Bab 6: Jalan Panjang ke Simpang

Latar: Badau, Parit, Tanjungpandan, Membalong, 1997


I. Nadira Bus yang Membawa Harapan

Bus dari Manggar menuju Tanjungpandan lewat Badau sekitar jam enam pagi. Tapi hari itu, bus datang jam setengah delapan. Mogok di perjalanan, kata sopir. Ban bocor. Harus ganti di bengkel pinggir jalan.

Nadira sudah menunggu sejak langit masih ungu, sejak ayam belum berkokok, sejak embun masih menggantung di ujung daun kelapa. Ia berdiri di pinggir jalan, tas kecil di tangan, sesekali melirik ke arah kampung yang mulai terlihat dari balik pohon kelapa. Rumahnya tidak terlihat dari sini. Hanya atap-atap seng yang mengilap terkena sinar matahari pagi. Tapi ia tahu, di rumah itu, ibu mungkin sudah bangun. Mungkin sudah menemukan surat di bawah bantal. Mungkin sudah berdiri di pintu, memandang ke arah jalan raya, menunggu anaknya kembali.

Ia menggenggam foto ayah di saku. Jari-jarinya menyentuh kertas yang sudah lusuh, pinggirannya sudah robek, warnanya sudah pudar. Foto itu satu-satunya yang ia punya. Satu-satunya yang tidak akan pernah ia tinggalkan.

Bus datang dengan suara mesin yang tersendat-sendat, seperti orang yang kehabisan napas, seperti orang yang terlalu lama berlari dan akhirnya berhenti, seperti sesuatu yang dipaksakan terus bekerja meskipun sudah tua dan rusak. Pintu terbuka dengan bunyi berdecit bunyi yang mengingatkan pada pintu rumahnya yang tidak pernah bisa tertutup rapat, pada pintu dapur yang selalu macet, pada pintu-pintu yang tidak pernah sempurna karena tidak ada uang untuk memperbaikinya.

Nadira naik. Kakinya terasa berat, seperti tidak ingin meninggalkan tanah Badau, seperti ingin berteriak aku tidak jadi pergi, seperti ingin kembali ke rumah dan memeluk ibu dan membatalkan semua yang sudah ia rencanakan. Tapi ia tetap naik. Ia memaksa kakinya melangkah. Satu. Dua. Tiga.

Ia duduk di kursi dekat jendela. Kursi keras, dilapisi vinil yang sudah robek di beberapa tempat, busa kuningnya keluar seperti daging yang terluka. Di kursi sebelahnya, seorang laki-laki paruh baya dengan karung beras di pangkuan. Karung beras yang mirip dengan karung yang dulu sering ia lihat di rumah karung yang sama, dengan tulisan yang sama, dengan bau yang sama. Bau apek. Bau gabah. Bau kehidupan yang terus berjalan meskipun sulit.

Laki-laki itu tidak menyapanya. Tidak menatapnya. Ia hanya duduk diam, memandang ke luar jendela, sesekali mengusap karung berasnya seperti mengusap sesuatu yang berharga. Mungkin ia juga sedang dalam perjalanan. Mungkin ia juga meninggalkan sesuatu. Mungkin ia juga membawa harapan dalam karung berasnya.

Bus bergerak. Mesinnya meraung, seperti mengumpulkan tenaga, seperti tidak mau kalah dengan usia, seperti masih ingin terus berjalan meskipun sulit.

Perlahan, kampung Badau mulai tertinggal.

Nadira memandang ke luar jendela. Rumah-rumah panggung yang dulu ia lewati setiap hari rumah Mak Lijah dengan cat biru yang mengelupas, rumah Pak RT dengan ayam-ayamnya yang berkeliaran, rumah kosong bekas keluarga yang pindah karena tambang semakin kecil, semakin kecil, sampai akhirnya hanya titik-titik kecil di kejauhan yang tidak bisa lagi disebut rumah.

Pohon-pohon kelapa yang dulu menjadi tempatnya bermain, memanjat batangnya yang licin, mengambil buahnya yang hijau, meminum airnya yang segar semakin jauh, semakin kabur, sampai akhirnya tertutup oleh kabut pagi yang mulai menguap.

Dermaga kayu yang dulu menjadi tempatnya duduk menunggu ayah dermaga yang sudah lapuk, yang papan-papannya sudah banyak yang lepas, yang tidak pernah diperbaiki karena tidak ada yang peduli semakin kecil, semakin kecil, sampai akhirnya hilang di balik tikungan.

Laut yang hijau pekat yang dulu biru, yang dulu jernih, yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaannya bersama ayah semakin jauh, semakin kabur, sampai akhirnya hanya garis tipis di cakrawala yang tidak bisa lagi disebut laut.

Nadira memejamkan mata. Tidak ingin menangis. Tidak ingin air mata jatuh di depan orang asing. Tidak ingin menunjukkan kelemahan.

Ia tidak menangis. Ia sudah memutuskan. Tidak ada gunanya menangis.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang hancur. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tidak bisa ia sentuh, tapi bisa ia rasakan. Hancur seperti rumah yang ditinggalkan. Hancur seperti hati yang ditinggalkan. Hancur seperti masa kecil yang tidak akan pernah kembali.


II. Suharni Vespa di Jalan Tanah

Vespa Pak Mul melaju pelan di jalan tanah yang berdebu. Bukan pelan karena mesinnya lemah mesinnya cukup kencang untuk ukuran vespa tua. Tapi pelan karena Pak Mul sengaja melambat. Mungkin karena ia ingin menghindari lubang-lubang di jalan. Mungkin karena ia ingin menikmati perjalanan. Mungkin karena ia tahu bahwa di boncengan di belakangnya, ada seorang anak perempuan yang sedang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang tidak akan pernah sama.

Debu beterbangan di belakang mereka, mengepul seperti asap, menutupi jejak yang mereka tinggalkan. Seperti mereka tidak ingin diketahui. Seperti mereka ingin menghilang. Seperti mereka sedang melarikan diri dari sesuatu dari utang, dari kemiskinan, dari masa lalu yang tidak bisa diubah.

Suharni memejamkan mata. Angin malam masih dingin, masih menusuk kulitnya yang tipis kulit yang dulu lembut, yang dulu tidak pernah merasakan dingin begini, yang dulu hanya merasakan hangatnya pelukan ibu. Sekarang, kulit itu sudah mulai mengeras. Seperti hatinya. Seperti tekadnya.

Rambutnya berkibar, kadang masuk ke mulut, tapi ia tidak peduli. Ia membiarkan rambutnya bergoyang, membiarkan angin membawa bau tanah dan rumput kering dan sesuatu yang tidak bisa ia kenali.

Pak Mul membawanya memutar. Tidak lewat jalan utama yang ramai. Mereka lewat jalan tanah di belakang pasar, melewati perkampungan yang lampunya mulai redup satu per satu seperti mata yang perlahan menutup, seperti rumah yang mulai tidur, seperti kehidupan yang berhenti sejenak sebelum esok dimulai lagi.

Mereka melewati ladang ilalang yang terbentang luas di bawah sinar bulan. Ilalang bergoyang pelan, seperti ribuan tangan yang melambai, seperti orang-orang yang mengucapkan selamat tinggal, seperti roh-roh yang tidak bisa tidur karena masih ada yang belum selesai.

"Kita ke mana?" tanya Suharni. Suaranya hampir tidak terdengar di antara gemuruh mesin vespa dan desiran angin. Tapi Pak Mul mendengar.

"Simpang," jawab Pak Mul. Suaranya datar, tidak berubah. Seperti ia sudah mengucapkan kata itu ribuan kali. Seperti kata itu sudah tidak punya makna lagi baginya. Seperti kata itu hanya sekadar tempat, bukan harapan, bukan ketakutan, bukan apa-apa.

"Jauh dari keramaian. Sunyi. Itu yang kau butuhkan, kan?"

Suharni tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang ia butuhkan. Yang ia tahu, Sukirman harus hidup. Dan untuk itu, ia harus melakukan apa pun.

Ia memejamkan mata lagi. Dalam gelap, ia melihat tangan ibunya. Pecah-pecah. Kasar. Tapi hangat. Tangan yang sama yang dulu membelai rambutnya waktu kecil. Tangan yang sama yang dulu membacakan doa sebelum tidur. Tangan yang sama yang sekarang memegang uang di rumah sakit uang yang akan menyelamatkan Sukirman, uang yang akan membeli nyawa adiknya, uang yang akan membeli tubuhnya.

Ia tidak tahu apakah ibunya akan marah. Tidak tahu apakah ibunya akan kecewa. Tidak tahu apakah ibunya akan menangis ketika tahu dari mana uang itu berasal.

Tapi ia tidak punya pilihan. Tidak ada pilihan lain.

Vespa melaju. Jalanan semakin sepi. Rumah-rumah semakin jarang. Lampu-lampu semakin redup. Kadang hanya satu atau dua titik cahaya di kejauhan mungkin dari rumah petani yang masih bangun, mungkin dari warung yang masih buka, mungkin dari laki-laki yang juga sedang dalam perjalanan, seperti dirinya.

Suharni membuka mata. Memandang ke depan. Jalan yang gelap. Jalan yang tidak ada ujungnya. Jalan yang mungkin tidak membawanya ke mana-mana. Tapi ia harus tetap berjalan. Karena berhenti berarti mati. Karena kembali berarti kalah.

Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat. Tas yang berisi baju ganti. Tas yang berisi uang sisa dari opname Sukirman. Tas yang berisi harapan.


III. Sunarti Berjalan Tanpa Tujuan, Berhenti Tanpa Arah

Sunarti berjalan kaki. Tidak tahu arah. Tidak tahu ke mana. Hanya tahu: ia harus pergi. Jauh. Sejauh mungkin. Tidak akan kembali. Tidak akan pernah kembali.

Mobil angkutan kota yang ditumpanginya bersama Mamik telah berputar-putar di jalanan Tanjungpandan, menurunkan penumpang satu per satu. Seorang ibu dengan anak balita turun di depan pasar anak itu menangis, merengek minta dibelikan mainan, tapi ibunya hanya diam, menarik tangannya, terus berjalan. Seorang laki-laki tua dengan karung sayur turun di dekat pelabuhan ia membayar dengan uang receh, berlama-lama menghitung, seperti tidak ingin cepat-cepat turun. Seorang pemuda dengan tas ransel turun di terminal ia melambai pada sopir, tersenyum, seperti orang yang baru memulai petualangan.

Sunarti tidak tersenyum. Ia tidak memulai petualangan. Ia melarikan diri.

Sekarang, ia berjalan kaki di jalan yang tidak ia kenal. Kaki yang masih sakit, yang masih memar, yang masih terasa seperti bukan miliknya. Tapi ia terus berjalan. Tidak berhenti. Tidak bisa berhenti.

Jalanan mulai sepi. Rumah-rumah panggung berganti dengan ladang ilalang yang terbentang luas. Ilalang bergoyang pelan, seperti lautan yang tenang, seperti tempat yang aman, seperti sesuatu yang menerima tanpa bertanya.

Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai redup. Satu per satu padam. Seperti orang-orang yang mulai tidur. Seperti kehidupan yang berhenti untuk sementara. Seperti dunia yang tidak peduli bahwa ada seorang anak perempuan yang sedang berjalan sendirian di kegelapan, tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa siapa pun.

Sunarti tidak takut. Ia sudah tidak punya apa-apa untuk ditakuti. Yang terburuk sudah ia alami. Yang paling sakit sudah ia rasakan. Yang paling gelap sudah ia lewati.

Ia hanya berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Kadang ia berhenti. Memandang ke kiri. Memandang ke kanan. Memastikan tidak ada yang mengikutinya. Memastikan Karyono tidak tiba-tiba muncul dari balik semak, menarik tangannya, memukulnya, membawanya kembali ke kontrakan sempit itu.

Tapi tidak ada siapa pun. Hanya ilalang. Hanya angin. Hanya suara jangkrik dari kejauhan.

Ia terus berjalan.

Di sudut jalan, ia melihat warung kecil. Lampu minyak menyala redup, menerangi etalase kaca yang berisi rokok dan permen dan sabun. Seorang perempuan tua duduk di kursi kayu, mengelap gelas dengan kain lap yang sudah usang. Matanya menangkap Sunarti.

"Nak, mau ke mana?"

Sunarti tidak menjawab. Ia hanya diam. Tidak tahu harus bicara apa.

"Kau tersesat?"

Sunarti menggeleng. Tidak. Ia tidak tersesat. Ia hanya tidak tahu harus ke mana.

Perempuan tua itu menghela napas. "Duduk dulu. Nanti juga kau tahu."

Sunarti tidak duduk. Ia tidak punya waktu untuk duduk. Ia harus terus berjalan. Karena jika ia berhenti, ia akan berpikir. Dan jika ia berpikir, ia akan menangis. Dan jika ia menangis, ia tidak akan bisa melanjutkan.

Ia terus berjalan. Meninggalkan warung itu. Meninggalkan perempuan tua yang mungkin baik hati. Meninggalkan satu-satunya orang yang menawarkan kebaikan di tengah perjalanannya.

Ia tidak tahu bahwa perempuan tua itu adalah Cik Min. Tidak tahu bahwa warung itu akan menjadi tempatnya singgah suatu hari nanti. Tidak tahu bahwa di simpang yang tidak jauh dari sana, tiga perempuan lain sedang menunggu tidak sabar, tidak tenang, tidak yakin sama seperti dirinya.


IV. Siti Ojek di Antara Dua Dunia

Terminal Tanjungpandan ramai meski hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu neon berkedap-kedip beberapa mati, beberapa menyala redup, seperti mata yang tidak bisa tidur, seperti lampu-lampu di rumah sakit tempat Sukirman terbaring, seperti harapan yang tidak pernah benar-benar padam meskipun hampir mati.

Bau knalpot, bau minyak tanah, bau keringat semua bercampur menjadi satu. Bau yang mengingatkan pada pasar, pada pelabuhan, pada tempat-tempat di mana orang-orang berdesakan, di mana orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing, di mana orang-orang tidak peduli siapa yang datang dan pergi.

Siti berdiri di depan terminal, karung kosong di pundak, matanya mencari-cari. Ia belum pernah ke Tanjungpandan. Belum pernah sejauh ini dari Membalong. Ia hanya tahu dari cerita orang-orang bahwa kota ini besar, bahwa kota ini ramai, bahwa kota ini penuh dengan orang-orang yang datang dari berbagai kampung, dengan harapan yang sama ingin hidup lebih baik.

Seorang laki-laki dengan ojek menghampirinya. "Mpok, mau ke mana?"

"Simpang," jawab Siti. "Tahu?"

Laki-laki itu mengangguk. "Naik. Nanti saya antar."

Siti naik ke boncengan ojek. Ojek itu tua mesinnya meraung seperti harimau yang kelaparan, knalpotnya mengeluarkan asap hitam yang mengepul, stangnya sudah berkarat di beberapa tempat. Tapi laki-laki itu membawanya dengan hati-hati, menghindari lubang, tidak terburu-buru.

Mereka melaju meninggalkan terminal. Jalanan semakin sepi semakin jauh dari kota. Rumah-rumah berganti ladang, ladang berganti ilalang, ilalang berganti gelap. Gelap yang pekat. Gelap yang tidak ada ujungnya. Gelap yang seperti langit di Membalong ketika malam tiba, ketika tidak ada listrik, ketika hanya ada bulan dan bintang yang sesekali tertutup awan.

Angin malam menyapu wajahnya, membawa bau tanah dan rumput kering dan sesuatu yang tidak bisa ia kenali. Rambutnya berkibar, kadang masuk ke mulut, kadang menampar pipinya, tapi ia tidak peduli.

Ia memandang ke depan. Ke jalan yang semakin gelap. Ke tempat yang tidak ia kenal. Ke masa depan yang tidak bisa ia lihat.

Ia tidak takut. Ia sudah tidak punya apa-apa untuk ditakutkan.

Tapi di hatinya, ada yang bergemuruh. Bukan suara ojek. Bukan suara angin. Tapi suara keraguan. Keraguan yang bertanya: Apakah ini keputusan yang benar? Apakah ada jalan lain? Apakah ia akan selamat? Apakah ia akan berhasil?

Ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu.

Tapi ia sudah memutuskan. Ia tidak akan kembali. Ia akan terus berjalan. Sampai di mana pun jalan ini membawanya.


V. Mereka Jalan Panjang Menuju Satu Titik

Mereka tidak saling kenal. Mereka datang dari arah berbeda. Dari Badau, dari Parit, dari Membalong. Dari kampung-kampung yang namanya tidak pernah terdengar di kota. Mereka datang dengan bus, dengan vespa, dengan mobil angkutan, dengan ojek. Dengan cara masing-masing. Dengan luka masing-masing. Dengan harapan masing-masing.

Tapi malam itu, di kota Tanjungpandan yang sama, di bawah langit yang sama, di jalan yang sama, mereka berjalan menuju tempat yang sama.

Mereka tidak tahu bahwa di simpang empat yang sunyi, di antara ladang ilalang yang bergoyang, mereka akan bertemu. Mereka tidak tahu bahwa di tempat yang tidak pernah mereka pilih itu, mereka akan menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka cari. Mereka tidak tahu bahwa di tempat yang akan mereka singgahi, mereka akan belajar bahwa bertahan tidak harus sendirian.

Nadira turun dari bus. Kaki yang pegal, punggung yang sakit, mata yang sembab tapi ia tetap berdiri. Ia memandang sekeliling. Tidak ada yang familiar. Hanya ilalang, hanya jalan tanah, hanya langit yang mulai gelap.

Suharni turun dari vespa. Pak Mul pergi tanpa pamit. Ia berdiri di pinggir jalan, memegang tas kecil, tidak tahu harus ke mana. Ia melihat warung kecil di kejauhan lampu minyak menyala redup. Ia berjalan ke sana. Perlu bertanya. Perlu arah.

Sunarti masih berjalan. Kaki yang lelah, tubuh yang sakit, tapi ia tidak berhenti. Ia melihat simpang di depannya empat jalan bertemu di satu titik. Ia berhenti. Tidak tahu harus memilih yang mana.

Siti turun dari ojek. Membayar dengan uang pas-pasan yang ia pinjam dari Mbok Darmi uang yang terakhir, uang yang tidak akan cukup untuk kembali. Ia berdiri di simpang. Memandangi papan kayu tua dengan tulisan yang hampir pudar. SIMPANG KUPU-KUPU.

Mereka belum saling melihat. Mereka belum tahu bahwa di simpang ini, kehidupan mereka akan bertemu. Tapi mereka sudah dalam perjalanan. Dan perjalanan itu akan membawa mereka ke satu tempat.


Di sepanjang jalan, di bawah cahaya bulan yang redup, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.

Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.

Seperti mereka. Suatu hari.


Bersambung ke Bab 7: Di Ambang Simpang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

SINOPSIS