empat perempuan. Di tempat berbeda. Di waktu berbeda. Di bawah langit Belitung yang sama.

Mereka tidak saling kenal. Mereka tidak pernah bertemu. Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu. Tapi mereka mengambil keputusan yang sama. Keputusan yang tidak bisa disebut pilihan karena pilihan adalah ketika ada alternatif. Mereka tidak punya alternatif. Tapi mereka tetap memilih. Mereka memilih untuk tidak pasrah. Mereka memilih untuk berjuang. Mereka memilih untuk hijrah.

Nadira berdiri di pinggir jalan Badau, menunggu bus. Tas kecil di tangan. Foto ayah di saku. Matanya tidak lagi basah. Ia sudah memutuskan. Ia akan pergi. Ia akan berjuang. Ia akan kembali. Suatu hari.

Suharni duduk di boncengan vespa Pak Mul. Angin malam menyapu wajahnya. Lampu-lampu rumah sakit mulai redup di kejauhan. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak melihat ibu yang masih berdiri di pintu. Tidak melihat Sukirman yang terbaring di ranjang besi. Ia hanya melihat ke depan. Ke jalan yang gelap. Ke tempat yang tidak ia kenal.

Sunarti berjalan di jalan gelap. Kontrakan Karyono sudah tidak terlihat. Kain lusuh untuk Supri masih terlipat rapi di atas dipan. Ia berjalan kaki. Tidak tahu arah. Tidak tahu ke mana. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan kembali. Ia akan belajar. Ia akan mandiri. Ia akan menjemput Supri. Suatu hari.

Siti berjalan ke jalan raya. Gubuk di Membalong sudah tidak terlihat di balik pepohonan. Karung kosong di pundak. Rina dan Roni di hati. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak bisa. Karena jika menoleh, ia tidak akan jadi pergi. Dan jika tidak jadi pergi, mereka semua akan mati.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak tahu apakah keputusan mereka benar. Tidak tahu apakah mereka akan selamat. Tidak tahu apakah mereka akan berhasil.

Tapi mereka tahu satu hal: diam di tempat bukan lagi pilihan. Pasrah menunggu kebinasaan bukan lagi pilihan. Menyerah pada ketidakberdayaan bukan lagi pilihan.

Mereka memilih untuk berangkat. Memilih untuk hijrah. Memilih untuk memulai perjuangan, meskipun tidak tahu ke mana arahnya, meskipun tidak tahu apakah akan sampai, meskipun tidak tahu apakah akan kembali.

Itu yang membuat mereka berbeda. Itu yang membuat mereka kuat. Itu yang membuat mereka meskipun tidak saling kenal, meskipun tidak pernah bertemu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka masing-masing.


Di pohon-pohon di sepanjang jalan, di bawah cahaya matahari pagi yang mulai meninggi, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.

Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.

Seperti mereka. Suatu hari.


Bersambung ke Bab 6: Jalan Panjang ke Simpang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

SINOPSIS