Bab 2: Tangan Ibu Pecah-Pecah
Latar: Parit, Tanjungpandan, Belitung, 1997
I. Sungai di Belakang Rumah
Kampung Parit bukan gang-gang sempit di perkotaan. Ini perkampungan pesisir di pinggiran Tanjungpandan, dengan rumah-rumah panggung yang berhimpitan tapi tetap memiliki halaman dan ruang terbuka. Sungai hitam kehijauan mengalir di belakang kampung tempat yang sama dipakai untuk mandi, mencuci, dan kadang sebagai jalur transportasi bagi perahu-perahu kecil yang membawa hasil kebun dari hulu. Airnya tidak pernah jernih. Setidaknya sejak Suharni bisa ingat. Tapi ia mengalir. Bergerak. Hidup. Seperti ibu. Seperti dirinya.
Suharni duduk di jembatan kayu yang menghubungkan dua bagian kampung. Jembatan ini sudah tua papan-papannya hitam keabu-abuan karena usia dan lembab, beberapa tempat sudah diganti dengan papan baru yang masih terang warnanya. Tapi strukturnya masih kokoh. Ayahnya yang membangun jembatan ini. Sebelum ia pergi. Sebelum ia memilih untuk tidak kembali. Sebelum ia menjadi satu dari sekian banyak laki-laki yang meninggalkan Parit untuk mencari kerja di luar pulau, lalu tidak pernah memberi kabar, tidak pernah mengirim uang, tidak pernah kembali.
Kakinya menjuntai ke air yang mengalir pelan di bawah jembatan. Airnya keruh, hijau kecoklatan, dengan daun-daun kering mengapung di permukaan, terbawa arus menuju muara. Di kejauhan, ia bisa melihat ibunya.
Ibu sedang membungkuk di pinggir sungai. Di tempat yang sama sejak Suharni masih kecil. Di tempat yang sama sejak ibu mulai mencuci baju orang untuk membayar utang, untuk membeli beras, untuk menyekolahkan anak-anaknya meskipun pada akhirnya Suharni tidak pernah sekolah, karena uang tidak pernah cukup, karena prioritas selalu berubah, karena hidup tidak pernah sesuai rencana.
Di depan ibu, dua ember besar berisi pakaian orang lain. Pakaian yang harus ia cuci hari ini. Pakaian yang akan ia gosok dengan sikat kawat sampai tangannya pecah-pecah, sampai kulitnya mengelupas, sampai darahnya bercampur dengan air sabun dan tidak ada yang peduli. Tangannya yang pecah-pecah sibuk menggosok, membilas, memeras gerakan yang otomatis, seperti mesin yang sudah diprogram sejak lama, seperti sesuatu yang tidak perlu lagi dipikirkan karena sudah menjadi bagian dari tubuh, dari tulang, dari setiap tarikan napas.
Suharni tidak perlu melihat dari dekat untuk tahu seperti apa tangan ibunya. Ia sudah hafal. Tapi sore ini, ia ingin melihat. Ia ingin mengingat. Karena suatu hari nanti, ketika ia sudah pergi, ketika ia sudah menjadi sesuatu, ia ingin bisa menutup mata dan melihat tangan ibunya tangan yang telah memberinya kehidupan, tangan yang telah berjuang tanpa kenal lelah, tangan yang menjadi saksi bisu dari semua air mata yang tidak pernah ditumpahkan.
II. Tangan yang Dulu Lembut
Ibunya tidak selalu memiliki tangan seperti ini.
Suharni masih ingat samar-samar, seperti mimpi yang tidak pernah benar-benar terjadi, seperti kenangan yang terlalu jauh untuk dijangkau ketika ia masih kecil, ketika ia masih bisa duduk di pangkuan ibu, ketika ibu masih bisa membelai rambutnya dengan lembut. Tangan ibu dulu halus. Lembut. Wangi. Seperti tangan seorang putri. Seperti tangan perempuan yang tidak pernah harus membanting tulang untuk memberi makan anak-anaknya.
Ia ingat ketika ibu masih bisa menari-nari di dapur sambil memasak, ketika ibu masih bisa tertawa lepas tanpa suaranya tersendat oleh batuk yang tidak kunjung sembuh. Ia ingat ketika ibu masih bisa memeluknya erat-erat tanpa harus menahan rasa sakit di pergelangan tangan yang kaku. Ia ingat ketika ibu masih bisa menulis meskipun hanya namanya sendiri, meskipun hanya di atas pasir dengan ranting, meskipun hanya untuk menunjukkan pada Suharni bahwa huruf-huruf itu indah jika ditulis dengan tangan yang lembut.
Itu dulu. Sebelum ayah pergi. Sebelum utang menumpuk. Sebelum Sukirman lahir dalam keadaan lemah. Sebelum kehidupan berubah menjadi rutinitas mencuci baju orang dari pagi hingga sore, dari senin hingga minggu, dari tahun ke tahun, tanpa pernah ada libur, tanpa pernah ada istirahat, tanpa pernah ada cukup.
Tangan ibu berubah seiring waktu. Perlahan. Tidak terasa. Seperti tanah yang retak di musim kemarau, seperti kayu yang lapuk dimakan usia, seperti sesuatu yang terlalu lama terendam air dan sabun dan keringat dan air mata yang tidak pernah ditumpahkan.
Pertama, kulitnya mulai mengeras. Suharni masih ingat ketika ia pertama kali merasakan perubahan itu. Suatu malam, ibu memegang tangannya mungkin untuk menenangkannya, mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri, mungkin hanya untuk merasakan bahwa masih ada yang hangat di dunia ini. Suharni merasakan telapak tangan ibu. Tidak lagi lembut. Ada sesuatu yang kasar di sana. Seperti amplas. Seperti batu. Seperti sesuatu yang sudah terlalu lama bergesekan dengan kerasnya kehidupan.
Lalu, jari-jari mulai kaku. Ibu tidak bisa lagi menulis namanya dengan indah. Ibu tidak bisa lagi memegang sendok dengan mantap. Ibu tidak bisa lagi membelai rambut Suharni tanpa jari-jarinya tersangkut di sela-sela rambut yang kusut. Tapi ibu tidak pernah mengeluh. Ibu tidak pernah mengatakan bahwa tangannya sakit. Ibu hanya terus bekerja. Mencuci. Membilas. Memeras. Menggosok. Tidak pernah berhenti.
Lalu, kulit di sela-sela jari mulai pecah-pecah. Luka-luka kecil yang tak pernah sembuh. Luka lama belum kering, luka baru sudah datang. Seperti hidup mereka. Seperti kampung ini. Seperti sesuatu yang terus berulang tanpa pernah ada yang berubah.
Tapi ibu tidak pernah berhenti. Ibu tidak pernah menyerah. Ibu terus berdiri di pinggir sungai itu, dari pagi hingga sore, dari senin hingga minggu, dari tahun ke tahun. Membungkuk. Menggosok. Membilas. Memeras. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menangis. Hanya bekerja. Hanya bertahan. Hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar anak-anaknya tidak mati kelaparan.
III. Air Cucian Bercampur Keringat dan Air Mata
Suharni turun dari jembatan. Papan-papan tua berderit di bawah kakinya bunyi yang sudah ia kenal sejak kecil, yang menjadi pengiring setiap kali ia pergi ke sungai menemani ibu. Bunyi yang dulu membuatnya takut karena mengingatkan pada cerita-cerita hantu yang diceritakan teman-teman di kampung. Sekarang, bunyi itu hanya bunyi. Seperti suara ibu yang menggosok baju. Seperti suara air yang mengalir. Seperti suara kehidupan yang terus berjalan meskipun tidak mudah.
Ia membungkuk di samping ibu. Membantu mengangkat ember yang sudah penuh dengan pakaian yang baru saja dibilas. Air sabun masih menetes dari lipatan kain, membasahi kakinya yang telanjang. Dingin. Tapi ia sudah biasa.
Air cucian itu ia tahu, ia sudah melihat sejak kecil, ia sudah merasakan ketika membanting pakaian bersama ibu air cucian itu tidak hanya berisi sabun dan kotoran. Air cucian itu berisi keringat ibu. Keringat yang mengalir dari pelipis, jatuh ke sungai, bercampur dengan air sabun dan sampah daun. Keringat yang tidak pernah ia lihat karena ia terlalu sibuk bermain, terlalu sibuk menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Air cucian itu juga berisi air mata ibu. Air mata yang tidak pernah ia lihat karena ibu selalu menangis ketika tidak ada yang melihat ketika malam telah larut, ketika anak-anak sudah tidur, ketika tidak ada yang bisa mendengar isak tangis yang ditahan di ujung bantal. Air mata yang jatuh ke sungai, bercampur dengan air sabun, terbawa arus menuju muara, tidak pernah kembali.
"Bu, istirahat. Nanti aku lanjutkan."
Ibunya menoleh. Keringat mengalir di pelipis bercampur dengan air dari sungai, bercampur dengan sabun yang masih menempel di tangan, bercampur dengan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Rambutnya yang sudah memutih basah, lepek, menempel di dahi. Matanya sayu. Tapi ia tersenyum.
Senyum yang sudah menjadi topeng yang tidak pernah lepas bahkan ketika ia lelah, bahkan ketika ia sakit, bahkan ketika tidak ada alasan untuk tersenyum. Senyum yang ia kenakan setiap pagi sebelum berangkat ke sungai, yang ia lepas setiap malam ketika tidak ada yang melihat, yang ia simpan di suatu tempat di dalam hatinya yang paling dalam, tempat di mana ia menyimpan semua kesedihan yang tidak pernah ia bagikan pada siapa pun.
"Sebentar, Nduk. Ini tinggal dua koli. Nanti kalau kau yang cuci, tangannya jadi kasar."
Suharni tidak menjawab. Ia mengambil sikat kawat dari tangan ibu. Sikat kawat itu berat bukan berat secara fisik, tapi berat secara makna. Sikat kawat yang setiap harinya menggores tangan ibu. Sikat kawat yang menjadi simbol dari perjuangan yang tidak pernah dihargai. Sikat kawat yang akan menggores tangannya juga jika ia tidak berhenti.
Ia mulai menggosok baju yang tersisa. Tangannya yang masih muda yang belum sekeras tangan ibu, yang belum pecah-pecah di sela-sela jari, yang belum kehilangan kelembutannya bergerak dengan gerakan yang sama. Menggosok. Membilas. Memeras. Gerakan yang sudah ia pelajari sejak kecil. Gerakan yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Gerakan yang akan terus ia lakukan sampai kapan pun jika ia tidak memutuskan untuk berhenti.
Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia akan berhenti. Suatu hari. Ia akan melakukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak membuat tangannya pecah-pecah. Sesuatu yang membuat ibunya tidak perlu lagi menunduk di pinggir sungai seperti ini. Sesuatu yang membuat Sukirman tidak perlu melihat ibunya menangis di malam hari, ketika tidak ada yang bisa melihat, ketika tidak ada yang bisa membantu.
IV. Berdiri Tegak di Pinggir Sungai
"Mpok Markonah!"
Suara laki-laki paruh baya memecah kesunyian pagi. Suaranya parau, terbawa angin dari arah jalan raya. Suharni mengenali suara itu. Ia sudah mendengarnya berkali-kali setiap kali laki-laki itu datang dengan motor bututnya, setiap kali dengan kata-kata yang sama, setiap kali dengan ancaman yang sama.
Laki-laki itu mendekat. Baju batik lusuh yang sudah pudar dulu mungkin merah dan hitam, sekarang merahnya pudar menjadi merah muda kusam, hitamnya berubah menjadi abu-abu. Sepeda motor butut yang mesinnya bunyi seperti orang batuk ia parkir di pinggir jalan, di atas tanah basah bekas hujan semalam. Sepatu sandalnya yang sudah tipis solnya melekatkan lumpur di setiap jejak.
Ia tidak peduli dengan kehadiran Suharni. Ia hanya peduli pada uang. Pada utang yang belum dibayar. Pada bunga yang terus berjalan. Pada kekuasaan yang ia miliki karena ia punya uang dan mereka tidak.
"Mpok, utangnya kapan lunas? Sudah tiga bulan."
Ibunya menunduk. Tidak berani menatap mata laki-laki itu. Bukan karena takut ibu sudah terlalu sering menghadapi teror untuk masih takut. Tapi karena lelah. Lelah mendengar kata-kata yang sama. Lelah berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak akan pernah dimengerti. Lelah menjadi miskin di kampung yang semakin miskin.
Tangannya yang pecah-pecah berhenti bergerak. Ia memegang ujung kain yang sedang ia cuci, menggenggamnya erat-erat seperti memegang sesuatu yang bisa melindunginya. Tapi tidak ada yang bisa melindungi. Tidak ada yang akan datang membantu. Hanya ada ia dan Suharni dan Sukirman yang terbaring demam di dalam rumah.
"Pak, sabar dulu. Belum ada rezeki."
"Rezeki? Mpok tiap hari cuci baju, masa tidak ada?"
"Anak saya sakit, Pak. Uang buat berobat."
Laki-laki itu memandang Suharni. Matanya mengamati dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu ke rumah panggung di tepi sungai. Rumah yang dinding papannya sudah tidak sekuat dulu, yang catnya sudah mengelupas di mana-mana, yang atap sengnya berbunyi keras setiap kali hujan. Tapi rumah itu masih berdiri. Masih menjadi tempat mereka berlindung. Masih menjadi satu-satunya yang mereka miliki.
"Minggu depan saya datang lagi. Kalau belum lunas, jangan salah saya bawa preman."
Ia pergi. Meninggalkan jejak ban di tanah basah. Mesin motor bututnya meraung sebentar, lalu menjauh membawa ancaman yang menggantung di udara seperti asap, seperti sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan, seperti sesuatu yang akan selalu ada meskipun mereka berusaha melupakannya.
Suharni memandang kepergiannya dengan mata yang tidak berkedip. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak. Bukan amarah amarah sudah lama ia pendam, sudah lama ia ubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan ketakutan ketakutan tidak akan mengubah apa-apa. Tapi tekad. Tekad yang sudah lama ia pendam, yang kini mulai muncul ke permukaan, yang akan membawanya keluar dari tempat ini.
Ibunya diam. Tangannya gemetar di atas air sabun. Air sabun itu sudah dingin sejak lama sejak laki-laki itu datang, sejak ia berhenti mencuci, sejak ia kehilangan semangat untuk melanjutkan. Tapi ia tidak bisa berhenti. Ia harus terus bekerja. Ada yang mencuci. Ada yang membilas. Ada yang memeras. Jika ia berhenti, tidak ada yang akan melakukannya. Jika ia berhenti, mereka tidak akan makan. Jika ia berhenti, Sukirman akan mati.
Suharni memegang tangan ibunya. Kasar. Kering. Luka-luka kecil di sela-sela jari. Tapi hangat. Masih hangat. Masih ada kehidupan di sana. Masih ada perjuangan yang tidak akan pernah berhenti sampai napas terakhir.
Ia memegang tangan itu lama. Merasakan setiap luka yang tidak pernah sembuh. Merasakan setiap kapalan yang terbentuk dari kerja keras yang tidak pernah dihargai. Merasakan setiap tetes keringat yang telah mengalir, setiap tetes air mata yang telah jatuh, setiap tetes darah yang pernah keluar dari sela-sela jari ketika luka lama terbuka lagi karena sabun yang terlalu keras, karena air yang terlalu dingin, karena kehidupan yang terlalu berat.
"Berapa utang kita, Bu?"
Ibunya tidak menjawab. Matanya memandang ke sungai ke air yang mengalir tidak pernah berhenti, seperti beban yang tidak pernah berkurang, seperti masalah yang tidak pernah selesai, seperti sesuatu yang terus bergerak tanpa pernah ada ujungnya.
"Bu, berapa?"
"Enam ratus."
Suharni tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu. Sejak tiga bulan lalu, sejak ayah pergi, sejak Sukirman mulai sakit, angka itu sudah ia hafal di luar kepala. Enam ratus ribu rupiah. Angka yang tidak pernah ia lihat dalam bentuk uang, tapi selalu ada di kepalanya. Selalu menjadi bayang-bayang yang menghantui setiap mimpinya.
Ia memandang ibunya. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini adalah satu-satunya yang ia miliki selain Sukirman. Perempuan yang tidak pernah mengeluh. Yang tidak pernah berhenti bekerja. Yang tidak pernah menangis di depan anak-anaknya. Perempuan yang mengajarinya bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita mau, tapi kita harus tetap berdiri. Bahwa tidak ada yang akan menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Bahwa ketergantungan pada laki-laki adalah kelemahan yang harus dihindari karena laki-laki bisa pergi kapan saja, bisa meninggalkan kapan saja, bisa menghilang tanpa kabar dan tidak pernah kembali.
Suharni tidak akan menjadi seperti ibunya. Bukan karena ia tidak menghormati perjuangan ibunya ia sangat menghormati. Tapi karena ia ingin berjuang dengan cara yang berbeda. Ia ingin memiliki keterampilan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Ia ingin bisa membaca, menulis, menghitung, berbicara. Ia ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun. Ia ingin tangannya digunakan untuk menulis, bukan untuk mencuci. Untuk membangun, bukan untuk bertahan.
V. Sukirman, Alasan untuk Terus Berdiri
Malam itu, Suharni duduk di samping Sukirman.
Adiknya hanya lima tahun. Tubuhnya kecil, kurus seperti ranting kering yang jatuh dari pohon. Matanya terpejam. Napasnya sesekali berat, kadang berhenti sebentar lalu mulai lagi seperti orang yang lupa caranya bernapas, seperti orang yang terlalu lelah untuk terus hidup, seperti orang yang hanya bertahan karena ada yang menggenggam tangannya erat-erat dan berbisik, "Jangan pergi. Kakak di sini."
Di dahi, handuk basah yang harus diganti setiap jam. Air sudah hangat, tapi Suharni tidak berani bangun. Takut mengganggu tidur adiknya. Padahal ia tahu, Sukirman tidak tidur. Ia hanya terlalu lemah untuk membuka mata. Terlalu lemah untuk memanggil kakak. Terlalu lemah untuk mengatakan bahwa ia takut.
Ia memegang tangan adiknya. Kecil. Lembek. Panas. Panas yang tidak wajar panas yang membuat telapak tangannya sendiri ikut terbakar, panas yang menjalar ke lengan, ke bahu, ke jantung, seperti sesuatu yang ingin membakar habis semua kenangan tentang masa ketika Sukirman masih bisa berlari, masih bisa tertawa, masih bisa memanggil "Kak" dengan suara cempreng yang mengganggu tapi membuat rumah terasa hidup.
Ia tidak melepaskan. Takut jika melepaskan, adiknya akan pergi. Seperti ayah. Seperti semua laki-laki yang pernah ada dalam hidupnya. Pergi dan tidak pernah kembali.
"Kirman," bisiknya. "Kakak janji. Kamu sembuh."
Sukirman menggumam. Mungkin minta es. Mungkin minta ayah. Mungkin hanya suara dari mulut yang kering, suara yang keluar karena ia masih hidup, karena ia masih berusaha, karena ia masih percaya bahwa kakaknya akan menyelamatkannya.
Suharni tidak tahu. Ia hanya tahu, adiknya tidak boleh mati.
Karena jika Sukirman mati, apa gunanya tangan ibu yang pecah-pecah? Apa gunanya air sungai yang keruh? Apa gunanya keringat dan air mata yang telah tercurah? Apa gunanya ia masih hidup jika tidak bisa menyelamatkan satu-satunya yang tersisa?
VI. Mencari Jalan, Bukan Menunggu Keajaiban
Pagi-pagi, sebelum matahari terbit, Suharni pergi ke pasar.
Ia tidak punya uang. Ia tidak punya barang untuk dijual. Ia hanya punya tekad. Tekad untuk mencari jalan. Bukan jalan yang mudah ia tidak pernah mengenal jalan yang mudah. Tapi jalan yang memungkinkannya untuk terus berdiri, untuk terus berjalan, untuk terus berjuang.
Ia sudah mendengar cerita. Dari tetangga, dari teman-teman di sungai, dari bisik-bisik di warung. Tentang Simpang. Tentang perempuan-perempuan muda yang bisa dapat uang banyak. Uang yang cukup untuk bayar utang. Uang yang cukup untuk opname Sukirman. Uang yang cukup untuk hidup.
Ia tidak tahu persis di mana Simpang. Tapi ia tahu di pasar, ada orang-orang yang tahu.
Los sayur masih sepi ketika ia tiba. Pedagang baru mulai membuka lapak, menata sayuran, menyiram air ke kol dan sawi agar terlihat segar. Bau tanah basah dan daun-daun hijau memenuhi udara pagi bau yang mengingatkannya pada kebun, pada masa ketika ayah masih ada, pada masa ketika kehidupan masih terasa mungkin.
Suharni berjalan di antara lapak-lapak, mencari wajah yang ia kenal. Matanya bergerak cepat, memindai setiap sudut, mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. Bukan untuk memberi uang ia tidak mau diberi uang. Tapi untuk menunjukkan jalan.
Di los paling ujung, Mak Lijah sedang memilih cabai. Ia mengambil satu per satu, memeriksa apakah ada yang busuk, lalu memasukkannya ke keranjang bambu. Gerakannya lambat, penuh perhitungan seperti orang yang sudah terlalu tua untuk terburu-buru, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak untuk masih terkejut dengan apa pun.
Tangan Mak Lijah tua, keriput, penuh urat biru yang menonjol seperti akar-akar pohon di permukaan tanah. Tangan yang sama dengan tangan ibu Suharni. Tapi tidak pecah-pecah. Tangan yang tidak pernah merendam sabun setiap hari. Tangan yang tidak pernah menjadi saksi bisu dari perjuangan yang tak pernah dihargai.
Suharni mendekat. "Mak, saya... saya perlu uang."
Mak Lijah menoleh. Matanya menyipit, mengamati Suharni dari ujung rambut ke ujung kaki. Baju kumal tapi bersih. Ia lihat. Baju itu dicuci dengan sabun colek, dijemur di bawah sinar matahari, disetrika dengan setrika arang. Tidak baru. Tapi terawat. Ibu Suharni mengajarkan bahwa pakaian yang bersih dan rapi adalah bagian dari harga diri. Mak Lijah bisa melihat itu. Ia menghormatinya.
Ia menarik Suharni ke sudut yang lebih sepi, di antara tumpukan karung bawang dan bau menyengat petis.
"Nduk, kau tahu apa itu Simpang?"
Suharni mengangguk. Ia sudah mendengar. Semua orang di kampung sudah mendengar.
"Dan kau mau?"
Suharni menelan ludah. Ada yang mengganjal di tenggorokan. Bukan makanan. Bukan ludah. Tapi sesuatu yang lebih berat. Sesuatu yang tidak bisa ia telan. Ia memikirkan ibunya. Ibunya yang tidak pernah menyerah. Ibunya yang bekerja tanpa mengeluh. Ibunya yang mengajarkan bahwa perempuan harus mandiri. Apakah ini yang dimaksud mandiri? Apakah ini yang dimaksud bertahan?
"Saya tidak punya pilihan, Mak."
Mak Lijah memandangnya lama. Matanya yang tua, yang sudah melihat banyak, melembut. Ia tidak mengatakan "jangan". Ia tidak mengatakan "iya". Ia hanya memegang tangan Suharni tangan yang mulai mengeras, yang mulai pecah-pecah di sela-sela jari, yang akan menjadi seperti tangan ibu jika ia tidak melakukan sesuatu.
"Nanti sore," bisik Mak Lijah. Suaranya hampir tidak terdengar di antara suara pedagang yang mulai ramai. "Kau tunggu di ujung pasar. Dekat tempat parkir vespa. Ada orang yang akan datang."
Suharni mengangguk.
"Nduk." Mak Lijah memegang tangannya lagi. Tangan tua yang juga kasar, penuh urat dan kapalan. Tapi tidak pecah-pecah. Tangan yang tidak pernah merendam sabun setiap hari. "Kau masih muda. Masih panjang jalannya. Tapi kalau sudah terdesak, manusia bisa apa? Tuhan tahu."
Mak Lijah melepaskan tangannya, mengambil keranjang berisi cabai, lalu pergi. Meninggalkan Suharni di antara tumpukan karung bawang dan bau petis yang menyengat.
Suharni berjalan keluar pasar. Di pohon pinggir jalan, ia melihat kupu-kupu betina sedang meletakkan telurnya di bawah daun. Butiran-butiran putih kecil, diletakkan di tempat tersembunyi, jauh dari pandangan predator. Tidak ada yang melindungi. Hanya daun dan keberuntungan.
Ia berdiri lama, memandangi telur-telur itu. Rapuh. Tersembunyi. Tidak punya senjata kecuali tempat yang dipilih induknya.
Apakah induknya memilih dengan benar? Apakah daun itu cukup kuat menahan hujan? Apakah predator akan menemukannya sebelum sempat menetas?
Ia tidak tahu. Tapi ia juga seperti telur itu. Telah diletakkan di tempat yang dipilih orang lain. Sekarang tinggal menunggu: akan menetas, atau dimakan lebih dulu.
VII. Vespa di Senja Hari
Sore itu, Suharni berdiri di ujung pasar. Tempat parkir vespa. Laki-laki pulang kerja, asap knalpot di mana-mana. Vespa-vespa tua berderet tidak beraturan ada yang sudah berkarat, ada yang masih mengilap, ada yang sudah tidak bisa dinyalakan, ada yang masih setia mengantar pemiliknya pulang pergi setiap hari.
Suharni berdiri di pinggir, di antara dua vespa, tidak berani terlalu mencolok. Ia memandangi setiap orang yang lewat, mencari tanda, mencari seseorang yang mungkin akan mendekatinya.
Ia tidak takut. Rasa takut sudah lama ia tinggalkan. Yang ia rasakan hanya tekad. Tekad yang lahir dari melihat tangan ibu yang pecah-pecah. Tekad yang lahir dari mendengar suara isak ibu di malam hari. Tekad yang lahir dari memegang tangan Sukirman yang panas, yang lemas, yang hampir mati.
Seorang laki-laki setengah baya mendekat. Baju dinas, tanpa tanda pangkat. Badan tegap, wajah keras. Tapi matanya matanya seperti melihat sesuatu yang familiar, seperti ia sudah sering melakukan ini, seperti ia sudah sering menemui perempuan-perempuan muda di tempat seperti ini, dengan cerita yang sama, dengan tekad yang sama, dengan keputusasaan yang sama yang disamarkan sebagai keberanian.
Ia berhenti di depan Suharni, mengamati sebentar, lalu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Nak Suharni?"
Suharni mengangguk.
"Aku Pak Mul. Mak Lijah yang suruh."
Mereka berjalan ke warung kopi sederhana di pinggir pasar. Bangku kayu, meja plastik, kopi hitam dalam gelas kaca yang sudah retak di bibirnya. Pak Mul memesan dua gelas. Ia memandang Suharni, menatapnya lama seperti menimbang sesuatu, seperti mengukur seberapa kuat perempuan ini, seperti memastikan bahwa ia tidak akan menangis di tengah jalan.
"Umur berapa?"
"Empat belas."
Pak Mul mengangguk. Tidak ada reaksi. Tidak terkejut. Tidak iba. Hanya anggukan kecil, seperti menerima fakta bahwa angka itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang bisa ia lakukan, bukan berapa usianya.
"Kau tahu risikonya?"
Suharni mengangguk.
"Kau tidak takut?"
Suharni diam. Matanya tidak berkedip. Di kepalanya, Sukirman terbaring. Napas sesak. DBD. Handuk basah di dahi yang harus diganti setiap jam. Tangan kecil yang lembek dan panas. Dokter bilang harus opname. Harus uang. Banyak uang. Uang yang tidak mereka miliki.
Ia tidak takut. Tidak ada waktu untuk takut. Yang ada hanya tekad. Tekad untuk menyelamatkan adiknya. Tekad untuk tidak menjadi seperti ibunya. Tekad untuk memiliki pilihan. Tekad untuk menggunakan tangannya untuk sesuatu yang lain untuk menulis, untuk menghitung, untuk membangun.
"Tidak," katanya.
Pak Mul tersenyum. Senyum orang yang sudah lama berkecimpung di dunia ini, yang sudah melihat ratusan anak perempuan dengan cerita yang sama, dengan mata yang sama, dengan tekad yang sama.
"Kau berbeda. Kebanyakan nangis. Kau?"
Suharni tidak menjawab. Ia mengambil uang yang diberikan Pak Mul dari atas meja. Dua lembar. Lima ratus ribu. Uang kertas warna biru dengan gambar orang dan rumah dan sesuatu yang tidak pernah ia lihat karena ia tidak pernah memegang uang sebanyak ini. Uang yang cukup untuk opname Sukirman. Uang yang cukup untuk membeli nyawa adiknya. Uang yang cukup untuk membeli tubuhnya.
Ia tidak menangis. Ia sudah tidak punya air mata untuk hal-hal yang tidak bisa diubah.
Pak Mul meletakkan uang itu di meja, di samping gelas kopi yang sudah dingin, di antara abu rokok yang menumpuk di piring kecil.
"Ini dulu. Buat adikmu."
Suharni mengambilnya. Tangannya tidak gemetar.
"Terima kasih, Pak."
Pak Mul mengangguk. Lalu pergi. Meninggalkan Suharni di warung kopi itu sampai gelap. Kopinya tidak diminum. Ia hanya memandangi uang di tangannya. Lima ratus ribu. Cukup untuk nyawa adiknya. Cukup untuk memulai sesuatu yang baru.
VIII. Malam di Rumah Sakit, Sebelum Berangkat
Malam itu, Sukirman dibawa ke rumah sakit.
Dengan uang lima ratus ribu, Ibu bisa mendaftarkan Sukirman untuk rawat inap. Wajah ibu berubah. Bukan senang. Lega. Lega yang aneh seperti orang yang baru saja selamat dari tenggelam, seperti orang yang baru saja melihat cahaya setelah sekian lama dalam gelap, seperti orang yang tidak percaya bahwa keajaiban benar-benar terjadi.
Ia tidak bertanya dari mana uang itu. Mungkin takut. Mungkin sudah tahu. Mungkin tidak ingin tahu. Toh, jawaban apa pun tidak akan mengubah kenyataan: anaknya selamat. Itu yang penting.
Suharni duduk di ruang tunggu, menunggu. Jam dinding di depannya berdetak pelan, mengukur waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Ia memandangi jarum jam yang bergerak, memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam. Tubuhnya kaku. Bukan karena takut. Tapi karena ia sudah memutuskan. Dan keputusan itu tidak memberi ruang untuk takut.
Ia memikirkan ibunya. Ibunya yang tidak pernah sekolah. Ibunya yang tidak punya pilihan. Ibunya yang hanya bisa mencuci baju. Ia tidak akan menjadi seperti ibunya. Ia akan belajar. Ia akan memiliki keterampilan. Ia akan menjadi mandiri.
Ia sudah belajar membaca dari koran bekas. Belajar menulis dari papan nama toko. Belajar menghitung dari harga-harga di pasar. Tapi itu tidak cukup. Ia harus belajar lebih banyak. Ia harus memiliki pengetahuan yang tidak bisa diambil siapa pun. Ia harus menjadi perempuan yang bisa berdiri sendiri.
Jam delapan malam. Vespa berhenti di depan rumah sakit. Pak Mul memakai baju biasa, jaket kulit lusuh. Asap rokok mengepul di samping vespa, naik ke langit malam yang gelap.
"Naik."
Suharni berdiri. Ia berjalan ke kamar tempat Sukirman terbaring. Mencium kening adiknya yang masih panas, yang masih demam, yang masih berjuang untuk hidup. Sukirman menggumam, matanya tidak terbuka, tapi tangannya meraih meraih kakaknya, meraih satu-satunya yang selalu ada.
"Kirman," bisiknya. "Kakak pergi sebentar. Nanti pulang."
Ia melepaskan genggaman adiknya perlahan. Sukirman meraih ke udara, lalu tangannya jatuh ke tempat tidur. Suharni menahan napas. Tidak ingin menangis. Tidak ingin menunjukkan kelemahan.
Ia berjalan ke ibu. Ibu duduk di kursi plastik di samping tempat tidur Sukirman, membungkuk, seperti patung. Tidak bergerak. Tidak menangis. Hanya ada. Hanya menunggu. Hanya berdoa.
Suharni mencium tangan ibunya. Tangan yang pecah-pecah. Tangan yang kasar. Tangan yang hangat. Tangan yang telah memberinya kehidupan, yang telah berjuang tanpa kenal lelah, yang akan terus berjuang meskipun tidak ada yang melihat.
"Bu, saya pergi sebentar. Jaga Kirman."
Ibu mengangguk. Tidak bisa bicara. Tangannya yang pecah-pecah menggenggam ujung kain mencengkeram erat, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin dilepaskan, seperti menahan anaknya yang akan pergi dan mungkin tidak kembali.
Suharni melepaskan genggaman itu perlahan. Lalu berjalan ke pintu. Tidak menoleh. Tidak bisa menoleh.
IX. Berangkat dalam Gelap
Vespa melaju meninggalkan rumah sakit. Lampu-lampu mulai redup satu per satu seperti mata yang perlahan menutup, seperti harapan yang perlahan padam, seperti sesuatu yang berakhir sebelum sesuatu yang lain dimulai.
Suharni tidak menoleh ke belakang. Tidak melihat ibu yang masih berdiri di pintu. Tidak melihat Sukirman yang terbaring di ranjang besi, dengan infus di tangan, dengan selimut tipis yang tidak cukup hangat. Hanya melihat ke depan. Ke jalan yang gelap. Ke tempat yang tidak ia kenal.
Angin malam menyapu wajahnya. Rambutnya berkibar, kadang masuk ke mulut, tapi ia tidak peduli. Jalanan mulai sepi. Rumah-rumah panggung di pinggir jalan gelap, hanya sesekali lampu minyak yang menyala dari balik jendela. Di kejauhan, lampu-lampu kapal tambang berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke laut.
Suharni memejamkan mata. Ia tidak menyesal. Ia tidak takut. Yang ia rasakan hanya tekad. Tekad yang lahir dari melihat tangan ibu yang pecah-pecah. Tekad yang lahir dari memegang tangan Sukirman yang hampir mati. Tekad yang lahir dari kesadaran bahwa tidak ada yang akan menyelamatkan mereka kecuali diri mereka sendiri.
Ia membayangkan suatu hari nanti. Ketika Sukirman sudah sembuh. Ketika ibu tidak perlu lagi membungkuk di pinggir sungai. Ketika utang sudah lunas. Ketika ia bisa pulang. Bukan sebagai anak yang gagal. Tapi sebagai anak yang berhasil.
Ia membayangkan toko yang ingin ia buka. Rak-rak kayu dicat putih. Buku-buku disusun rapi. Alat tulis di rak samping. Bangku kayu di depan toko untuk siapa saja yang butuh duduk. Di atas kasir, vas bunga. Bunga segar, diganti setiap minggu. Dari kebun Siti, jika Siti mau kasih. Atau dari kebun yang ia tanam sendiri.
Ia akan belajar menanam. Ia akan belajar memasak. Ia akan belajar banyak hal. Karena perempuan harus bisa melakukan banyak hal. Perempuan harus mandiri. Perempuan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan. Perempuan harus bisa bertahan tanpa bergantung pada siapa pun.
Vespa melaju meninggalkan kota. Lampu-lampu kota mulai tertinggal di belakang semakin kecil, semakin redup, sampai akhirnya hanya titik-titik kecil di kejauhan yang tidak bisa lagi disebut lampu. Di depan, hanya gelap. Gelap yang pekat. Gelap yang tidak ada ujungnya.
Tapi Suharni tidak takut. Ia sudah terbiasa dengan gelap. Gelap adalah tempat ia belajar melihat. Gelap adalah tempat ia belajar bahwa terang akan datang, jika ia tidak berhenti mencari.
Di pinggir jalan, di bawah cahaya bulan yang redup, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.
Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.
Seperti Suharni. Suatu hari.
Komentar
Posting Komentar