Bab 1: Garis Pantai yang Putus

Latar: Badau, Belitung, 1997


I. Hidup yang Bersandar pada Laut

Badau adalah kampung nelayan di pesisir utara Belitung. Rumah-rumah panggung berjejar di sepanjang pantai, berjarak satu sama lain, dengan halaman luas yang kadang digunakan untuk menjemur ikan, kadang untuk anak-anak berlarian mengejar ayam, kadang hanya untuk duduk diam memandangi laut yang membentang biru kehijauan atau dulu biru kehijauan, sebelum tambang datang, sebelum warna laut berubah menjadi hijau pekat seperti air kolam yang lama tidak diganti, seperti mata yang terlalu lama menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat, seperti luka yang tidak kunjung sembuh.

Di pagi hari, ketika matahari baru muncul dari ufuk timur dan cahaya keemasan menyapu atap-atap seng yang mengilap, kampung ini terlihat seperti lukisan yang dilukis dengan tangan yang sabar tangan yang tahu bahwa keindahan tidak perlu terburu-buru, tangan yang tahu bahwa cahaya terbaik adalah cahaya pertama, ketika kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon kelapa, ketika embun masih basah di daun-daun pisang, ketika burung-burung belum mulai berkicau dan ayam-ayam masih setengah tidur di atas kandang.

Tapi bagi penduduk Badau, pemandangan itu bukan lukisan. Itu adalah kehidupan. Kehidupan yang setiap pagi dimulai dengan harapan yang sama: laut akan memberi. Laut akan memberi ikan. Laut akan memberi makan anak-anak. Laut akan memberi kehidupan untuk satu hari lagi.

Setiap pagi, ketika ayam-ayam mulai berkokok dan kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon kelapa, para nelayan sudah bersiap di dermaga. Mereka memeriksa jaring satu per satu memperbaiki yang sobek, mengganti yang sudah tidak layak, memastikan tidak ada lubang yang cukup besar untuk dilewati ikan. Mereka mengisi perahu dengan bekal nasi bungkus, air dalam jeriken plastik bekas, kadang sebungkus rokok kretek untuk teman menunggu di tengah laut. Mereka berbincang tentang arah angin, tentang kemungkinan ikan di laut, tentang siapa yang kemarin dapat banyak, siapa yang pulang dengan perahu kosong, siapa yang tidak pulang sama sekali.

Anak-anak kecil berlarian di sepanjang pantai, sesekali berteriak memanggil teman, sesekali berhenti untuk melihat ombak yang menghantam pasir ombak yang datang dan pergi, datang dan pergi, seperti napas yang tidak pernah berhenti, seperti jantung yang terus berdetak, seperti harapan yang tidak pernah mati meskipun sering kali tidak terkabul. Ibu-ibu duduk di beranda rumah, menjemur ikan asin di para-para bambu ikan yang kemarin masih hidup, yang kemarin masih berenang di laut, yang sekarang terbujur kaku di bawah sinar matahari, mengering, menunggu untuk dimasak, menunggu untuk dimakan, menunggu untuk menjadi kehidupan bagi kehidupan lain.

Sesekali, seorang ibu melambai pada suami atau anak yang akan melaut. Lambaian yang tidak perlu diartikan dengan kata-kata. Lambaian yang berarti: hati-hati. Cepat pulang. Aku menunggu. Lambaian yang mungkin tidak dibalas, tapi tetap diberikan, setiap pagi, seperti doa yang tidak pernah putus, seperti ritual yang tidak boleh ditinggalkan karena jika ditinggalkan, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di laut?

Itu dulu.

Itu dulu, ketika laut masih biru. Itu dulu, ketika ikan masih banyak. Itu dulu, ketika nelayan masih pulang dengan perahu penuh, ketika istri-istri masih tersenyum menerima hasil tangkapan, ketika anak-anak masih makan ikan setiap hari, ketika kampung ini masih ramai dengan suara orang yang percaya bahwa besok akan lebih baik dari hari ini.

Sekarang, dermaga itu sunyi.

Perahu-perahu nelayan yang dulu berjajar rapi di tepi pantai perahu kayu dengan lambung yang dicat biru dan putih, dengan layar yang kadang robek karena angin kencang, dengan mesin tempel yang bunyinya seperti orang batuk kini hanya beberapa. Itupun dengan cat yang terkelupas di mana-mana, memperlihatkan kayu di bawahnya yang sudah lapuk dimakan air laut dan waktu. Mesin-mesin tempel yang dulu meraung setiap pagi, sekarang diam, berkarat, tidak ada yang memperbaiki karena tidak ada uang untuk membeli suku cadang, tidak ada ikan yang cukup untuk membenarkan biaya perbaikan.

Nelayan yang masih bertahan harus melaut lebih jauh berjam-jam meninggalkan kampung, melewati batas di mana dulu mereka tidak perlu pergi, melewati perairan yang dulu mereka hindari karena terlalu dalam, terlalu berbahaya, terlalu dekat dengan jalur kapal-kapal besar. Mereka harus melaut lebih lama berhari-hari, tidak lagi pulang setiap sore seperti dulu, tidak lagi mencium bau masakan istri dari kejauhan, tidak lagi mendengar suara anak-anak yang berlarian menyambut kepulangan. Mereka harus melaut dengan hasil yang tidak seberapa kadang hanya cukup untuk makan satu hari, kadang tidak cukup sama sekali, kadang mereka pulang dengan tangan kosong dan perut lapar dan hati yang semakin hari semakin keras karena harus menjelaskan pada istri mengapa tidak ada ikan, pada anak-anak mengapa perut mereka masih keroncongan, pada diri sendiri mengapa mereka masih bertahan di laut yang sudah mati.

Di kejauhan, kapal-kapal keruk tambang bergerak lambat di cakrawala, seperti raksasa yang tidak pernah tidur raksasa besi dengan mesin yang gemuruhnya terdengar sampai ke kampung, dengan lampu-lampu yang menyala terang di malam hari, dengan kerukan-kerukan besi yang mengambil timah dari dasar laut, yang mengambil kehidupan dari laut, yang mengambil masa depan dari kampung ini. Suaranya gemuruh, mengusik setiap mimpi, membuat anak-anak terbangun di tengah malam, membuat orang-orang tua menghela napas panjang dan berdoa pada Tuhan yang mungkin tidak mendengar karena terlalu sibuk dengan doa-doa dari tempat lain. Jejak air keruh membentang panjang di belakang kapal itu, seperti luka yang tidak kunjung sembuh, seperti bekas sayatan yang menganga, seperti warna laut yang perlahan-lahan mati, tidak lagi biru, tidak lagi hijau, hanya keruh, hanya kusam, hanya kelabu seperti hati orang-orang yang melihatnya.

Tapi laut masih laut. Masih bergerak. Masih bernapas. Masih memberi. Meskipun warnanya berubah, meskipun ikannya semakin sedikit, meskipun kapal-kapal tambang terus datang dan pergi tanpa pernah peduli, laut tetap bergerak. Ombak tetap datang dan pergi. Pasang surut tetap terjadi setiap hari. Laut tidak pernah berhenti. Laut tidak pernah mengeluh. Laut hanya terus bergerak, terus bernapas, terus memberi meskipun yang bisa diberikannya semakin sedikit, meskipun yang menerima semakin sedikit yang bersyukur.

Seperti penduduk Badau. Seperti nelayan-nelayan yang masih bertahan. Seperti Nadira.


II. Di Ujung Dermaga

Nadira duduk di ujung dermaga kayu, seperti yang sering ia lakukan sejak kecil sejak ia masih bisa tertawa lepas tanpa beban, sejak ia masih belum tahu bahwa laut bisa mati, sejak ia masih percaya bahwa ayah akan selalu pulang dengan perahu penuh ikan. Kakinya yang berkulit sawo matang menjuntai di atas air yang bergerak pelan air yang sekarang berwarna hijau pekat, keruh, seperti air kolam yang tidak pernah diganti, seperti air yang sudah terlalu lama menampung kesedihan. Telapak kakinya sesekali menyentuh permukaan air, membuat riak-riak kecil yang segera menghilang, ditelan ombak yang lebih besar, seperti kenangan yang ditelan waktu, seperti harapan yang ditelan kenyataan.

Dari sini, ia bisa melihat seluruh teluk. Teluk yang dulu biru jernih, tempat ia dan teman-temannya berenang sambil tertawa berenang sampai kulit mereka terbakar matahari, sampai rambut mereka kering oleh garam, sampai suara mereka serak karena berteriak kesenangan. Teluk tempat ia belajar menyelam, belajar menahan napas di bawah air, belajar membuka mata di dalam laut dan melihat ikan-ikan kecil berenang di antara karang. Teluk tempat ia pertama kali merasakan bahwa laut bukan hanya tempat ayah mencari ikan, tapi juga tempat bermain, tempat berpetualang, tempat di mana ia bisa menjadi siapa pun yang ia mau.

Sekarang, warna laut itu hijau pekat. Tidak ada lagi yang berenang di sini. Tidak ada lagi anak-anak yang tertawa. Tidak ada lagi ikan-ikan kecil yang berenang di antara karang karang-karang itu sudah mati, tertutup lumpur, tidak bisa bernapas, seperti laut itu sendiri. Tapi ombaknya masih sama. Suaranya masih sama. Seperti sesuatu yang tidak mau berubah meskipun di sekelilingnya semuanya berubah. Seperti laut yang tetap bergerak meskipun ia sekarat. Seperti Nadira yang tetap duduk di dermaga ini meskipun ayahnya tidak akan pernah kembali.

Di tangannya, sebuah foto lusuh.

Foto itu sudah ia pegang ribuan kali sampai pinggirannya robek, sampai warnanya pudar, sampai ia hafal setiap garis di wajah ayah, setiap kerutan di dahi, setiap lekuk senyum. Seorang laki-laki berdiri di dermaga yang sama, memegang jaring ikan, tersenyum lebar. Gigi depannya agak ompong dulu, kata ibu, gigi itu patah terkena pukulan joran saat memancing ikan besar di tengah laut, ketika ia masih muda, ketika ia masih kuat, ketika ia masih percaya bahwa laut akan selalu memberinya kehidupan.

Ibu selalu bilang senyum ompong ayah itu lucu. Seperti anak kecil yang kehilangan gigi susu. Seperti orang yang tidak perlu tampil sempurna untuk menjadi bahagia. Seperti orang yang tahu bahwa yang terpenting bukanlah penampilan, tapi hati yang tulus, tekad yang kuat, cinta yang tidak pernah pudar meskipun badai datang dan pergi.

Itu dulu. Empat puluh hari yang lalu.

Perahu itu ditemukan dua minggu setelah ia pergi. Hancur berkeping-keping, terdampar di pulau kecil entah bernama apa pulau yang tidak ada di peta, pulau yang hanya dikenal oleh nelayan-nelayan tua yang sudah puluhan tahun melaut, pulau yang tidak pernah mereka kunjungi karena terlalu jauh, terlalu berbahaya, terlalu dekat dengan arus yang bisa menelan siapa pun yang berani mendekat.

Kata orang-orang yang menemukan, tidak ada jasad. Hanya serpihan kayu kayu yang dulu menjadi lambung perahu, yang dulu dicat biru oleh tangan ayah, yang dulu menjadi tempat ayah berdiri setiap pagi. Hanya kain yang tersangkut di karang kain yang dulu menjadi baju yang ia kenakan, yang dulu dicuci ibu setiap minggu, yang dulu masih berbau sabun dan garam dan keringat. Hanya sisa-sisa yang tidak bisa lagi disebut manusia. Hanya sisa-sisa yang tidak bisa lagi disebut pulang.

Ombak terlalu besar untuk perahu nelayan sekecil itu. Ombak tidak mengenal belas kasihan. Ombak tidak peduli siapa yang ada di dalam perahu, berapa banyak anak yang menunggu di rumah, berapa banyak doa yang dipanjatkan setiap malam. Ombak hanya ombak. Ia datang. Ia menghantam. Ia pergi. Tidak pernah bertanya. Tidak pernah menyesal.

Kapal-kapal tambang melintas setiap hari lewat di dekat pulau itu, lewat di dekat perahu yang hancur, lewat di dekat jasad yang mungkin terapung di suatu tempat, yang mungkin sudah dimakan ikan, yang mungkin sudah menjadi bagian dari laut yang mereka rusak. Tapi mereka tidak pernah peduli. Mereka hanya peduli pada timah di dasar laut. Mereka hanya peduli pada setoran yang harus diberikan pada bos di kota. Mereka hanya peduli pada uang, pada keuntungan, pada kehidupan mereka sendiri yang tidak pernah terancam oleh ombak, oleh laut, oleh kemiskinan.

Nadira memasukkan foto itu ke dalam saku bajunya. Kain katun tipis berwarna hijau pucat yang ia pakai baju pemberian tetangga, baju yang sudah tidak baru, yang sudah dicuci berkali-kali sampai warnanya pudar, yang sudah dijahit ulang di beberapa tempat karena robek. Tapi ia jaga kebersihannya. Ia cuci setiap minggu, meskipun sabunnya hanya sabun colek yang murah, yang tidak menghasilkan banyak busa, yang tidak membuat baju menjadi wangi seperti sabun mahal di iklan televisi. Ia jemur di bawah sinar matahari, di atas para-para bambu yang sudah tua, yang sudah reyot, yang setiap kali dijemur baju berat terdengar seperti akan roboh. Ia setrika dengan hati-hati meskipun setrikanya dari arang setrika besi yang dipanaskan di atas api, yang harus diatur suhunya agar tidak terlalu panas dan membakar kain, yang harus diangkat dan ditempelkan bergantian karena tidak ada listrik di rumah mereka.

Ibunya mengajari: pakaian yang bersih dan rapi adalah bagian dari harga diri. Tidak harus baru. Tidak harus mahal. Tapi bersih. Rapi. Terawat. Karena ketika kau terlihat rapi, orang tidak akan bertanya dari mana asalmu, berapa banyak uang yang kau miliki, apa pekerjaanmu. Mereka hanya akan melihat bahwa kau adalah seseorang yang menghargai dirinya sendiri. Dan itu, kata ibu, lebih berharga daripada baju baru apa pun.

Nadira memegang foto di sakunya. Merasakan kertas lusuh yang sudah robek di pinggir. Merasakan senyum ayah yang tidak akan pernah pudar meskipun foto itu semakin usang.

Ia tidak menangis. Ia sudah menangis cukup lama. Empat puluh hari yang lalu, ketika kabar pertama datang. Ketika ibunya jatuh di dapur, ketika Wati mulai menangis tanpa suara, ketika Joko hanya diam memandangi wajah ibunya yang pucat. Ia sudah menangis. Ia sudah menghabiskan air mata untuk hal-hal yang tidak bisa diubah. Sekarang, yang tersisa hanya hampa. Hampa seperti laut yang mati. Hampa seperti dermaga yang sunyi. Hampa seperti rumah yang ditinggalkan.


III. Garis Pantai yang Putus

Dari arah kampung, seseorang berjalan ke dermaga.

Langkahnya tidak tergesa terlalu lambat untuk orang yang sedang terburu-buru, terlalu berat untuk orang yang sedang santai, terlalu lelah untuk orang yang masih muda. Tapi ada sesuatu di cara ia berjalan yang menunjukkan kelelahan yang sudah lama dipendam kelelahan yang tidak bisa diobati dengan tidur, kelelahan yang sudah menjadi bagian dari tubuh, dari tulang, dari sumsum, dari setiap tarikan napas.

Tubuhnya kurus terlalu kurus untuk seorang ibu dengan tiga anak, terlalu kurus untuk orang yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga setelah suami pergi. Tulang-tulang di bahu terlihat menonjol dari balik baju tipis yang ia kenakan baju yang sama dengan baju Nadira, pemberian tetangga, yang sudah dicuci berkali-kali sampai kainnya setipis kertas. Rambutnya mulai memutih meskipun usianya belum genap empat puluh putih di pelipis, putih di sela-sela rambut hitam, putih seperti buih di puncak ombak, seperti garam yang mengkristal di kulit setelah berenang di laut, seperti sesuatu yang terlalu cepat tua karena terlalu banyak menahan beban.

Ibu.

Di belakangnya, Wati dan Joko berjalan dengan kepala tertunduk seperti anak-anak yang tahu bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari hari ini, seperti anak-anak yang sudah belajar bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang mereka minta, seperti anak-anak yang terlalu cepat dewasa karena terpaksa.

Wati yang berusia tujuh tahun menggenggam ujung baju ibu erat-erat jari-jarinya yang kecil, kuku-kukunya yang hitam karena bermain tanah, tangannya yang kurus tapi kuat mencengkeram, seperti anak yang takut kehilangan, seperti anak yang tahu bahwa satu-satunya yang ia miliki hanyalah ibu dan kakak dan adik yang masih kecil. Rambutnya panjang dan kusut, tidak disisir pagi ini mungkin karena tidak ada waktu, mungkin karena tidak ada sisir, mungkin karena tidak ada yang peduli. Bajunya baju pinjaman dari tetangga kebesaran di bahu, terlalu panjang di lengan, dipakai dengan sabar karena tidak ada pilihan lain.

Joko, empat tahun, menghisap jempol kebiasaan yang tidak bisa ia lepaskan meskipun ibu sudah berkali-kali melarang, kebiasaan yang muncul setiap ia merasa lapar atau takut atau sendirian. Matanya yang besar terlalu besar untuk wajahnya yang kurus memandang ke arah laut yang sama. Laut yang menelan ayahnya. Laut yang tidak pernah kembali. Laut yang sekarang hanya menjadi latar, tidak lebih, tidak kurang, seperti dinding di belakang rumah, seperti langit di atas kepala, seperti sesuatu yang ada tapi tidak perlu diperhatikan.

Ibu duduk di samping Nadira tanpa bicara.

Beberapa saat mereka diam. Hanya ombak yang datang dan pergi ombak yang tidak pernah lelah, tidak pernah berhenti, tidak pernah bertanya mengapa. Hanya angin yang berembus dari timur angin yang membawa bau garam dan bau ikan asin dan bau sesuatu yang mati di dasar laut, bau yang sudah menjadi bagian dari kampung ini sejak sebelum Nadira lahir, bau yang tidak pernah berubah meskipun semuanya berubah. Hanya kapal-kapal tambang di kejauhan yang masih bergemuruh suara yang dulu mengganggu tidur mereka, yang dulu membuat mereka menutup telinga dengan bantal, yang dulu membuat mereka marah pada perusahaan tambang yang tidak pernah peduli. Sekarang, suara itu hanya menjadi latar. Seperti kemiskinan. Seperti kesulitan. Seperti sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri mereka, yang tidak perlu lagi ditakuti karena mereka sudah belajar menghadapinya.

"Nak, pulang. Wati nangis. Joko lapar."

Suara ibu serak. Bukan serak karena sakit meskipun batuknya tidak kunjung sembuh tapi serak karena terlalu banyak menahan sesuatu. Mungkin menahan tangis. Mungkin menahan amarah. Mungkin menahan keputusasaan. Mungkin hanya karena sudah terlalu lama tidak bicara, karena tidak ada yang bisa diajak bicara, karena tidak ada yang mau mendengar.

Nadira menatap adik-adiknya.

Wati berdiri di belakang ibu, kepalanya menunduk. Ia tidak menangis sekarang mungkin sudah habis air matanya, mungkin sudah belajar bahwa menangis tidak mengubah apa-apa, mungkin sudah terlalu lelah untuk menangis. Tapi bekas air mata masih terlihat di pipinya garis-garis tipis yang mengering, seperti jejak sungai yang mati di musim kemarau. Rambutnya yang panjang dan kusut tidak disisir pagi ini tidak ada yang menyisirnya, karena ibu sudah terlalu lelah, karena kakak sedang sibuk memikirkan nasib mereka, karena tidak ada yang peduli apakah rambut anak perempuan disisir atau tidak ketika perut kosong.

Joko berdiri di samping Wati, memegang ujung baju kakaknya. Matanya yang bulat menatap Nadira matanya yang dulu ceria, yang dulu selalu mencari-cari kakaknya ketika bermain petak umpet, yang dulu berbinar setiap kali ayah pulang dengan perahu penuh ikan. Sekarang, matanya kosong. Kosong seperti sumur kering di musim kemarau. Kosong seperti rumah yang ditinggalkan. Kosong seperti masa depan yang tidak bisa ia lihat. Mungkin lapar. Mungkin rindu. Mungkin hanya ingin kakaknya pulang. Tapi ia tidak bisa mengatakannya karena ia sudah belajar bahwa kata-kata tidak selalu keluar, bahwa keinginan tidak selalu terkabul, bahwa menangis tidak selalu membantu.

"Aku juga lapar, Bu," kata Nadira.

Bukan keluhan. Hanya fakta. Fakta yang tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Fakta yang sudah diketahui semua orang. Fakta yang tidak bisa diubah dengan kata-kata, hanya dengan tindakan. Dan tindakan itu membutuhkan uang. Uang yang tidak mereka miliki.

Ibu tidak menjawab.

Ia memandang ke arah laut ke arah cakrawala yang samar-samar terlihat di balik kapal-kapal tambang, di balik asap yang mengepul dari cerobong, di balik kabut polusi yang menggantung di udara seperti selubung kematian. Angin membawa rambutnya yang sudah memutih berkibar pelan rambut yang dulu hitam, yang dulu panjang, yang dulu menjadi kebanggaannya. Sekarang, rambut itu putih di pelipis, tipis di puncak kepala, seperti rumput di musim kemarau, seperti ilalang yang menguning, seperti sesuatu yang perlahan-lahan mati.

Mereka pulang.

Nadira berdiri. Merapikan kain yang ia gunakan sebagai ikat pinggang kain perca yang diikatkan di pinggang karena celananya kebesaran, karena tidak ada uang untuk membeli celana baru, karena harus berbagi baju dengan Wati yang masih kecil. Ia berjalan ke arah kampung melewati dermaga kayu yang sudah lapuk, melewati perahu-perahu nelayan yang teronggok di pinggir pantai, melewati rumah-rumah panggung yang catnya mengelupas, melewati kehidupan yang perlahan-lahan mati.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Tidak perlu. Laut akan tetap di sana, seperti selalu. Seperti yang akan ia tinggalkan, tapi tidak akan pernah benar-benar ia tinggalkan. Seperti kenangan tentang ayah yang tidak akan pernah pudar. Seperti luka yang tidak akan pernah sembuh. Seperti garis pantai yang putus bukan lagi batas antara darat dan laut, tapi luka yang menganga, luka yang tidak bisa dijahit, luka yang menjadi saksi bahwa sesuatu yang indah telah mati.


IV. Pasrah dan Perjuangan

Malam harinya, Nadira tidak bisa tidur.

Ia berbaring di dipan bambu yang berderit setiap kali ada yang bergerak bambu-bambu tua yang sudah kering, yang sudah retak di sana-sini, yang jika digerakkan terlalu keras akan patah dan melukai punggung. Di sampingnya, Wati dan Joko terlelap Wati dengan tubuh meringkuk seperti kucing yang kedinginan, Joko dengan jempol di mulut, dengan perut yang masih sesekali berbunyi karena lapar, dengan napas yang tidak pernah benar-benar tenang karena perutnya tidak pernah benar-benar kenyang.

Nadira memandang langit-langit. Papan-papan tua yang sudah lapuk, yang di beberapa tempat bolong, yang memperlihatkan langit malam di luar langit yang gelap, yang tidak berbintang, yang seperti langit di kampung nelayan yang sudah mati, yang tidak ada lagi yang berdoa, yang tidak ada lagi yang berharap.

Ia memikirkan laut.

Laut yang dulu menjadi tumpuan hidup mereka. Laut yang dulu memberi ikan setiap hari. Laut yang dulu menjadi tempat ayah mencari nafkah, tempat ia bermain, tempat ia belajar bahwa kehidupan itu keras tapi juga indah. Laut yang dulu biru. Laut yang dulu jernih. Laut yang dulu hidup.

Sekarang, laut itu mati.

Tambang telah membunuhnya. Kapal-kapal keruk yang datang setiap hari, yang mengeruk timah dari dasar laut, yang mengambil tanpa pernah memberi. Lumpur yang beterbangan, yang menutupi karang, yang mencekik ikan, yang membuat laut tidak bisa bernapas. Air yang berubah warna, dari biru menjadi hijau, dari hijau menjadi coklat, dari coklat menjadi hitam, seperti luka yang membusuk, seperti sesuatu yang sudah tidak bisa diselamatkan.

Nelayan-nelayan di Badau tidak mengeluh. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka sudah terbiasa dengan pasrah pasrah pada laut, pasrah pada cuaca, pasrah pada takdir yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka berpasrah bahwa laut akan memberi jika ia mau memberi. Mereka berpasrah bahwa jika laut tidak memberi, itu juga kehendak alam. Mereka berpasrah bahwa hidup sebagai nelayan adalah hidup yang penuh ketidakpastian, dan satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah terus melaut, terus mencari, terus berharap.

Tapi pasrah tidak selalu berarti diam. Pasrah tidak selalu berarti menyerah. Pasrah bisa juga berarti menerima kenyataan bahwa sesuatu telah berubah, dan karena itu, mereka harus berubah.

Garis pantai telah putus. Bukan lagi batas yang jelas antara darat dan laut. Tapi luka yang menganga. Tapi pintu yang harus mereka lewati.

Nadira memejamkan mata.

Di dalam gelap, ia melihat ayah. Ayah yang tersenyum dengan gigi ompongnya. Ayah yang berdiri di dermaga dengan jaring di tangan. Ayah yang menggendongnya ketika ia masih kecil, ketika ia masih tidak tahu bahwa laut bisa mati, bahwa ayah bisa pergi, bahwa kehidupan bisa berubah dalam sekejap.

"Ayah," bisiknya. "Aku harus bagaimana?"

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanya suara ombak dari kejauhan ombak yang masih datang dan pergi, seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa, seperti laut tidak sedang sekarat, seperti ayah masih di sana, menunggu di ujung dermaga, tersenyum dengan gigi ompongnya.


V. Menyeberangi Pantai

Besok, Nadira akan pergi.

Ia belum tahu ke mana. Ia belum tahu apa yang akan ia lakukan. Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa tinggal diam. Tidak bisa terus duduk di dermaga sambil menunggu keajaiban. Tidak bisa terus berpasrah pada laut yang sudah mati.

Garis pantai telah putus. Tapi itu bukan akhir. Itu adalah awal dari perjuangan baru perjuangan untuk menyeberangi pantai, untuk meninggalkan yang lama, untuk mencari daratan baru di seberang sana.

Ia tidak tahu apakah ia akan sampai. Tidak tahu apakah ada daratan di seberang. Tidak tahu apakah ia akan selamat atau tenggelam di tengah jalan. Tapi ia harus mencoba. Karena jika tidak, Wati dan Joko akan mati. Ibu akan mati. Ia sendiri akan mati bukan mati secara fisik, tapi mati dalam harapan.

Ia membayangkan suatu hari nanti, ketika ia sudah cukup kuat, ketika ia sudah cukup kaya, ketika ia sudah bisa membawa pulang uang yang cukup untuk beras dan obat dan susu. Ia membayangkan dirinya berdiri di dermaga ini lagi bukan sebagai anak yang pergi, tapi sebagai anak yang pulang. Dengan kepala tegak. Dengan senyum yang tidak perlu dipaksakan. Dengan cerita yang bisa ia bagikan, meskipun tidak semuanya.

Itu yang membuat ia tetap bisa memejamkan mata. Itu yang membuat ia tetap bisa tidur. Harapan. Harapan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Tapi harapan. Satu-satunya yang ia miliki.


VI. Sebelum Berangkat

Sebelum matahari terbit, Nadira sudah bangun.

Ia melipat selimut tipis, merapikan sprei yang sudah kusut, lalu membangunkan Wati dengan usapan lembut di rambut. Wati menggeliat, matanya masih terpejam, tapi tangannya sudah meraih ujung baju Nadira. Nadira tersenyum, melepaskan genggaman itu perlahan, lalu membangunkan Joko.

Ia berjalan ke halaman depan. Sapu lidi yang ia buat sendiri dari daun kelapa kering sudah menunggu di sudut teras. Daun-daun kering berserakan di tanah. Ia menyapu dengan gerakan yang teratur, dari ujung halaman ke arah rumah.

Setelah halaman bersih, ia mengambil ember plastik biru yang sudah agak pudar warnanya ember yang sama sejak ia masih kecil dan berjalan ke sumur. Jalan setapak dari rumah ke sumur sudah ia hafal. Setiap pagi, langkahnya sama. Setiap pagi, ember yang sama. Setiap pagi, air yang sama.

Mak Lijah sudah ada di sana. Tetangga sebelah yang sudah tua itu duduk di bibir sumur, kakinya yang pendek tidak mencapai tanah. Tangannya yang keriput memegang tali ember, menurunkannya perlahan ke dalam sumur.

"Nadira, Nak. Ibu kabarnya bagaimana?"

"Sama aja, Mak. Masih batuk-batuk."

Mak Lijah mengangguk. Ia menarik ember yang sudah penuh, menuangkan air ke dalam cerek besar yang ia bawa.

"Mak Lijah, Mak. Saya mau tanya."

Mak Lijah menoleh.

"Kemarin saya lihat Suharni di pasar. Baju baru. Tas baru. Naik vespa."

Mak Lijah diam. Tangannya berhenti bergerak. Ia memandang ke arah laut, ke arah kapal-kapal tambang yang bergerak lambat di cakrawala.

"Nduk, kau tahu apa itu Simpang?"

Nadira mengangguk. Ia sudah mendengar. Semua orang di kampung sudah mendengar. Tempat di pinggiran kota, di simpang empat yang sunyi, di antara ladang ilalang. Tempat di mana perempuan-perempuan muda bisa mendapat uang. Banyak uang. Uang yang cukup untuk beras, untuk obat, untuk hidup.

"Kau mau ke sana?" tanya Mak Lijah. Matanya tidak menghakimi. Tidak iba. Hanya bertanya.

Nadira tidak menjawab. Tapi Mak Lijah sudah tahu.

Mak Lijah menghela napas panjang. Ia mengambil cerek yang sudah penuh, memikulnya di bahu yang sudah bungkuk. Sebelum berjalan, ia menoleh.

"Nduk, saya tidak bisa bilang jangan. Tapi saya juga tidak bisa bilang iya. Yang bisa saya bilang: kau masih muda. Masih panjang jalannya. Tapi kalau sudah terdesak, manusia bisa apa? Tuhan tahu."

Ia berjalan meninggalkan sumur, meninggalkan Nadira berdiri di tepi air yang jernih.

Nadira memandang ke dalam sumur. Wajahnya memantul di permukaan air yang tenang. Wajah yang masih anak-anak. Tiga belas tahun. Tapi mata di pantulan itu sudah tidak secerah dulu.

Ia mengambil embernya, menimba air, lalu berjalan pulang.


VII. Malam Terakhir

Malam itu, Nadira menulis surat.

Ia mengambil selembar kertas bekas bungkus gula. Masih ada butiran-butiran putih di lipatannya. Ia pinjam pulpen tetangga tadi sore.

Tangannya tidak gemetar. Ia tidak menangis. Ia hanya menulis.

Bu,

Nadira cari uang. Nanti pulang. Jaga Wati sama Joko.

Ia membaca ulang. Pendek. Tidak jelas. Tidak menjelaskan ke mana. Tidak menjelaskan apa yang akan ia lakukan. Tapi itu yang bisa ia tulis.

Ia melipat kertas itu kecil-kecil. Lalu berjalan ke kamar ibu.

Pintu kamar tidak tertutup rapat. Daun pintu kayu yang sudah melengkung karena usia meninggalkan celah. Dari celah itu, cahaya lampu minyak masuk. Nadira bisa melihat ibu terbaring.

Ibu tidak tidur.

Nadira tahu. Dari cara tubuhnya terbaring. Dari napasnya yang terlalu teratur. Ibu tidak bergerak. Mungkin ia sudah tahu. Mungkin ia sudah mendengar langkah kaki Nadira sejak tadi.

Tapi ibu tidak berani bicara. Karena jika ia bicara, ia akan menangis. Dan jika ia menangis, Nadira tidak akan jadi pergi. Dan jika Nadira tidak jadi pergi, mereka semua akan mati.

Nadira meletakkan surat di bawah bantal.

Ia berbalik. Berjalan keluar. Tidak menoleh.


VIII. Berangkat

Di timur, langit mulai berubah warna. Dari hitam menjadi biru tua, lalu ungu, lalu jingga di ujung cakrawala. Ayam belum berkokok.

Nadira berjalan ke jalan raya. Tas kecil di tangan. Tas dari kain perca yang dijahit ibu, berisi dua potong baju ganti dan foto ayah. Tidak ada yang lain. Tidak ada bekal. Tidak ada uang. Hanya diri sendiri.

Ia berdiri di pinggir jalan, menunggu bus.

Bus dari Manggar menuju Tanjungpandan lewat sini sekitar jam enam. Kalau tidak mogok. Kalau tidak kehabisan bensin. Kalau sopirnya tidak sedang mabuk.

Ia menunggu. Sendiri. Angin laut berembus, membawa bau garam dan ikan asin. Bau yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lahir.

Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia melihat wajah ayah. Senyum ompong. Tangan yang kasar. Gendongan yang hangat.

Ayah, bisiknya. Doakan aku.

Bus datang dengan suara mesin yang tersendat-sendat. Pintu terbuka dengan bunyi berdecit. Nadira naik, duduk di kursi dekat jendela. Di kursi sebelahnya, seorang laki-laki paruh baya dengan karung beras di pangkuan. Bau apek. Tapi Nadira sudah biasa. Bau apek adalah bau yang ia kenal sejak lahir.

Bus bergerak. Perlahan, kampung Badau mulai tertinggal. Rumah-rumah panggung, pohon kelapa, dermaga kayu, laut yang hijau pekat semakin kecil, semakin kecil, sampai akhirnya hilang di balik tikungan.

Nadira memandang ke luar jendela. Lalu memejamkan mata.

Ia tidak menangis. Ia sudah memutuskan. Tidak ada gunanya menangis.


Di pohon belakang rumah, di bawah cahaya bulan yang redup, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.

Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.

Seperti Nadira. Suatu hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

SINOPSIS