Bab 3: Pengantin di Ujung Tahun

Latar: Parit, Tanjungpandan, Belitung, 1997


I. Hitungan yang Tak Pernah Berhenti

Sunarti duduk di dapur rumahnya. Rumah panggung sederhana di tepi sungai, seperti kebanyakan rumah di Parit. Dinding papan yang catnya mengelupas di sana-sini, lantai yang berderit setiap kali ada yang berjalan. Di pangkuannya, Supri tidur. Adik bungsunya. Masih kecil. Masih polos. Masih belum tahu bahwa dunia tidak sebaik yang ia bayangkan.

Rambut Supri merah kusam tanda kekurangan gizi. Kulitnya kering, bersisik di siku dan lutut. Perutnya cekung, tapi agak membuncit kelaparan kronis yang sudah menjadi teman akrab sejak ia lahir. Tapi ketika tidur, wajahnya tenang. Seperti tidak ada yang perlu ditakutkan. Seperti dunia ini masih baik-baik saja. Seperti kakaknya akan selalu melindunginya.

Sunarti memandangi adiknya. Tangannya yang kecil menggenggam ujung baju Sunarti, tidak mau melepaskan bahkan dalam tidur. Seperti takut kakaknya pergi. Seperti tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang ia punya.

"Ri," bisiknya. "Kakak tidak akan pergi."

Ia tahu itu mungkin bohong. Tapi ia membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Tidak ditarik kembali. Tidak perlu. Supri tidak akan mengingatnya. Supri terlalu kecil untuk mengingat apa pun selain rasa lapar yang terus-menerus.

Dua juta untuk kontrakan setahun. Sisa untuk obat ayah. Sisa untuk beras. Sisa untuk Supri. Angka-angka itu berputar di kepalanya, berulang-ulang, sampai melekat seperti mantra. Dua juta. Cukup untuk satu tahun hidup. Cukup untuk membeli dirinya.

Besok, Karyono akan datang. Besok, ayah akan menerima uang. Besok, ia akan menjadi milik orang lain.

Ia sudah memutuskan. Tapi tangannya yang memeluk Supri masih hangat. Masih gemetar kecil.

Ia tidak mengerti mengapa harus begini. Ia tidak mengerti mengapa anak perempuan tidak punya pilihan. Ia tidak mengerti mengapa tubuhnya yang masih anak-anak, yang masih belum siap, yang masih ingin bermain dan belajar dan bermimpi harus dijual seperti barang di pasar.

Tapi ia tidak bisa menolak. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Ia tidak punya keterampilan untuk bertahan hidup sendirian. Ia tidak punya pengetahuan untuk menjadi mandiri. Ia hanya seorang anak perempuan di kampung yang mengajarkan bahwa perempuan tidak perlu sekolah, bahwa perempuan tidak perlu pintar, bahwa perempuan hanya perlu menjadi istri dan ibu, bahwa perempuan hanya perlu mengabdi pada suami dan keluarga.

Ia hanya seorang anak perempuan yang diajarkan bahwa kegadisannya adalah satu-satunya modal yang berharga. Bahwa ia bisa menjualnya untuk menyelamatkan keluarganya. Bahwa itu adalah kewajibannya. Bahwa itu adalah takdirnya.

Ia tidak percaya. Tapi ia tidak bisa melawan. Karena melawan berarti diusir. Melawan berarti tidak punya tempat tinggal. Melawan berarti membiarkan keluarganya mati.


II. Karyono dan Transaksi di Ruang Tamu

Karyono datang ke rumah dengan sepeda motor butut. Mesinnya bunyi seperti orang batuk bunyi yang sudah tidak asing lagi di kampung, bunyi yang menandakan bahwa seseorang dari kota datang, bahwa ada uang yang akan berpindah tangan, bahwa ada anak perempuan yang akan pergi.

Ia bukan orang Parit. Dari Tanjungpandan kota. Mandor tambang. Usia empat puluh tahun, gigi menguning karena tembakau, baju kemeja lengan panjang yang disetrika rapi. Bau tembakau dan minyak tanah melekat di tubuhnya bau yang sudah menjadi bagian dari dirinya, bau yang tidak bisa hilang meskipun dicuci berkali-kali.

Sunarti mengamatinya dari balik jendela dapur. Ia ingin tahu seperti apa laki-laki yang akan membeli dirinya. Bukan karena ingin mengenalnya ia tidak perlu mengenal orang yang akan menjadi suaminya. Tapi karena ingin memahami. Ingin memahami mengapa laki-laki seperti ini bisa membeli anak perempuan seusianya. Apakah ia tidak punya anak? Apakah istrinya tidak cukup? Apakah ia tidak tahu bahwa yang ia lakukan salah?

Tapi kemudian ia sadar: Karyono tidak peduli. Ia hanya peduli pada kepuasannya sendiri. Pada keinginannya sendiri. Pada uang yang ia miliki yang bisa membeli apa pun termasuk tubuh anak perempuan yang masih belum genap remaja.

Ayahnya, Saman, duduk di kursi satu-satunya yang masih layak di ruang tamu. Kursi kayu dengan sandaran retak di tengah, disangga dengan tali tambang agar tidak roboh. Kakinya yang cacat terbungkus kain bekas masih membekas darah kering di beberapa tempat.

Dulu ia tukang bangunan. Tangan dan kakinya kuat. Bisa memanggul seratus kilo semen tanpa mengeluh. Tiga bulan lalu, ia jatuh dari scaffolding lantai tiga. Kaki kirinya hancur. Tulang-tulang remuk, kulit robek, daging terlipat seperti kain yang disobek. Dokter di puskesmas bilang harus diamputasi, biaya operasi lima juta. Mereka tidak punya. Jadi ia terbaring, sesekali berjalan tertatih dengan tongkat kayu yang dibuat sendiri.

Obat habis. Kontrakan menumpuk tiga bulan. Supri menangis kelaparan setiap malam. Ibu hanya bisa diam di pojok dapur.

Dan Karyono datang dengan uang di saku. Dua juta. Cukup untuk setahun. Cukup untuk obat. Cukup untuk beras. Cukup untuk membeli Sunarti.

Karyono mengamati Sunarti. Dari ujung rambut ke ujung kaki. Perlahan. Bukan seperti orang yang sedang menimbang harga barang. Tapi seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang baru sesuatu yang akan ia miliki, sesuatu yang akan ia kuasai, sesuatu yang bisa ia lakukan apa pun yang ia mau.

Matanya berhenti di wajah Sunarti. Di matanya yang tidak menunduk. Di rahangnya yang mengeras karena menahan sesuatu. Di tubuhnya yang masih anak-anak, yang masih belum berlekuk, yang masih belum siap untuk apa pun.

"Gadisnya masih kecil," kata Saman. Suaranya serak, sesekali terpotong batuk. Batuk kering yang tak kunjung sembuh, yang membuat dadanya terasa seperti diremas-remas setiap kali udara keluar masuk.

"Bisa diasuh. Nanti besar sendiri."

Saman menarik napas panjang. Dadanya naik turun, batuk menahan di tenggorokan. Ia memandang Sunarti. Matanya sayu, tidak terbaca. Mungkin menyesal. Mungkin pasrah. Mungkin lega. Karena dengan dua juta, semua masalah selesai. Atau setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

"Berapa?" tanyanya.

Karyono mengeluarkan uang dari saku celana. Satu ikat, dilipat rapi, tanpa kertas pembungkus. Uang itu sudah dihitung, sudah dipersiapkan sejak lama. Seperti ia sudah tahu akan membeli sesuatu. Seperti ia sudah tahu bahwa di kampung ini, selalu ada anak perempuan yang bisa dibeli.

Ia meletakkannya di meja, di antara gelas-gelas kotor dan piring sisa makan siang yang belum dicuci.

"Dua juta. Cukup?"

Saman menerimanya. Tangannya gemetar. Uang itu berat di telapak tangan yang dulu kuat memanggul semen. Ia tidak menghitung. Tidak perlu. Dua juta adalah dua juta. Lebih dari yang pernah ia lihat dalam setahun terakhir. Cukup untuk bayar kontrakan setahun. Cukup untuk beli obat. Cukup untuk beras sampai Supri besar nanti.

Cukup untuk membeli dirinya.

Sunarti tidak bergerak. Ia hanya memandang uang itu. Dua juta untuk hidupnya. Dua juta untuk masa depannya. Dua juta untuk semua yang akan terjadi setelah malam ini.

Ia tidak menangis. Ia hanya diam. Diam adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Diam adalah satu-satunya yang tidak bisa diambil darinya.


III. Pernikahan di Ujung Tahun Transaksi Berbalut Doa

Pernikahan dilaksanakan tiga hari kemudian.

Tidak ada riuh. Tidak ada pengantin bedekor. Tidak ada keluarga besar. Tidak ada tetangga yang diundang. Hanya penghulu dari kampung sebelah yang datang dengan sepeda motor butut, dua saksi dari pihak Karyono yang diam saja, dan orang tua Sunarti yang duduk lemas di sudut ruangan.

Penghulu lelaki tua dengan jenggot putih yang sudah jarang, dengan kemeja putih yang sudah kekuningan karena usia, dengan kopiah hitam yang sudah usang membacakan akad nikah. Suaranya pelan, terbawa angin yang masuk lewat celah-celah dinding papan. Seperti doa. Seperti mantra. Seperti sesuatu yang mengubah anak perempuan menjadi istri, menjadi milik, menjadi barang yang sah untuk dimiliki.

Sunarti tidak mendengar sepatah kata pun. Matanya kosong, menatap retak di dinding. Retak itu sudah ada sejak sebelum ia lahir. Setiap tahun makin lebar, makin panjang, makin dalam. Seperti luka yang tidak pernah sembuh. Seperti tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti ketidakberdayaan yang dianggap biasa.

Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tidak mengerti mengapa seorang anak perempuan seusianya harus menjadi istri. Ia tidak mengerti mengapa tubuhnya harus menjadi milik laki-laki yang tidak ia kenal. Ia tidak mengerti mengapa tidak ada yang bertanya padanya apakah ia mau.

Tapi ia tidak bisa bertanya. Ia tidak bisa menolak. Karena menolak berarti melawan ayah. Melawan ibu. Melawan penghulu. Melawan tradisi. Melawan semua orang yang menganggap bahwa ini adalah hal yang benar, yang wajar, yang sudah seharusnya terjadi.

"Kabul saya terima nikahnya." Suara Karyono. Berat. Parau. Tidak ada getaran. Tidak ada emosi. Hanya kata-kata yang keluar dari mulut karena harus diucapkan. Seperti orang yang membeli sesuatu di pasar. Seperti orang yang menyelesaikan transaksi.

Penghulu menatapnya. "Nak, kau jawab: saya terima."

Sunarti tidak bergerak. Ia memikirkan Supri. Supri yang masih tidur di kamar belakang. Supri yang akan bangun dan mencari kakaknya. Supri yang akan menangis ketika tahu kakaknya pergi. Supri yang akan tumbuh tanpa kakak yang melindunginya.

Ia memikirkan ibunya. Ibunya yang menikah muda. Ibunya yang tidak pernah sekolah. Ibunya yang tidak punya pilihan. Ibunya yang kini duduk di pojok, memandangi lantai, tidak berani mengangkat muka. Apakah ibunya juga pernah berada di posisi ini? Apakah ibunya juga pernah merasa tidak punya pilihan? Apakah ibunya juga pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjadi korban, tapi pada akhirnya menjadi korban juga?

Ia tidak akan seperti ibunya. Ia akan memilih. Ia akan bertahan. Ia akan keluar.

"Nak, jawab," kata ayahnya dari belakang. Tangan yang dulu kuat, kini hanya tulang terbungkus kulit, menepuk pundaknya. "Nduk, jawab."

Sunarti membuka mulut. "Saya terima."

Suaranya pelan. Tapi jelas. Di dalam hatinya, ia berjanji: ini bukan akhir. Ini adalah awal. Awal dari perjalanan yang akan membawanya keluar dari tempat ini. Awal dari kehidupan yang akan ia bangun sendiri.

Penghulu menganggap itu cukup. Selesai sudah. Pernikahan telah sah. Anak perempuan telah menjadi istri. Tubuhnya telah menjadi milik orang lain. Semua legal. Semua halal. Atas nama agama. Atas nama negara. Atas nama tradisi.


IV. Malam Pertama Pemerkosaan yang Legal

Karyono membawanya ke rumah kontrakan di pinggir kota. Bukan rumah mewah. Kontrakan sederhana dinding bata diplester putih, lantai semen yang dipel bersih, atap seng yang tidak bocor. Halaman kecil dengan pohon pisang di belakang. Rumah ini kecil, tapi bersih. Terawat. Lebih layak dari rumahnya di Parit.

Sunarti memandangi sekeliling. Dinding putih bersih, tanpa retak. Lantai semen yang dingin, tapi tidak berdebu. Jendela dengan tirai kain tipis yang membiarkan cahaya bulan masuk. Dipan dengan kasur yang masih tebal, sprei biru muda yang masih baru.

Ia duduk di dipan. Tubuhnya kaku. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi. Ia sudah mendengar cerita dari tetangga, dari teman-teman yang lebih tua, dari bisik-bisik di kampung. Tentang malam pertama. Tentang rasa sakit. Tentang darah. Tentang sesuatu yang akan diambil darinya tanpa pernah bisa kembali.

Ia mempersiapkan diri. Ia akan melalui ini. Ia akan bertahan. Ia akan menutup mata dan pergi ke tempat lain ke tempat yang aman, ke tempat yang tidak ada Karyono, ke tempat di mana ia masih menjadi dirinya sendiri.

Karyono duduk di kursi kayu di seberang dipan. Ia tidak langsung mendekat. Ia memandang Sunarti dengan mata yang sulit dibaca. Bukan mata yang melihat manusia. Tapi mata yang melihat barang. Mata yang melihat sesuatu yang baru ia beli. Mata yang menghitung berapa lama barang ini akan bertahan sebelum ia bosan dan mencari yang baru.

"Aku tidak akan memaksamu," katanya. Tapi itu bohong. Mereka berdua tahu itu bohong. Karena pernikahan adalah izin untuk memaksa. Karena pernikahan adalah legalisasi untuk mengambil apa yang bukan hakmu. Karena pernikahan adalah dokumen yang mengatakan bahwa tubuh ini adalah milikmu.

Sunarti tidak menjawab. Ia hanya duduk. Menunggu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.

Malam itu, Karyono mengambilnya.

Bukan dengan lembut. Bukan dengan kasih sayang. Tapi dengan cara yang sama seperti ia mengambil timah dari dasar laut dengan paksa, tanpa peduli, hanya untuk kepuasan dirinya sendiri.

Sunarti menutup mata. Ia pergi ke tempat lain. Ke kampung. Ke sungai. Ke bawah pohon keremunting. Ke tempat di mana ia masih anak-anak, masih bebas, masih belum menjadi milik siapa pun.

Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Tidak ada gunanya. Tidak ada yang akan mendengar. Tidak ada yang akan datang membantu. Ini legal. Ini halal. Ini adalah hak seorang suami atas istrinya.

Keesokan paginya, ia bangun dengan tubuh yang sakit. Ada darah di sprei biru muda. Ada luka di tempat yang tidak bisa ia lihat. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

Ia tidak menangis. Ia hanya diam. Diam adalah satu-satunya yang tersisa.


V. Sembilan Puluh Hari Menjadi Istri, Menjadi Barang

Tiga bulan.

Sunarti menghitungnya di dinding kamar. Setiap hari, satu goresan paku. Paku yang ia curi dari lemari Karyono, yang tidak pernah dipakai. Tiga bulan, sembilan puluh goresan. Berjejer rapi di dinding dekat dipan. Dari lantai hingga hampir setinggi kepalanya. Goresan-goresan yang menjadi pengingat bahwa waktu berlalu, bahwa ia masih di sini, bahwa ia belum menyerah.

Ia belajar banyak selama sembilan puluh hari itu.

Ia belajar bahwa menjadi istri tidak berarti menjadi teman hidup. Menjadi istri berarti menjadi pelayan. Mencuci baju suami. Memasak untuk suami. Membersihkan rumah untuk suami. Melayani kebutuhan suami kapan pun ia mau siang atau malam, ketika ia lelah atau ketika ia sakit, ketika ia mau atau ketika ia tidak mau. Karena ia tidak punya hak untuk menolak. Karena menolak berarti durhaka. Karena durhaka berarti dosa.

Ia belajar bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia hanya bisa meminjamnya sebentar ketika Karyono sedang bekerja, ketika Karyono sedang tidur, ketika Karyono sedang tidak membutuhkannya. Tiap malam, ketika pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, tubuh itu bukan lagi miliknya. Ia hanya penonton. Ia hanya pergi ke tempat lain dan menunggu sampai semuanya selesai.

Ia belajar bahwa laki-laki tidak peduli apakah istrinya puas atau tidak. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri. Pada kepuasan mereka sendiri. Pada kenikmatan mereka sendiri. Istri hanya alat untuk memuaskan dahaga, untuk melepaskan penat, untuk menghilangkan stres. Ketika selesai, mereka tidur. Tidak bicara. Tidak bertanya. Tidak peduli apakah istrinya menangis dalam diam.

Ia belajar bahwa pernikahan dini bukan solusi. Mungkin solusi sesaat untuk masalah uang. Tapi bukan solusi untuk kebahagiaan. Bukan solusi untuk kemandirian. Bukan solusi untuk masa depan. Pernikahan dini adalah jebakan yang membuat perempuan kehilangan kesempatan untuk belajar, untuk tumbuh, untuk menjadi dirinya sendiri.

Ia belajar bahwa ia bukanlah istri pertama Karyono. Dan ia tidak akan menjadi yang terakhir. Ada yang sebelum dia. Akan ada yang sesudah dia. Karyono tidak peduli. Ia hanya mengganti istri seperti mengganti baju ketika bosan, cari yang baru. Yang lebih muda. Yang lebih segar. Yang lebih mudah diatur. Yang bisa dibeli dengan sejumlah uang.

Dan ketika ia digantikan, ia akan dibuang. Seperti barang bekas. Tidak berguna. Tidak diinginkan. Tidak punya tempat.

Setiap malam, setelah Karyono tidur dan mendengkur, Sunarti duduk di lantai. Ia tidak menangis. Ia tidak mengeluh. Ia merencanakan. Ia membayangkan toko kecil yang ingin ia buka. Toko buku dan alat tulis. Tempat di mana anak-anak bisa membeli buku dengan harga murah. Tempat di mana ia bisa menggunakan tangannya untuk menulis, bukan untuk melayani.

Ia membayangkan Supri. Supri yang akan sekolah. Supri yang akan menjadi pintar. Supri yang tidak akan pernah mengalami apa yang ia alami. Supri yang akan memiliki pilihan. Supri yang tidak akan pernah menjadi istri anak-anak.

Itu yang membuat ia tetap bertahan. Itu yang membuat ia tetap menulis goresan di dinding setiap hari. Itu yang membuat ia tidak menyerah.


VI. Ketika Tangan Tak Bisa Diam Kekerasan yang Halal

Suatu sore, Karyono pulang lebih awal. Wajahnya merah. Bau minuman keras. Anggur, mungkin. Atau tuak. Atau apa pun yang bisa dibeli dengan uang sisa dari gaji yang tidak pernah cukup.

Sunarti sedang memasak air di dapur. Hanya air. Tidak ada yang bisa dimasak. Tidak ada beras, tidak ada sayur, tidak ada apa-apa. Air mendidih di panci tua yang sudah hitam karena jelaga. Uap mengepul, memenuhi ruangan sempit itu.

Karyono menarik tangannya. Kasar. Tangannya yang besar menggenggam pergelangan tangannya yang kecil. Terlalu keras. Terlalu kencang. Sunarti merasakan tulang-tulang di pergelangannya bergesekan. Sakit. Tapi ia tidak berteriak. Tidak ada gunanya.

"Tidak," kata Sunarti.

Untuk pertama kali dalam tiga bulan. Kata itu keluar begitu saja, dari mulut yang selama ini hanya diam. Kata yang tidak pernah bisa ia ucapkan ketika ia masih di rumah orang tuanya. Kata yang tidak pernah diajarkan padanya bahwa ia berhak mengucapkannya.

Karyono menoleh. Matanya merah. Bukan karena minuman. Tapi karena amarah. Amarah bahwa barang yang ia beli berani menolak. Amarah bahwa seorang istri berani mengatakan "tidak" pada suaminya.

Ia memukul. Satu kali.

Tinju itu jatuh di pipi kiri. Sunarti merasakan benturan yang membuat kepalanya tersentak ke samping. Ada bunyi di telinganya, seperti sirine yang jauh, seperti suara dari dalam air. Rasa panas menyebar dari pipi ke seluruh wajah.

Dua kali.

Pukulan kedua mengenai perut. Udara di paru-parunya terdorong keluar. Ia tidak bisa bernapas. Tidak bisa berteriak. Ia membungkuk, tangannya memegang perut yang terasa seperti diremas-remas. Muntah. Ia muntah di lantai. Air yang ia minum tadi pagi. Tidak ada makanan. Hanya air.

Tiga kali.

Ia jatuh. Kepalanya membentur lantai semen. Dunia berputar. Lampu di langit-langit berputar. Wajah Karyono berputar. Semua berputar, lalu gelap.

Ketika sadar, hari sudah gelap.

Karyono tidur di sampingnya, mendengkur. Napasnya berat, bau alkohol masih keluar dari mulutnya. Tubuh Sunarti sakit semua. Di pipi, bengkak. Ia bisa merasakannya dengan ujung jari sesuatu yang keras di bawah kulit yang panas. Di bibir, luka darah sudah mengering, membentuk kerak hitam yang gatal. Di perut, setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk. Ia tidak tahu apakah ada tulang yang patah. Tidak penting.

Perlahan, ia bangun. Sendi-sendinya berderit. Karyono tidak bergerak. Sunarti berjalan ke dapur. Merangkak. Tidak bisa berdiri. Kakinya lemas, seperti bukan miliknya. Ia merangkak melewati lantai semen yang dingin, melewati genangan air bekas panci yang tumpah, melewati muntahnya yang belum dibersihkan.

Ia melihat ke luar jendela. Tidak ada siapa pun. Halaman belakang kosong, hanya pohon pisang yang daunnya sudah kering. Tidak ada tetangga yang lewat. Tidak ada yang akan mendengar. Tidak ada yang akan peduli. Masyarakat tidak melindungi. Hukum tidak melindungi. Ini adalah rumah tangga. Ini adalah urusan suami istri. Ini adalah hal yang wajar. Ini adalah hal yang harus ia terima.

Ia membuka pintu belakang. Di balik semak, ada jalan kecil setapak. Jalan yang tidak pernah ia lewati. Jalan yang mungkin membawa ke suatu tempat. Entah ke mana.

Sunarti berjalan.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Ia tidak akan menjadi seperti ibunya. Korban yang diam. Perempuan yang tidak punya pilihan. Ia akan keluar. Ia akan belajar. Ia akan mandiri.


VII. Pasar Malam Bertemu dengan Dunia yang Tidak Lebih Baik

Pasar malam masih ramai. Lampu-lampu minyak di lapak-lapak. Bau sate, bau gorengan, bau minyak tanah. Sunarti berjalan tanpa arah. Bajunya kusut. Wajahnya lebam. Beberapa orang menatap, tapi tidak ada yang bertanya. Di pasar, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang punya waktu untuk anak kecil yang wajahnya lebam. Tidak ada yang peduli.

Di sudut pasar, dekat los ikan yang sudah tutup, seorang perempuan paruh baya duduk di bangku panjang. Baju bagus, bersih. Perhiasan emas di leher. Rambut disanggul rapi. Dari penampilannya, ia bukan orang miskin. Tapi ia duduk di sini, di pasar malam, sendirian.

Matanya menangkap Sunarti.

"Nak, sini."

Sunarti mendekat. Ia tidak punya alasan untuk takut lagi. Tidak ada yang lebih menakutkan dari yang sudah ia alami. Perempuan itu memandanginya dari dekat. Melihat bengkak di wajah, melihat lebam di lengan, melihat mata yang tidak lagi kosong tapi menyala menyala dengan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Nama siapa?"

"Sunarti."

"Kau lari dari rumah?"

Sunarti mengangguk. "Suami."

Perempuan itu menghela napas panjang. Matanya tidak berubah. Tidak iba. Tidak terkejut. Hanya tahu. Seperti sudah melihat hal yang sama ratusan kali.

"Sudah lapar?"

Sunarti tidak menjawab. Tapi perutnya menjawab dengan suara keras. Perempuan itu tersenyum. Bukan senyum hangat. Bukan senyum yang membuat orang merasa di rumah. Senyum orang yang sudah melihat banyak hal. Senyum yang tahu bahwa dunia tidak selalu baik. Tapi senyum yang juga tahu bahwa ada jalan keluar.

"Ikut saya. Saya Mamik. Saya punya tempat. Banyak gadis di sana. Kau bisa kerja. Kau bisa belajar. Kau bisa mandiri."

Sunarti memandang Mamik. Perempuan ini menawarkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan: pilihan. Bukan pernikahan. Bukan jual beli. Tapi kerja. Belajar. Mandiri.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sunarti.

"Bekerja. Belajar. Menabung. Suatu hari, kau bisa keluar. Buka usahamu sendiri. Jadi perempuan yang mandiri. Tidak perlu bergantung pada siapa pun."

Sunarti memikirkan Supri. Adiknya yang masih kecil, yang tidak tahu apa-apa, yang mungkin sedang menangis sekarang, yang mungkin sedang mencari kakaknya. Ia akan mengirim uang. Ia akan belajar. Ia akan mandiri. Dan suatu hari, ia akan menjemput Supri.

"Aku mau," katanya.

Mamik mengangguk. Ia berdiri, menggandeng tangan Sunarti, dan berjalan ke arah gang gelap di belakang pasar.

Sunarti tidak menoleh ke belakang. Tidak ada yang ditinggalkan. Yang ada hanya Supri. Dan Supri akan mengerti suatu hari nanti. Bahwa kakaknya pergi bukan karena tidak sayang. Tapi karena sayang. Karena ia ingin memberikan Supri sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pilihan.


VIII. Pelajaran dari Sunarti Untuk Supri, Untuk yang Akan Datang

Sunarti berjalan di samping Mamik, melewati gang-gang gelap menuju tempat yang tidak ia kenal. Tapi ia tidak takut. Ia sudah belajar bahwa ketakutan tidak mengubah apa-apa. Yang mengubah adalah tindakan. Belajar. Bekerja. Menabung. Mandiri.

Ia akan belajar. Ia akan membaca buku. Ia akan menulis. Ia akan menghitung. Ia akan memiliki keterampilan yang tidak bisa diambil siapa pun. Ia akan menjadi perempuan yang mandiri. Ia akan menjadi contoh bagi Supri. Ia akan menjadi contoh bagi perempuan-perempuan lain yang tidak punya pilihan.

Ia akan mengingat semua yang telah ia alami. Bukan untuk diratapi. Tapi untuk dipelajari. Untuk dijadikan pelajaran bahwa pernikahan dini bukan solusi. Bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tidak bisa membeli keamanan, tidak bisa membeli masa depan. Bahwa perempuan bukan barang yang bisa dijual dan dibeli. Bahwa tubuhnya adalah miliknya, bukan milik suami, bukan milik orang tua, bukan milik siapa pun.

Ia akan mengingat bagaimana rasanya jatuh ke lantai semen yang dingin, dengan kepala berdenyut dan bibir berdarah, sementara tidak ada yang datang membantu. Ia akan mengingat bagaimana rasanya tidak bisa mengatakan "tidak". Ia akan mengingat bagaimana rasanya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dan ia akan mengajarkan pada Supri: jangan biarkan siapa pun melakukan itu padamu. Belajarlah. Jadilah mandiri. Punya uang sendiri. Punya keterampilan sendiri. Jangan tergantung pada siapa pun. Karena ketika kau tergantung, kau akan kehilangan segalanya.

Ia akan mengingat tetangga-tetangga yang hanya melihat lalu berpaling. Ia akan mengingat penghulu yang lebih peduli pada uang daripada pada kebenaran. Ia akan mengingat bahwa tidak ada yang datang membantu ketika ia jatuh ke lantai semen yang dingin. Dan ia akan mengajarkan pada Supri: jangan tunggu siapa pun menyelamatkanmu. Selamatkan dirimu sendiri. Belajarlah. Jadilah kuat. Jadilah mandiri.

Tapi untuk sekarang, yang bisa ia lakukan adalah menyelamatkan dirinya sendiri. Belajar. Bekerja. Menabung. Mandiri. Dan suatu hari, ketika ia sudah kuat, ia akan kembali. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai pemenang. Sebagai perempuan yang tidak perlu bergantung pada siapa pun. Sebagai kakak yang pulang untuk menjemput adiknya.


Di pinggir jalan, di bawah cahaya bulan yang redup, kupu-kupu telah meletakkan telurnya di bawah daun ilalang. Rapuh. Tersembunyi. Tidak tahu akan menetas atau dimakan lebih dulu.

Tapi telur-telur itu akan menetas. Mereka akan menjadi ulat. Mereka akan makan, tumbuh, berganti kulit. Mereka akan menjadi kuat. Dan suatu hari, jika mereka beruntung, mereka akan menjadi kupu-kupu. Mereka akan terbang. Mereka akan pulang.

Seperti Sunarti. Suatu hari.


[Bersambung ke Bab 4: Ladang Harapan yang Musnah]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

SINOPSIS