Bab 7: Di Ambang Simpang
Latar: Simpang Empat, Tanjungpandan, Belitung, 1997
I. Siti Yang Pertama Tiba
Siti tiba pertama.
Ia turun dari ojek di pinggir jalan, membayar dengan uang pas-pasan yang ia pinjam dari Mbok Darmi uang terakhir, uang yang tidak akan cukup untuk kembali, uang yang ia genggam erat sampai telapak tangannya basah oleh keringat. Ojek itu pergi, mesinnya meraung sebentar, lalu menjauh, meninggalkannya sendirian di simpang empat yang sunyi. Debu beterbangan di belakang ojek, mengepul seperti asap, lalu perlahan-lahan turun kembali ke tanah, menutupi jejak ban yang baru saja lewat.
Siti berdiri di pinggir jalan, karung kosong di pundak. Ia memandangi sekeliling.
Ladang ilalang terbentang luas sampai ke kaki langit. Di musim kemarau seperti ini, ilalang menguning, batang-batangnya kering, berdesah setiap kali angin bertiup. Suara yang mirip tangis, tapi entah tangis apa. Tangis yang sudah lama tidak terdengar. Tangis yang sudah menjadi bagian dari udara, seperti debu, seperti panas, seperti sesuatu yang tidak perlu lagi diperhatikan.
Ia berjalan ke tengah simpang. Tanah berumput, agak meninggi, seperti tempat orang-orang dulu berkumpul mungkin untuk berdagang, mungkin untuk bercerita, mungkin hanya untuk duduk bersama menikmati angin yang datang dari laut yang tidak terlihat dari sini. Di tengahnya, sebuah papan kayu tua berdiri miring, hampir roboh. Papan itu sudah lapuk, dimakan usia dan hujan dan panas yang bergantian datang silih berganti. Tulisannya hampir tak terbaca. Tapi dengan sedikit usaha, dengan sedikit menerka-nerka, Siti bisa membaca apa yang terukir di sana: SIMPANG KUPU-KUPU.
Ia duduk di pinggir jalan, di atas tanah yang sedikit lebih tinggi dari ladang ilalang. Ia meletakkan karung kosong di sampingnya. Karung itu jatuh ke tanah dengan bunyi yang terlalu keras untuk benda kosong bunyi yang mengingatkannya bahwa ia tidak membawa apa-apa, bahwa ia datang dengan tangan hampa, bahwa ia tidak punya apa-apa selain tubuh ini dan harapan yang tidak tahu akan sampai atau tidak.
Ia memandangi ladang ilalang di depannya. Dulu, di Membalong, ladangnya hijau. Jagung tumbuh tinggi, singkong menjalar di tanah, ubi-ubian tersembunyi di dalam tanah. Sekarang? Yang ada hanya ilalang. Ilalang yang tumbuh di mana-mana, tanpa ditanam, tanpa dirawat, tanpa diminta.
Mungkin itu yang akan terjadi pada dirinya. Tumbuh di tempat yang tidak diinginkan siapa pun. Tumbuh di tanah yang tidak pernah memberi.
Tapi ia tidak datang ke sini untuk tumbuh seperti ilalang. Ia datang untuk bertahan. Untuk Rina. Untuk Roni.
Ia duduk di pinggir jalan, menunggu. Tidak tahu menunggu apa. Tapi ia sudah terbiasa menunggu. Sejak kecil, ia menunggu ayah yang tidak pernah kembali dari hutan. Menunggu kakak yang pergi ke Jakarta dan tidak pernah kembali. Menunggu ladang yang tidak pernah lagi memberi. Menunggu adalah satu-satunya yang ia kuasai.
II. Suharni Yang Tiba Kedua, dan Bertanya pada Cik Min
Suharni tiba kedua.
Vespa Pak Mul berhenti di simpang dengan suara mesin yang batuk-batuk bunyi yang sudah menjadi ciri khas vespa tua itu, bunyi yang membuat orang di kampung tahu bahwa Pak Mul sedang lewat, bunyi yang sudah tidak asing lagi bagi Suharni meskipun baru beberapa jam ia mengenalnya. Knalpotnya mengeluarkan asap tipis yang mengepul di udara pagi, bercampur dengan debu yang beterbangan, lalu menghilang di antara ilalang yang bergoyang.
Pak Mul menunjuk ke arah kompleks yang samar-samar terlihat di kejauhan. "Itu tempatnya. Kalau butuh, kabari aku." Suaranya datar, seperti biasa. Tidak ada nada khusus. Tidak ada pesan tersembunyi. Hanya fakta.
Suharni turun. Vespa itu meraung sebentar, lalu pergi, meninggalkan jejak ban di tanah berdebu dan asap yang mengepul tipis. Suara mesinnya semakin lama semakin kecil, semakin jauh, sampai akhirnya hanya samar-samar terdengar di kejauhan, lalu hilang sama sekali.
Suharni berdiri sendirian di simpang.
Ia mengamati sekeliling. Empat jalan bertemu di sini. Empat arah. Empat kemungkinan. Satu dari arah kota, yang baru saja ia lewati. Satu ke arah perkampungan pesisir. Satu ke arah ladang ilalang yang tak berujung. Dan satu lagi ke arah kompleks yang samar-samar.
Ia melihat Siti duduk di pinggir jalan, di sisi lain simpang. Perempuan seusianya, mungkin lebih muda. Baju kumal, rambut kusut, mata kosong. Di sampingnya, karung kosong.
Suharni tidak menyapa. Ia tidak tahu harus bicara apa. Apa yang bisa dikatakan pada orang yang juga kehilangan segalanya?
Ia melihat warung kecil di ujung simpang. Warung kayu dengan papan yang dicat putih, jendela kaca yang sedikit buram, lampu minyak yang mulai menyala karena senja semakin gelap. Asap mengepul dari dapur, membawa bau kopi dan gorengan. Di depan warung, seorang perempuan tua duduk di kursi kayu, mengelap gelas dengan kain lap yang sudah usang.
Suharni berjalan ke warung itu. Ia tidak ragu. Ia sudah terbiasa bertanya. Sejak kecil, ia belajar bahwa informasi adalah kekuatan. Bahwa orang yang bertanya akan mendapat jawaban. Bahwa orang yang diam hanya akan mendapat apa yang diberikan orang lain dan biasanya, itu tidak cukup.
Perempuan tua itu tidak menoleh ketika Suharni mendekat. Matanya tetap pada gelas di tangannya, yang ia lap dengan gerakan lambat, seperti orang yang tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah melakukan ini ribuan kali dan tidak perlu berpikir lagi.
"Cik," kata Suharni. Suaranya pelan, tapi tegas. Tidak ragu. Tidak takut.
Cik Min tidak menjawab. Tangannya terus mengelap gelas.
"Cik, saya... saya mau ke Simpang."
Cik Min berhenti mengelap. Ia menoleh. Matanya yang tua yang sudah melihat banyak hal, yang sudah tidak bisa dikejutkan oleh apa pun menatap Suharni dari ujung rambut ke ujung kaki. Baju kumal tapi bersih. Rambut tidak disisir. Mata sembab. Tangan mulai pecah-pecah.
"Kau sudah sampai, Nak," kata Cik Min. Suaranya pelan, serak, seperti orang yang sudah terlalu lama bicara dan terlalu lama diam. "Ini Simpang. Yang kau cari ada di sana."
Ia menunjuk ke satu arah. Bukan ke arah kompleks yang samar-samar. Tapi ke arah yang berbeda. Suharni mengikuti telunjuk Cik Min. Arah yang ia tunjuk tidak berbeda dari arah yang lain semuanya sama. Ladang ilalang, jalan tanah, debu, dan langit senja yang semakin gelap.
"Cik, mana yang benar?"
Cik Min tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang sudah menjadi kebiasaan, bukan ekspresi. "Semua jalan menuju ke sana, Nak. Yang membedakan bukan jalannya. Tapi kau yang memilih."
Suharni tidak mengerti. Tapi ia tidak bertanya lagi. Ia cukup pintar untuk tahu bahwa tidak semua pertanyaan punya jawaban yang bisa diucapkan. Ia hanya mengangguk. Lalu berjalan ke arah yang ditunjuk Cik Min.
Ia tidak tahu apakah itu arah yang benar. Tapi ia harus memilih. Karena tidak memilih berarti berdiri di simpang selamanya. Dan ia tidak punya waktu untuk berdiri di simpang selamanya. Sukirman menunggu. Ibu menunggu. Utang menunggu.
III. Sunarti Yang Tiba Ketiga, dan Berdiri di Ambang
Sunarti tiba ketiga.
Mamik berjalan di depannya, langkahnya mantap, tidak tergesa. Sunarti mengikuti di belakang, tubuhnya masih sakit setiap langkah terasa berat, setiap langkah mengirimkan gelombang rasa sakit dari pergelangan kaki yang masih memar, dari lutut yang masih bengkak, dari pinggul yang masih terasa seperti diremas-remas. Tapi ia tidak berhenti.
Mamik berhenti di simpang. "Kau tunggu di sini. Aku jemput yang lain."
Ia pergi. Meninggalkan Sunarti sendirian.
Sunarti berdiri di tengah simpang. Empat jalan. Empat arah. Empat kemungkinan.
Ia tidak tahu harus ke mana. Mamik tidak memberi tahu arah mana yang harus ia tuju. Mamik hanya berkata, "Kau tunggu di sini." Tapi berapa lama? Sampai kapan? Apa yang harus ia lakukan sambil menunggu? Duduk? Diam? Menangis?
Ia tidak terbiasa memilih. Sejak kecil, pilihan selalu dibuat oleh orang lain. Ayah yang memilih untuk menikahkannya dengan Karyono. Karyono yang memilih untuk membelinya. Ibu yang memilih untuk diam. Tetangga yang memilih untuk tidak peduli.
Tapi sekarang, ia berdiri di persimpangan. Dan tidak ada yang akan memilih untuknya.
Ia memandang ke empat arah. Semuanya sama. Ladang ilalang, jalan tanah, debu, dan langit senja yang semakin gelap. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada petunjuk. Tidak ada tanda.
Ia melihat Siti duduk di pinggir jalan. Ia melihat Suharni berjalan ke arah warung, bicara dengan Cik Min, lalu berjalan ke satu arah. Ia melihat perempuan-perempuan lain yang juga datang ke tempat ini, dengan luka yang berbeda, dengan cerita yang berbeda, dengan nasib yang mungkin sama.
Ia tidak menyapa. Ia tidak berani. Ia belum siap bicara. Belum siap menjelaskan siapa dirinya.
Ia duduk di pinggir jalan, di sisi yang lain. Memilih tempat yang paling jauh dari mereka berdua.
Ia memandangi papan kayu tua di tengah simpang. Simpang Kupu-Kupu. Di bawah papan itu, coretan yang sudah pudar. Mungkin gambar kupu-kupu. Mungkin hanya coretan anak-anak.
Ia tidak peduli. Yang penting, ia sudah sampai. Tidak ada yang mengejarnya di sini. Tidak ada suara Karyono. Tidak ada tangan yang memukul. Hanya angin, ilalang, dan sunyi.
Sunyi yang aneh. Sunyi yang tidak menakutkan. Sunyi yang seperti selimut membungkus, melindungi, memberi rasa aman yang tidak pernah ia rasakan.
Tapi di dalam sunyi itu, ia masih harus memilih. Masih harus memutuskan. Masih harus melangkah.
Ia belum siap. Tapi ia tidak punya waktu untuk menunggu sampai siap.
IV. Nadira Yang Tiba Paling Akhir, dan Belajar dari Pengamatan
Nadira tiba paling akhir.
Ia turun dari angkutan kota di pinggir jalan. Sopirnya, lelaki paruh baya dengan kopiah lusuh, menunjuk ke arah simpang. "Itu, Nduk. Turun sini."
Ia berjalan ke simpang. Kakinya sakit karena duduk terlalu lama di bus yang berdesakan. Tas kecil di tangan tas dari kain perca yang dijahit ibu, berisi dua potong baju ganti dan foto ayah.
Ia berdiri di tengah simpang. Empat jalan. Empat arah. Empat kemungkinan.
Ia sudah melihat tiga perempuan duduk di pinggir jalan. Mereka duduk berjauhan, tidak saling menatap. Masing-masing dengan wajah yang berbeda, dengan luka yang berbeda, dengan cerita yang berbeda.
Nadira tidak menyapa. Tidak berani. Tidak tahu harus bicara apa.
Ia memilih tempat yang masih kosong, di sisi lain simpang. Ia duduk, meletakkan tas kecil di pangkuan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat semuanya. Ia bisa melihat Siti yang duduk dengan karung kosong, memandangi ilalang dengan mata kosong. Ia bisa melihat Sunarti yang duduk sendiri, membungkuk, seperti sedang berusaha mengecilkan diri. Ia bisa melihat Suharni yang berjalan ke warung kecil di ujung simpang.
Nadira mengamati Suharni. Ia melihat Suharni bicara dengan Cik Min. Ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan terlalu jauh, terlalu banyak suara angin dan desiran ilalang. Tapi ia melihat Cik Min menunjuk ke satu arah. Lalu Suharni mengangguk, dan berjalan ke arah yang ditunjuk.
Nadira mencatat arah itu. Ia simpan di ingatannya.
Ia tidak langsung mengikuti. Ia bukan tipe yang mudah percaya pada petunjuk orang lain. Ia perlu melihat sendiri. Ia perlu merasakan sendiri. Ia perlu memastikan.
Tapi ia tidak membuang informasi itu. Ia menyimpannya. Karena di Badau, ia belajar bahwa informasi adalah hal yang langka. Bahwa orang yang tahu lebih banyak akan lebih selamat. Bahwa diam dan mengamati adalah cara terbaik untuk bertahan.
Ia duduk. Menunggu. Mengamati. Memastikan.
V. Di Ambang Mereka Berdiri, Belum Masuk
Mereka duduk berjauhan. Empat perempuan. Empat sudut simpang. Masing-masing dengan jarak yang cukup untuk tidak saling mendengar napas, tapi cukup dekat untuk saling melihat jika mereka menoleh.
Mereka tidak bicara. Tidak perlu. Mereka sudah mengerti. Mereka sudah sama-sama sampai di persimpangan ini. Mereka sudah sama-sama tidak tahu harus ke mana. Mereka sudah sama-sama meninggalkan sesuatu di belakang rumah, keluarga, kampung, masa lalu, luka, kenangan.
Tapi mereka belum masuk. Mereka masih di ambang. Masih di batas antara dua dunia antara yang lama yang telah ditinggalkan dan yang baru yang belum dimasuki.
Nadira memandang ke arah kompleks. Rumah-rumah kecil dengan pagar putih. Ia belum pernah melihat tempat seperti ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia masuk. Tapi ia tahu, ia tidak bisa kembali.
Suharni memegang buku catatan di sakunya. Ia ingin menulis. Ingin mencatat. Ingin mendokumentasikan. Tapi ia tidak tahu harus menulis apa. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini.
Sunarti memandangi papan kayu tua di tengah simpang. Simpang Kupu-Kupu. Ia tidak tahu mengapa tempat ini disebut demikian. Tapi ia melihat kupu-kupu beterbangan di atas ilalang. Kuning. Putih. Hitam. Mereka terbang tanpa beban. Mereka tidak tahu bahwa di bawah mereka, empat perempuan sedang berdiri di ambang.
Siti memegang karung kosong di sampingnya. Karung yang tidak berguna. Tapi ia tidak tega membuangnya. Karung itu adalah satu-satunya yang ia bawa dari Membalong. Satu-satunya yang tersisa dari ladang yang hancur. Satu-satunya yang mengingatkan bahwa dulu, sebelum semuanya berubah, ia pernah berdiri di atas tanahnya sendiri.
Mereka belum saling mengenal. Mereka belum tahu nama satu sama lain. Mereka belum tahu cerita satu sama lain.
Tapi mereka tahu satu hal: mereka semua berdiri di ambang yang sama. Mereka semua akan masuk ke tempat yang sama. Mereka semua akan memulai hidup baru di tempat yang sama.
VI. Memutuskan di Ambang Masing-Masing dengan Caranya Sendiri
Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan, perlahan berubah menjadi ungu di puncaknya. Kupu-kupu masih beterbangan di atas ilalang, tidak peduli dengan empat perempuan yang duduk di bawah mereka.
Suharni berdiri paling pertama.
Ia tidak perlu bertanya lagi. Ia sudah mendapat petunjuk dari Cik Min. Ia sudah memilih arah. Ia sudah memutuskan.
Ia berjalan ke arah kompleks. Langkahnya tegas, tidak ragu. Bukan karena ia yakin itu arah yang benar. Tapi karena ia sudah terbiasa memutuskan. Sejak kecil, ia harus memutuskan apakah akan membantu ibu mencuci atau menjaga Sukirman, apakah akan membeli beras atau membayar utang, apakah akan diam atau bertanya. Ia tidak takut salah. Yang ia takutkan adalah tidak memutuskan sama sekali.
Sunarti berdiri kedua.
Ia melihat Suharni berjalan. Ia tidak tahu apakah Suharni tahu arah yang benar. Tapi ia tidak bisa memilih sendiri. Ia terlalu lama tidak diberi pilihan. Ia lupa caranya memilih. Tapi ia tahu cara mengikuti. Dan mengikuti lebih baik daripada berdiri diam.
Ia berjalan mengikuti Suharni. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk tidak kehilangan arah.
Siti berdiri ketiga.
Ia tidak mengikuti Suharni atau Sunarti. Ia mengambil karung kosongnya, meletakkannya di pundak, dan berjalan ke arah yang sama. Bukan karena ia mengikuti. Tapi karena ia sudah memilih arah itu sejak tadi, sejak ia duduk di pinggir jalan, sejak ia memandangi ilalang dan berpikir tentang Rina dan Roni. Sejak ia memutuskan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk mereka.
Nadira berdiri paling akhir.
Ia tidak mengikuti siapa pun. Ia sudah mencatat arah yang ditunjuk Cik Min. Ia sudah mengamati Suharni yang berjalan ke arah itu. Ia sudah melihat Sunarti dan Siti mengikuti. Tapi ia tidak serta-merta mengikuti.
Ia memejamkan mata. Merenung. Memastikan.
Di dalam gelap, ia melihat ayah. Ayah yang tersenyum dengan gigi ompongnya. Ayah yang berdiri di dermaga dengan jaring di tangan. Ayah yang tidak pernah kembali.
Ia membuka mata. Ia berdiri.
Ia berjalan ke arah yang sama. Bukan karena ia mengikuti Suharni. Bukan karena ia percaya pada petunjuk Cik Min. Tapi karena ia sudah memilih arah itu sejak awal sejak ia melihat Suharni di pasar, sejak ia mendengar cerita tentang Simpang, sejak ia memutuskan untuk meninggalkan Badau. Arah yang ia pilih ternyata sama dengan arah yang dipilih Suharni. Bukan kebetulan. Tapi karena mereka berdua, meskipun tidak saling kenal, meskipun datang dari kampung yang berbeda, meskipun memiliki luka yang berbeda, telah sampai pada kesimpulan yang sama.
Mereka berjalan beriringan. Tidak bicara. Tidak saling menatap. Tidak perlu.
Mereka masih di ambang. Masih di batas. Belum masuk. Tapi mereka sudah memutuskan. Mereka sudah melangkah.
VII. Mamik Datang Menyambut di Ambang
Mamik datang dari arah kompleks.
Ia berjalan mendekat, pelan, tidak tergesa seperti orang yang tidak perlu membuktikan apa pun, seperti orang yang sudah tahu bahwa ia akan didengarkan meskipun ia bicara pelan, seperti orang yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa harus berteriak.
Bajunya sederhana tapi rapi kain batik tulis, warna biru tua dengan motif burung dan bunga. Rambutnya disanggul dengan tusuk konde perak. Anting-anting mutiara kecil di telinga. Sepatu sandal kulit hitam yang mengilap.
Ia berdiri di depan mereka. Matanya memindai mereka satu per satu. Tidak tergesa. Tidak terburu-buru. Seperti ia sudah tahu siapa mereka, sudah tahu dari mana mereka berasal, sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Nadira?"
Nadira mengangguk. Anggukan kecil, hampir tidak terlihat. Tapi Mamik melihatnya.
"Suharni?"
Suharni mengangguk. Anggukan tegas, pasti. Tidak ada keraguan.
"Sunarti? Siti?"
Sunarti mengangguk pelan, nyaris tidak terlihat. Siti mengangguk sambil memandang ke arah kompleks.
Mamik tersenyum. Bukan senyum hangat. Bukan senyum yang membuat orang merasa di rumah. Senyum penerimaan. Senyum yang mengatakan: Kalian sudah sampai. Kalian sudah memilih. Kalian sudah meninggalkan keraguan. Sekarang, ikuti aku. Aku akan menunjukkan jalan yang kalian pilih.
"Selamat datang di Simpang Kupu-Kupu."
Ia berbalik. Berjalan ke arah kompleks.
Mereka mengikutinya. Masih berjauhan. Masih tidak bicara. Masih belum saling mengenal.
Tapi mereka berjalan bersama. Ke arah yang sama. Ke tempat yang sama.
Nadira di belakang, masih mengamati. Suharni di depan, sudah tahu arah. Sunarti di tengah, mengikuti. Siti di sisi lain, dengan karung kosong di pundak.
Meninggalkan simpang empat. Meninggalkan papan kayu tua dengan tulisan yang hampir pudar. Meninggalkan ilalang yang bergoyang di angin senja. Meninggalkan keraguan yang sempat singgah, lalu pergi, tidak pernah kembali.
VIII. Di Ambang, Mereka Belajar Bahwa...
Di ambang simpang, Suharni belajar bahwa bertanya adalah keberanian. Bahwa informasi adalah kekuatan. Bahwa ia tidak perlu tahu segalanya sebelum memutuskan.
Di ambang simpang, Nadira belajar bahwa mengamati adalah cara belajarnya. Bahwa ia tidak perlu menjadi yang pertama. Bahwa ia bisa belajar dari orang lain tanpa harus mengakuinya.
Di ambang simpang, Sunarti belajar bahwa mengikuti bukanlah kelemahan. Bahwa kadang, satu-satunya cara untuk memulai adalah dengan mengikuti orang yang lebih tahu.
Di ambang simpang, Siti belajar bahwa ia bisa memilih sendiri. Bahwa ia tidak perlu bertanya pada siapa pun. Bahwa tekadnya sudah cukup untuk menunjukkan arah.
Di ambang simpang, mereka belajar bahwa tidak ada petunjuk. Tidak ada tanda. Tidak ada yang akan membimbing mereka. Hanya ada pilihan. Hanya ada keputusan. Hanya ada keberanian untuk melangkah meskipun tidak tahu ke mana.
Di ambang simpang, mereka belajar bahwa berdiri diam bukanlah pilihan. Bahwa menunggu kejelasan bukanlah strategi. Bahwa hidup tidak akan memberi mereka peta. Mereka harus membuat peta sendiri.
Di ambang simpang, mereka belajar bahwa mereka tidak sendirian. Meskipun tidak saling kenal, meskipun tidak saling bicara, mereka ada bersama. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Di persimpangan yang sama.
Dan mereka melangkah. Bersama. Ke dalam kompleks. Ke dalam kehidupan yang tidak mereka kenal. Ke dalam masa depan yang tidak bisa mereka lihat.
Di pohon keremunting di pinggir simpang, di bawah daun-daun kecil yang bergoyang ditiup angin, seekor kupu-kupu betina sedang meletakkan telurnya. Butiran-butiran putih kecil, diletakkan di tempat tersembunyi, di bawah daun yang cukup rindang untuk melindungi dari panas, di bawah daun yang cukup kuat untuk menahan hujan.
Telur-telur itu tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu. Tidak tahu akan menjadi ulat yang kuat atau mati sebelum sempat tumbuh. Tidak tahu akan terbang atau tinggal selamanya di tanah.
Tapi induknya telah memilih. Telur-telur itu diletakkan di tempat yang ia yakini aman.
Seperti Mamik. Seperti Simpang. Seperti mereka yang datang dan pergi, yang memilih untuk tinggal, yang membangun kehidupan dari puing-puing, yang bertahan di tanah yang tidak pernah cukup memberi.
Bersambung ke Bab 8: Simpang Empat
Komentar
Posting Komentar